13 Oktober 2013

Kisah Lelaki di Rumah Makan (11)



Pertama kalinya aku benar-benar tenggelam dalam bening mata seorang perempuan. Perempuan yang selalu tersenyum ketika bercerita. Siapa laki-laki yang bisa menolak perempuan seperti ini? Aku baru tiga kali bertemu dengannya tetapi rasa untuk memilikinya sudah menggebu-gebu. Tak ingin sehari pun aku lewati tanpa dirinya. Ingin selalu berada di dekatnya. Kalau bisa hingga tutup usia.

Enak?

Enak kok...”

Aku menjawab setenang mungkin padahal debaran jantungku seakan mau meloncat dari dada. Dia tersenyum dan melanjutnya makannya hingga habis. Sesekali garpunya mampir ke piringku untuk mengambil tempe dan tahu. Ternyata dia suka makanan dari kacang kedelai.

Setelah makan dia mulai bercerita lagi tentang hatinya yang pernah berkeping. Karena penolakan dari keluarga laki-laki yang dia cintai. Dia mengatakan dengan tenang tetapi aku melihat matanya sedikit berkaca-kaca, bagaimana dirinya merasa sangat dipandang rendah. Dia tak bisa berbuat banyak untuk mengubah kenyataan betapa hidupnya penuh oleh masalah di dalam keluarga. Masalah yang membuatnya memutuskan keluar dari rumahnya semenjak duduk di bangku SMA. Meksipun dia tetap berkomunikasi dengan orang tuanya tetapi dia selalu berusaha untuk berada jauh dari keluarganya di kampung.

Kakaknya yang membuat kehidupanya menjadi sedemikian berat. Di balik alis indahnya tersimpan banyak sekali cerita yang membuat aku merasa ingin melindunginya selamanya. Ingin menjadi pendamping yang akan setia mendengar cerita dan menghapus air matanya. Malam itu dia juga mengatakan bahwa pada akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan laki-laki yang dia cintai karena laki-laki itu tak kunjung memberi kepastian tentang hubungan mereka.

Apakah mereka akan menikah atau tidak sama sekali. Dia seorang perempuan aku mengerti. Perempuan tak bisa menunggu terlalu tua untuk mendapatkan lamaran. Dia pasti ingin memiliki keturunan dan memang sebaiknya itu terjadi pada usia muda. Sekarang usianya sendiri sudah seharusnya menikah. Walaupun tak ada standar wajib menikah bagi perempuan. Tapi kalau dia memang siap untuk membinanya semestinya dia disegerakan untuk dipinang. Aku mau menjadi orang yang mempersuntingnya jika memang itu memungkinkan untuk diterima.


Aku menelan air liurku sendiri. Ingin menyatakan perasaanku tapi aku sendiri takut dan ragu. Dia sepertinya akan menolakku seperti beberapa lelaki yang dia putuskan untuk ditolak karena tak memenuhi kriteria yang dia cari. Wajar sih perempuan memilih pendamping hidupnya. Karena suami nantinya adalah orang yang akan menjadi pemimpin di dalam keluarga. Aku terdiam.

@honeylizious

Followers