Langsung ke konten utama

Kisah Lelaki dan Lamaran Lewat Whatsappnya (12)


Malam itu dingin. Karena hujan memang turun sejak sore. Bahkan waktu aku mengantarkannya pulang langit masih menurunkan rintik-rintik yang menyentuh kulit wajahku. Padahal aku sudah mengenakan helm dan melindungi wajahku dengan kaca helm. Tetap saja hujan itu berhasil menembus pertahananku. Saat aku tiba di rumah aku meraih ponselku. Menimbang-nimbang apakah aku harus melamarnya atau tidak. Perempuan itu. Perempuan dengan alis indahnya yang selalu membayangi malam-malam sebelum tidurku. Dia memang berhasil mencuri perhatianku. Perhatian yang biasanya terbagi untuk banyak perempuan yang sedang kudekati. Sekarang hanya miliknya. Dia yang baru tiga kali kutemui.

Sudah tidur?”

Aku mengirimkan pesan ke Whatsappnya. Berharap dia membalas dan mau menjawabnya tanpa kejutekannya.

Belum, dingin sekali di sini.

Maaf ya kalau tadi aku bau, memang belum mandi sepulang kerja.”

Tak mengapa, aku sendiri juga bau kok, aku lupa pake deodorant sejak pagi.

Dari kata-katanya aku membaca dia senyumnya. Senyum malu-malu yang sesekali dia tunjukkan padaku, semakin membuatku gemas.

Kamu mau nggak nikah sama aku?”

Aku langsung mengatakan tentang isi hatiku padanya. Aku tak peduli dia menolakku. Tambahan satu penolakan lagi aku tak akan mati. Sudah banyak perempuan yang menolak lamaranku dan apabila perempuan ini juga mengatakan tidak, aku sudah tidak akan terlalu jatuh lagi. Aku sudah terlalu banyak ditolak. Bahkan perempuan yang sempat menjadi kekasihku enggan menikah denganku. Aku yang memang bukan PNS seperti harapan banyak orang tua yang ada di dunia ini, tentu bukan calon menantu yang akan diinginkan oleh mereka.

Aku menunggu dia mengatakan 'iya', walaupun 'tidak'-nya jauh lebih besar.

Boleh.

Dia mengatakan 'boleh'? Jawaban yang berbeda dari yang aku pikirkan tapi bukankah ini awal dari sebuah iya?

Beneran?”

Iya, boleh kok. Mari kita menikah.”


Seandainya aku bisa melompat setinggi-tingginya karena senang, aku bisa mencapai langit lapisan ketujuh bahkan menembus sampai ke surga. Bagaimana tidak? Dia yang baru saja kukenal tiga hari menerima lamaranku. Dia tahu soal pekerjaanku. Pendidikanku yang jauh di bawahnya. Apalagi dia seorang perempuan yang sangat cerdas dan cantik. Kemungkinan dia menerimaku itu hanya seperti pungguk yang merindukan bulan. Tidak mungkin dia mau. Itu selalu yang aku pikirkan. Tapi sekarang dia mengatakan boleh. Girangnya hatiku.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan