21 Oktober 2013

Kisah Lelaki dan Selimutnya (13)


Kamu serius dengan ucapanmu?”

Iya.”
Jawaban singkatnya itu terlalu mudah untukku. Rasanya tidak mungkin ini terjadi. Apakah ini hanya mimpi? Mimpi yang terlalu nyata untuk dikatakan sebagai mimpi.

Tapi....

Tapi apa?”

No ring no wedding.”

Kamu mau cincin?”

Tentu saja, sebagai bentuk kalau kamu memang serius ingin melamarku.

Tidak sekarang.”

Kalau tidak, batal aja deh.”

Dia mempermainkanku.

Kalau cincin perak mau?”

Nggak usah peraklah, emas dong.”

Cincin emas kan buat akad nikah?”

Ya sudah gelang saja.”

Gelang apa?”

Apa aja boleh, besok belikan di Jalan Pattimura.

Aku rasanya tak percaya sedang terlibat obrolan seperti ini dengan gadis pujaan hatiku. Aku berusaha menguasai diri dan mengganti topik pembicaraan.
Oke deh... kamu masih belum bisa tidur?”

Masih dingin.

Memangnya selimut kamu di mana?”

Sedang dilondry.

Mau aku antar selimutku?”

Boleh.

Lagi-lagi jawaban singkatnya yang cepat itu membuatku tak berkutik. Perempuan ini benar-benar menjatuhkanku dengan telak dan aku tak mampu mengelak untuk tidak jatuh cinta padanya.

Aku akan mengantarnya. Tunggu ya.”

Oke.


Pukul 3 pagi lewat sedikit. Aku masih merasakan rintik-rintik hujan. Tapi aku tak peduli. Aku ingin melihat wajahnya sekali lagi dan meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Untuk pertama kalinya ada perempuan yang menerima lamaranku. Aku ingin melihat alisnya yang indah itu sebelum aku tidur. Perempuan itu berjalan terhuyung ke depan pagar gedung kantornya. Dia menerima tas berisi selimut yang aku berikan lalu kembali masuk ke pintu kiri gedung tersebut. Aku lalu pulang dan yakin memang tak sedang bermimpi.

Related Posts

Kisah Lelaki dan Selimutnya (13)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.