Langsung ke konten utama

Kisah Lelaki di Rumah Makan (11)



Pertama kalinya aku benar-benar tenggelam dalam bening mata seorang perempuan. Perempuan yang selalu tersenyum ketika bercerita. Siapa laki-laki yang bisa menolak perempuan seperti ini? Aku baru tiga kali bertemu dengannya tetapi rasa untuk memilikinya sudah menggebu-gebu. Tak ingin sehari pun aku lewati tanpa dirinya. Ingin selalu berada di dekatnya. Kalau bisa hingga tutup usia.

Enak?

Enak kok...”

Aku menjawab setenang mungkin padahal debaran jantungku seakan mau meloncat dari dada. Dia tersenyum dan melanjutnya makannya hingga habis. Sesekali garpunya mampir ke piringku untuk mengambil tempe dan tahu. Ternyata dia suka makanan dari kacang kedelai.

Setelah makan dia mulai bercerita lagi tentang hatinya yang pernah berkeping. Karena penolakan dari keluarga laki-laki yang dia cintai. Dia mengatakan dengan tenang tetapi aku melihat matanya sedikit berkaca-kaca, bagaimana dirinya merasa sangat dipandang rendah. Dia tak bisa berbuat banyak untuk mengubah kenyataan betapa hidupnya penuh oleh masalah di dalam keluarga. Masalah yang membuatnya memutuskan keluar dari rumahnya semenjak duduk di bangku SMA. Meksipun dia tetap berkomunikasi dengan orang tuanya tetapi dia selalu berusaha untuk berada jauh dari keluarganya di kampung.

Kakaknya yang membuat kehidupanya menjadi sedemikian berat. Di balik alis indahnya tersimpan banyak sekali cerita yang membuat aku merasa ingin melindunginya selamanya. Ingin menjadi pendamping yang akan setia mendengar cerita dan menghapus air matanya. Malam itu dia juga mengatakan bahwa pada akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan laki-laki yang dia cintai karena laki-laki itu tak kunjung memberi kepastian tentang hubungan mereka.

Apakah mereka akan menikah atau tidak sama sekali. Dia seorang perempuan aku mengerti. Perempuan tak bisa menunggu terlalu tua untuk mendapatkan lamaran. Dia pasti ingin memiliki keturunan dan memang sebaiknya itu terjadi pada usia muda. Sekarang usianya sendiri sudah seharusnya menikah. Walaupun tak ada standar wajib menikah bagi perempuan. Tapi kalau dia memang siap untuk membinanya semestinya dia disegerakan untuk dipinang. Aku mau menjadi orang yang mempersuntingnya jika memang itu memungkinkan untuk diterima.


Aku menelan air liurku sendiri. Ingin menyatakan perasaanku tapi aku sendiri takut dan ragu. Dia sepertinya akan menolakku seperti beberapa lelaki yang dia putuskan untuk ditolak karena tak memenuhi kriteria yang dia cari. Wajar sih perempuan memilih pendamping hidupnya. Karena suami nantinya adalah orang yang akan menjadi pemimpin di dalam keluarga. Aku terdiam.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana.
Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.
Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukannya akan disebut …

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha...


Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrsatu ya! 1. …

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan. 
Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya.
Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Termas…