24 Oktober 2013

Kisah Lelaki dan Keluarganya (15)


Perempuan itu duduk di sampingku. Menatap dengan asing semua orang yang ada di rumah ibuku. Perempuan yang telah melahirkanku. Tak banyak bertanya. Dia hanya mengiyakan satu kali melihat perempuan beralis indah itu. Aku tahu, tak ada yang mampu menolak pesonanya. Pancarannya begitu kuat dan membuat setiap mata akan silau dibuatnya. Dia terlihat mencoba tetap tenang dengan mengatur napasnya dan tetap tersenyum sepanjang waktu.

“Hani siap menikah tanggal berapa?”

Tanggal berapa?” Perempuan itu mengulang pertanyaan ibuku. Seakan dia sendiri salah mendengar pertanyaan dari perempuan yang selama ini selalu menunggu aku membawa seorang perempuan yang akan kujadikan istri duduk di sini. Di ruang tamu ini. Dengan beberapa kursi jati yang mengkilat cokelatnya.

“Tanggal 9 November saja. Habis tahun baru Islam.” Kakak perempuanku yang nomor dua menyambar.

Perempuan itu melempar senyuman tenangnya. Penenang setiap wajah yang menatapnya. Dia terlihat berbeda. Tidak seperti perempuan yang kulamar. Saat aku melamarnya dia menjawab dengan yakin dan cepat. Seakan tak butuh memikirkannya lebih dalam. Lebih cepat dari menjawab pertanyaan berapa hasil satu ditambah dengan satu yang biasa kuajukan pada keponakanku.

Tanggal berapa pun tak masalah.” Dia menjawabnya dengan wajahnya yang manis. Wajah dinginnya hilang. Dia seakan-akan punya kepribadian yang dengan mudah dia ganti dan tampilkan di wajahnya. Sedikit menakutkan dia bsia mengubah ekspresinya dalam hitungan detik. Apakah dia memang sudah terlatih melakukan itu semua?

“Lebih baik kita bicarakan dengan keluarganya dulu, jangan dari pihak kita yang menentukan semuanya.”

Ibu di kampung orangnya nggak cerewet kok, dia terima saja.

Cara dia menyebut ibunya, seperti dia asing dengan perempuan yang telah melahirkannya. Tapi apakah memang semudah itu menentukan tanggal pernikahan? Apakah ibunya sama mudahnya untuk dihadapi seperti dirinya? Keluarganya seperti apa? Sebab selama ini keluargaku tak terlihat sedingin itu menyebut orang tuanya. Dia dingin sekali saat menyebut ‘ibu’ dengan bibirnya yang sedikit bergetar.

“Tapi tetap kami harus bertemu dengan keluarga Hani.”


Perempuan itu membeku. Dia tak menyahut. Saat dia mengatakan dia menerima lamaranku dia penuh dengan semangat. Tetapi saat keluargaku meminta keluarganya untuk bertemu dia terdiam. Sedikit tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Dia berusaha menyembunyikan sesuatu. Aku sama sekali tak mengenalnya. Siapa dia sebenarnya. Bagaimana keluarga yang membesarkan. Seperti apa kehidupannya. Aku hanya mengenalnya beberapa hari yang lalu. Beberapa hari. Waktu yang terlalu singkat untuk membaca 27 tahun kitab kehidupan yang dia miliki. Aku menarik napasku panjang dan menikmati pemandangan indah alisnya yang bergerak sedikit.

Related Posts

Kisah Lelaki dan Keluarganya (15)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.