Langsung ke konten utama

Kisah Lelaki dan Keluarganya (15)


Perempuan itu duduk di sampingku. Menatap dengan asing semua orang yang ada di rumah ibuku. Perempuan yang telah melahirkanku. Tak banyak bertanya. Dia hanya mengiyakan satu kali melihat perempuan beralis indah itu. Aku tahu, tak ada yang mampu menolak pesonanya. Pancarannya begitu kuat dan membuat setiap mata akan silau dibuatnya. Dia terlihat mencoba tetap tenang dengan mengatur napasnya dan tetap tersenyum sepanjang waktu.

“Hani siap menikah tanggal berapa?”

Tanggal berapa?” Perempuan itu mengulang pertanyaan ibuku. Seakan dia sendiri salah mendengar pertanyaan dari perempuan yang selama ini selalu menunggu aku membawa seorang perempuan yang akan kujadikan istri duduk di sini. Di ruang tamu ini. Dengan beberapa kursi jati yang mengkilat cokelatnya.

“Tanggal 9 November saja. Habis tahun baru Islam.” Kakak perempuanku yang nomor dua menyambar.

Perempuan itu melempar senyuman tenangnya. Penenang setiap wajah yang menatapnya. Dia terlihat berbeda. Tidak seperti perempuan yang kulamar. Saat aku melamarnya dia menjawab dengan yakin dan cepat. Seakan tak butuh memikirkannya lebih dalam. Lebih cepat dari menjawab pertanyaan berapa hasil satu ditambah dengan satu yang biasa kuajukan pada keponakanku.

Tanggal berapa pun tak masalah.” Dia menjawabnya dengan wajahnya yang manis. Wajah dinginnya hilang. Dia seakan-akan punya kepribadian yang dengan mudah dia ganti dan tampilkan di wajahnya. Sedikit menakutkan dia bsia mengubah ekspresinya dalam hitungan detik. Apakah dia memang sudah terlatih melakukan itu semua?

“Lebih baik kita bicarakan dengan keluarganya dulu, jangan dari pihak kita yang menentukan semuanya.”

Ibu di kampung orangnya nggak cerewet kok, dia terima saja.

Cara dia menyebut ibunya, seperti dia asing dengan perempuan yang telah melahirkannya. Tapi apakah memang semudah itu menentukan tanggal pernikahan? Apakah ibunya sama mudahnya untuk dihadapi seperti dirinya? Keluarganya seperti apa? Sebab selama ini keluargaku tak terlihat sedingin itu menyebut orang tuanya. Dia dingin sekali saat menyebut ‘ibu’ dengan bibirnya yang sedikit bergetar.

“Tapi tetap kami harus bertemu dengan keluarga Hani.”


Perempuan itu membeku. Dia tak menyahut. Saat dia mengatakan dia menerima lamaranku dia penuh dengan semangat. Tetapi saat keluargaku meminta keluarganya untuk bertemu dia terdiam. Sedikit tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Dia berusaha menyembunyikan sesuatu. Aku sama sekali tak mengenalnya. Siapa dia sebenarnya. Bagaimana keluarga yang membesarkan. Seperti apa kehidupannya. Aku hanya mengenalnya beberapa hari yang lalu. Beberapa hari. Waktu yang terlalu singkat untuk membaca 27 tahun kitab kehidupan yang dia miliki. Aku menarik napasku panjang dan menikmati pemandangan indah alisnya yang bergerak sedikit.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan