11 Oktober 2013

Kisah Lelaki dan Perempuan Berdua (8)



Dia tersenyum menerima nasi bungkus yang aku berikan. Tidak lama dia menemuiku di depan pagar gedung studionya. Dia harus segera bersiaran kembali karena memang tugasnya masih belum selesai. Hatiku berdesir, menghangat kembali bisa memberikan nasi untuknya. Sesaat setelah dia masuk aku mendengarkan kembali suaranya mengudara. Suaranya yang lembut dan manis itu.

Aku ingin bertemu lagi dengannya. Hanya berdua. Bercerita banyak tentang diriku dan ingin dia bercerita tentang dirinya. Diri yang mungkin belum kuketahui. Dirinya yang berbeda dari yang kukenal dari WeChat. Kalau aku mengajaknya, apakah dia mau kembali jalan denganku? Berdua saja?

Kutepis segala ragu. Aku sudah terbiasa menghadapi penolakan perempuan. Bahkan perempuan-perempuan yang awalnya menerima cintaku juga tak ragu untuk meninggalkanku. Satu penolakan lagi dari perempuan yang membuatku tak tenang tentunya bukan sesuatu yang menyakitkan. Semua rasa sakit yang pernah aku rasakan tak apa bertambah lagi. Asalkan aku yakin perempuan yang ini memiliki perasaan yang sama atau tidak denganku.

Tak ada ragu saat aku menuliskan ajakanku di WeChat. Tolak saja pun tak mengapa aku sudah siap dan ikhlas dengan segala kemungkinan. Sebelum aku jatuh terlalu dalam aku ingin berjuang sampai penghabisan dan mendapatkan kepastian. Aku seakan tak percaya saat dia menjawab iya. Bahkan dia dengan santainya mengatakan aku boleh menjemputnya dan memboncengnya di sepeda motorku karena dia malas membawa sepeda motor sendiri.

Mendapat penerimaan untuk kencan saja rasanya sudah menyenangkan. Apalagi bisa memboncengnya di belakang. Berada semakin dekat dengannya.

Pulang kerja aku menanti di depan pagar gedung studionya. Dia keluar dengan langkah tergesa dan tersenyum tipis. Aku melihat matanya yang berwarna cokelat itu membesar membuatku tak mampu menolak pesonanya malam itu. Segera dia naik ke boncengan sepeda motorku dan aku pun melaju di jalanan Kota Pontianak.

Membawanya ke sebuah warung kopi yang menjual pisang goreng srikaya. Sebutlah aku laki-laki paling tak romantis di dunia ini karena mengajak perempuan yang sedang membuatnya mabuk kepayang ke warung kopi untuk kencan.

Namun perempuan itu tak terlihat mempermasalahkan soal tempat yang aku pilih ini. Setelah pesanan datang. Dua kopi dan dua piring pidang goreng srikaya dan susu kami terlibat dalam pembicaraan yang seru. Saling menceritakan tentang kehidupan masing-masing.

Sesaat aku rasanya sudah mengenalnya begitu lama dari cerita-ceritanya. Bagaimana dia tak kunjung dinikahi laki-laki yang dia pacari setahun dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan snng pacar yang tak memberikan kepastian apa-apa. Begitu klop denganku yang setiap ingin menikahi kekasihku, kekasihku berbalik meninggalkanku.

Mungkinkah aku mengajak perempuan ini untuk membina rumah tangga denganku? Sedangkan aku baru mengenalnya kemarin? Entahlah.

@honeylizious

Followers