21 Oktober 2013

Kisah Lelaki dan Lamaran Lewat Whatsappnya (12)


Malam itu dingin. Karena hujan memang turun sejak sore. Bahkan waktu aku mengantarkannya pulang langit masih menurunkan rintik-rintik yang menyentuh kulit wajahku. Padahal aku sudah mengenakan helm dan melindungi wajahku dengan kaca helm. Tetap saja hujan itu berhasil menembus pertahananku. Saat aku tiba di rumah aku meraih ponselku. Menimbang-nimbang apakah aku harus melamarnya atau tidak. Perempuan itu. Perempuan dengan alis indahnya yang selalu membayangi malam-malam sebelum tidurku. Dia memang berhasil mencuri perhatianku. Perhatian yang biasanya terbagi untuk banyak perempuan yang sedang kudekati. Sekarang hanya miliknya. Dia yang baru tiga kali kutemui.

Sudah tidur?”

Aku mengirimkan pesan ke Whatsappnya. Berharap dia membalas dan mau menjawabnya tanpa kejutekannya.

Belum, dingin sekali di sini.

Maaf ya kalau tadi aku bau, memang belum mandi sepulang kerja.”

Tak mengapa, aku sendiri juga bau kok, aku lupa pake deodorant sejak pagi.

Dari kata-katanya aku membaca dia senyumnya. Senyum malu-malu yang sesekali dia tunjukkan padaku, semakin membuatku gemas.

Kamu mau nggak nikah sama aku?”

Aku langsung mengatakan tentang isi hatiku padanya. Aku tak peduli dia menolakku. Tambahan satu penolakan lagi aku tak akan mati. Sudah banyak perempuan yang menolak lamaranku dan apabila perempuan ini juga mengatakan tidak, aku sudah tidak akan terlalu jatuh lagi. Aku sudah terlalu banyak ditolak. Bahkan perempuan yang sempat menjadi kekasihku enggan menikah denganku. Aku yang memang bukan PNS seperti harapan banyak orang tua yang ada di dunia ini, tentu bukan calon menantu yang akan diinginkan oleh mereka.

Aku menunggu dia mengatakan 'iya', walaupun 'tidak'-nya jauh lebih besar.

Boleh.

Dia mengatakan 'boleh'? Jawaban yang berbeda dari yang aku pikirkan tapi bukankah ini awal dari sebuah iya?

Beneran?”

Iya, boleh kok. Mari kita menikah.”


Seandainya aku bisa melompat setinggi-tingginya karena senang, aku bisa mencapai langit lapisan ketujuh bahkan menembus sampai ke surga. Bagaimana tidak? Dia yang baru saja kukenal tiga hari menerima lamaranku. Dia tahu soal pekerjaanku. Pendidikanku yang jauh di bawahnya. Apalagi dia seorang perempuan yang sangat cerdas dan cantik. Kemungkinan dia menerimaku itu hanya seperti pungguk yang merindukan bulan. Tidak mungkin dia mau. Itu selalu yang aku pikirkan. Tapi sekarang dia mengatakan boleh. Girangnya hatiku.

@honeylizious

Followers