11 Oktober 2013

Kisah Makan Malam Pertama (10)



Selama film berlangsung dia tak menjaga jarak denganku. Dia sesekali berbisik di telingaku jika ada yang ingin dia katakan dan kami memang menyukai film R.I.P.D ini. Sesekali dia menanyakan apakah bau keringatnya menggangguku. Padahal sebenarnya aku lebih khawatir bau keringatku yang mengganggunya. Belum lagi aku belum ganti baju sejak pagi tadi.

Kami tertawa bersama. Sesekali tegang saat menonton film tersebut. Aku senang bisa menonton film bersamanya. Entah dia sendiri. Aku bingung melihat ekspresinya. Setiap hari dia selalu terlihat selalu tertawa dan senang. Seakan-akan tak pernah ada masalah dalam kehidupannya yang tentu saja sangat mustahil.

Lapar...
Wajahnya yang manja membuatku melayang. Baru kali ini aku melihat ekspresi lain lagi darinya. Untung saja dia tak bergelayut di lenganku. Kalau tidak dia akan mendengar debaran jantungku yang tentu saja akan dia sadari betapa hebatnya. Aku terus saja merasakan jantungku berdetak tak karuan.

Mau makan di mana?”

Dekat-dekat sini saja, pengen bakso Satelite. Di dekat Mitra Mart simpang empat Jalan M. Sohor atau yang lebih dikenali orang sebagai Jalan Sumatera memang ada sebuah rumah makan yang menjual mie tiaw. Aku tak tahu di sana ada bakso. Sebelumnya memang sama sekali belum pernah masuk warung makan tersebut. Aku mengiyakan.

Sebelum berangkat ke warung kami singgah ke Radio Volare, kebetulan dia memang tinggal di sana. Aku menyimpan motorku dan memboncengnya dengan sepeda motornya. Beberapa menit kami sudah tiba di warung yang dia inginkan. Dia menanggalkan helm dan masuk lebih dulu dariku. Aku mengikuti langkahnya di belakang. Membiarkan dia yang memilih kursi untuk kami. Aku ikut duduk di depannya.

Seorang pelayan menyapa kami dan dia memesan bakso sesuai yang dia inginkan. Aku sendiri butuh nasi. Memang sedang lapar berat. Saat pesanan kami datang, obrolan kami yang tadinya seru membicarakan film yang baru kami tonton mau tak mau terhenti. Detik berikutnya dia mulai menyuapkan bakso yang kuahnya masih beruap itu ke dalam mulutnya.

Mau coba?


Dia, perempuan beralis rapi itu mengulurkan sendoknya yang berisi kuah dan bakso. Aku agak segan membuka mulutku. Tetapi dia dengan santai menyuapiku. Aku semakin berdebar.

@honeylizious

Followers