Langsung ke konten utama

Kisah Lelaki dan Perempuan di Bioskop (9)





Hari ini aku hanya bisa sesekali menyapanya di WeChat. Dia sepertinya sibuk karena ada kopdar dengan Mozillians. Pastinya banyak sekali orang yang akan dia temui di sana. Terutama lawan jenis yang barangkali sama denganku. Memiliki perasaan khusus. Aku sedikit takut dia menjadi milik orang lain. Tapi menembaknya sekarang rasanya juga kurang pantas. Apa katanya kalau mendengar ungkapan isi hatiku? Jangan-jangan dia akan menertawakanku. Matanya yang cokelat akan membesar? Alisnya terangkat? Aku tak tahu. Benar-benar tak tahu.

Keberanianku sedikit menciut memikirkan itu. Hingga akhirnya aku melihat namanya terpampang di layar ponselku. Dia menelponku? Ada apa? Buru-buru kuangkat. Tak ingin terjadi sesuatu padanya.

"Putra sudah pulang?"

Jam kerjaku memang sudah berakhir dan aku memang sudah ingin segera pulang. Mandi. Bau keringat yang menempel di kaos yang kukenakan membuatku gerah. Lagipula aku berniat mengajaknya jalan lagi sehabis berganti pakaian. Menjemputnya pukul 8. Itu niatku sebelumnya. Sebelum dia menelponku.

"Sudah mau pulang sih, tapi masih di kantor."

"Nonton yuk, aku punya dua tiket gratis nih, nanti aku jelaskan. Filmnya 15 menit lagi diputar. Aku fi Vigor. Jemput ke sini aja. Mau ya?"

Perempuan ini membuatku gemas. Bagaimana mungkin aku menolaknya? Aku memang ingin bertemu lagi dengannya. Tapi aku bingung menyampaikannya. Sebab aku takut dia tak terkesan dengan kencan tadi malam di warung kopi.

"Boleh. Aku segera ke sana."

"Aku di Vigor."

Sekali lagi dia menekankan lokasinya sekarang.

"Iya, aku ke sana. Tunggu sebentar ya."

Telpon itu terputus. Aku menyambar helm dan kunci motor. Segera kuhidupkan sepeda motorku dan menyusul tempat dia berada sekarang. Tempat kerjaku memang dekat sekali dengan mall. Tak butuh 5 menit untuk tiba di depan Vigor. Sebuah tempat makan dan juga olah raga yang tepat berada di luar pintu parkiran mall.

Aku menemukannya dalam waktu singkat. Dia segera naik ke boncengan sepeda motorku. Kami pun masuk ke kawasan parkiran mall setelah mendapatkan tiket parkir. Langkahnya terburu-buru menaiki tangga belakang mall. Memang lebih cepat tiba ke lantai atas melalui pintu belakang. Apalagi bioskop berada di lantai berikutnya.

Dia tetap terlihat ceria meskipun beberapa kali aku mendapati dia mengendus bau badannya sendiri. Sepertinya dia juga belum mandi sepertiku.

"Kita akan nonton film apa?"

"Aku juga nggak tahu nih kata adik sepupuku, R.I.P.D. Tapi aku nggak tahu film apa. Semoga aja bagus filmnya."

"Kok bisa dapat tiketnya?"

"Ini tiket sepupuku, dia tak bisa nonton tapi sudah menukarkan poin Telkomselnya untuk tiket film ini. Ada dua tiket."

"Untung aku belum pulang. Tadi aku hampir pulang lo..."

"Untung saja, kalau tidak dua tiket ini akan hangus, soalnya sepeda motorku nggak ada platnya.  Nggak bisa masuk mall."

Aku tersenyum. Dia membalas senyumku dengan senyuman manisnya.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan