Langsung ke konten utama

Kisah Makan Malam Pertama (10)



Selama film berlangsung dia tak menjaga jarak denganku. Dia sesekali berbisik di telingaku jika ada yang ingin dia katakan dan kami memang menyukai film R.I.P.D ini. Sesekali dia menanyakan apakah bau keringatnya menggangguku. Padahal sebenarnya aku lebih khawatir bau keringatku yang mengganggunya. Belum lagi aku belum ganti baju sejak pagi tadi.

Kami tertawa bersama. Sesekali tegang saat menonton film tersebut. Aku senang bisa menonton film bersamanya. Entah dia sendiri. Aku bingung melihat ekspresinya. Setiap hari dia selalu terlihat selalu tertawa dan senang. Seakan-akan tak pernah ada masalah dalam kehidupannya yang tentu saja sangat mustahil.

Lapar...
Wajahnya yang manja membuatku melayang. Baru kali ini aku melihat ekspresi lain lagi darinya. Untung saja dia tak bergelayut di lenganku. Kalau tidak dia akan mendengar debaran jantungku yang tentu saja akan dia sadari betapa hebatnya. Aku terus saja merasakan jantungku berdetak tak karuan.

Mau makan di mana?”

Dekat-dekat sini saja, pengen bakso Satelite. Di dekat Mitra Mart simpang empat Jalan M. Sohor atau yang lebih dikenali orang sebagai Jalan Sumatera memang ada sebuah rumah makan yang menjual mie tiaw. Aku tak tahu di sana ada bakso. Sebelumnya memang sama sekali belum pernah masuk warung makan tersebut. Aku mengiyakan.

Sebelum berangkat ke warung kami singgah ke Radio Volare, kebetulan dia memang tinggal di sana. Aku menyimpan motorku dan memboncengnya dengan sepeda motornya. Beberapa menit kami sudah tiba di warung yang dia inginkan. Dia menanggalkan helm dan masuk lebih dulu dariku. Aku mengikuti langkahnya di belakang. Membiarkan dia yang memilih kursi untuk kami. Aku ikut duduk di depannya.

Seorang pelayan menyapa kami dan dia memesan bakso sesuai yang dia inginkan. Aku sendiri butuh nasi. Memang sedang lapar berat. Saat pesanan kami datang, obrolan kami yang tadinya seru membicarakan film yang baru kami tonton mau tak mau terhenti. Detik berikutnya dia mulai menyuapkan bakso yang kuahnya masih beruap itu ke dalam mulutnya.

Mau coba?


Dia, perempuan beralis rapi itu mengulurkan sendoknya yang berisi kuah dan bakso. Aku agak segan membuka mulutku. Tetapi dia dengan santai menyuapiku. Aku semakin berdebar.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan