26 Oktober 2013

Kisah Perempuan dan WeChat (17)


Akhirnya aku menginstall kembali aplikasi WeChat ke smartphoneku. Berharap aku akan menemukan seseorang yang menjadi jodohku di sana. Setidaknya aku bisa mengenal banyak lelaki yang bisa aku temui dan mengobati sedikit luka hati yang masih mendera. Aku sendirian. Kesepian dan butuh seseorang yang bisa aku ajak bicara secara langsung. Aku tak ingin tenggelam di dalam semua kepatahhatian itu lalu lemas di dalamnya. Aku ingin menjadi perempuan yang lebih kuat.

Beberapa yang mengajak chat di WeChat memang menyebalkan. Banyak sekali yang beranggapan aku bisa diajak melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Aku menarik napas panjang dan merasa bahwa WeChat ini akan menjadi gerbang lelaki selanjutnya yang akan mematahkan hatiku. Membuatku galau. Kemudian hidupku menjadi remuk redam. Tapi aku sudah tak peduli. Aku rasa aku hampir gila. Aku membenci dan mengasari semua yang ada di sana. Berharap emosiku yang tertahan bisa tersalurkan. Emosi yang aku tahan sejak patah hati berbulan-bulan yang lalu.

Penolakan keluarga besar lelaki yang tak kunjung melamarku itu membuatku menjadi buas. Aku menjadi semakin tak peduli lagi. Mau siapa saja yang menyapaku, sifat burukku semakin menjadi. Aku berharap bisa membalas semua rasa sakit hatiku dengan membalas dengan jutek semua orang yang ada di sana. Toh mereka orang-orang yang tak pernah aku kenal. Bahkan kalau perlu aku akan membuat mereka semua jatuh cinta lalu membuatnya patah hati. Hancur berkeping sehingga mereka juga merasakan sakit yang pernah aku rasakan. Lalu aku bisa tertawa di atas penderitaan mereka.

Suatu hari lelaki itu tiba-tiba datang. Lelaki yang kemudian mengubah segala pemikiranku tentang cinta dan sakit hati yang aku rasa. Dia yang tiba-tiba menyapaku dan aku masih saja dengan rasa malas membalas pesannya. Bahkan membalas dengan dingin semua komentarnya di momentku. Aku masih tak peduli. Sampai akhirnya suatu malam dia membuatku penasaran dengan koran yang dia baca dan memuat status di akun twitterku. Padahal selama ini aku tak pernah dimintai oleh koran mana pun untuk mengutip twit tersebut dan memajangnya di koran.

Aku mendatangi kantornya untuk mengambil koran tersebut. Membaca langsung twitku yang terpajang di sana. Aku penasaran. Benar-benar penasaran dengan siapa yang memuatnya di sana. Lalu aku melihat wajah hangat itu. Wajah lelaki yang tiba-tiba membuat hatiku yang sempat dingin terhadap lelaki, sempat menjadi mahluk yang ingin menyakiti semua lelaki yang hadir di dalam hidupku, mencair. Cair lalu berubah menjadi hangat. Aku tak bisa memasang topeng jahat itu lagi. Aku luluh melihat wajah yang menawarkan kehangatan hingga menembus jantungku yang paling dalam.


Sesaat aku merasa ada yang berbeda dengannya. Sejenak aku merasakan hawa panas yang mengalir di dalam tubuhku hingga membuatku tersenyum sepanjang waktu. Aku yang sebelumnya menjutekinya, bahkan lupa pernah menjutekinya sekarang menjadi orang yang sangat hangat padanya. Bahkan saat melihat senyumnya, selamanya aku ingin melihat senyum itu. Tak ada senyuman lain lagi yang ingin aku lihat. Dia yang sederhana dan terlihat tak percaya diri dengan dirinya sendiri meruntuhkan tembok pertahananku untuk tidak jatuh cinta. Perlahan tembok itu runtuh di hadapannya. Aku tersenyum lagi dengan tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dia yang berhasil membuatku menjadi diriku yang dulu. Bagian diriku yang sempat terlelap di dalam hawa yang sangat dingin. Sekarang terbangun dari mimpi panjangnya tentang cinta dan taman bunga.

@honeylizious

Followers