26 Oktober 2013

Kisah Perempuan dan Patah Hatinya (16)


Aku menatap layar komputer yang sekarang menjadi teman terbaikku setiap hari. Tercenung lama dan bingung. Bagaimana dengan targetku selanjutnya. Banyak target tercapai tapi hingga hari ini ada target yang masih mengambang. Aku ingin menikah. Menjadi seorang istri. Lalu orang yang sempat aku pilih menjadi orang yang paling menyebalkan. Aku lelah. Bertanya padanya setiap hari. Menanyakan kapan dia akan menikahiku. Usiaku sudah mendekati angka 27 waktu itu dan dia sendiri sudah mendekati 38. Sama-sama usia yang terlalu matang untuk menunggu.

Lalu dia hanya diam kemudian tersenyum. Mengiyakan tidak. Menidakkan juga tidak. Tapi itu menyebalkan. Sampai kapan aku akan sendirian terus. Aku lelah, ingin rasanya mulai menghabiskan waktu bersama seseorang yang menjadi imamku seumur hidup nantinya. Aku ingin marah tapi lidahku kelu. Dia terlalu lembut untuk aku semprot dengan semua rasa kecewaku. Setahun lebih bersama dan dia masih tak bisa memutuskan untuk menjadi suamiku atau tidak? Kamu gila!

Namun itu kemudian yang aku sebut menjadi kenyataan. Sepupunya terlanjur menjelek-jelekkanku di depan keluarga besarnya. Mereka murka dan tak mau menerima keberadaanku sebagai bagian dari keluarga mereka. Itu yang paling menyesakkan. Apa salahku sehingga aku dianggap tidak layak untuk menjadi istri anak lelaki ibu itu yang hingga usianya hampir mendekati kepala 40 tetap saja tidak diterima? Aku tidak akan menunggu lebih lama untuk mendengar kata-kata bahwa dia tak akan pernah menikahiku.

Aku perempuan dan aku butuh kepastian. Dia tak bisa terus memintaku menunggu tanpa kepastian. Aku lelah. Lelah hati dan jiwa. Dia lelaki dan mudah saja baginya untuk menolak atau melamarku. Itu yang aku tak suka. Dia tak seharusnya membiarkan aku menunggu. Kalau memang tidak mau katakan saja. Kalau mau silakan segera lamar aku kepada orang tuaku. Toh orang tuaku tak rewel mengenai calon menantunya. Cukup bukan PNS, bukan polisi, dan bisa mengajariku tentang agama.

Kekurangan yang ada akan selalu diterima. Tetapi malah sebaliknya keluarganya yang terlalu rewel untuk menerima perempuan semuda itu menjadi menantunya. Aku patah semangat. Ketika pada akhirnya dia mengatakan dia tak pernah bisa memberikan kepastian apa-apa. Aku mundur dengan hati terluka. Tetapi dengan sebuah keyakinan bahwa ada bahagia lain yang menantiku di sana. Di hati orang lain. Orang yang mau menerima segala yang aku punya dan tidak. Tanpa banyak syarat untuk menjadikanku bagian dari keluarga mereka.

Lagi-lagi layar komputer itu terdiam di depanku. Ingin rasanya aku melemparkan semuanya ke layar komputer itu menuntaskan segala amarahku. Tetapi saat mengingat kembali bahwa itu akan mubazir saja, aku menahan amarahku dan memilih untuk menulis lagi dan terus menulis. Menyalurkan semua energi buruk yang kumiliki.

Semudah itu mematahkan hatiku tapi aku akan dengan mudah merekatkannya kembali. Aku akhirnya menyerah lalu berbaring dan menatap langit-langit kamarku. Kemudian memejamkan mata. Mencoba mengingat kembali hal-hal yang pernah menjadi hal yang aku sebut dengan kenangan yang menyenangkan. Entah sampai berapa lama aku hanya terjebak pada target yang tak kunjung aku dapatkan. Aku hanya ingin menikah. Menjadi seorang istri. Memiliki keturunan beberapa anak yang lucu.


Banyak hal yang merusak semua yang aku targetkan sebelumnya. Aku hampir kehabisan waktu dan aku sudah tak peduli lagi aku hanya ingin menikah dan akan menerima siapa pun yang menyiapkan cincin untukku dan melamarku di depan orang tuaku nantinya. Itu yang aku sematkan di dalam kepalaku.

@honeylizious

Followers