12 Oktober 2013

Kisah Bakso Penuh Kenangan


Pertama kali menjejakkan kaki ke Pontianak sendiri sebagai seorang perempuan dewasa itu 8 tahun yang lalu. Saat saya akan mendaftarkan diri saya di sebuah universitas negeri terluas di Kalimantan Barat. Universitas Tanjungpura. Saat itu saya masih tak bisa menggunakan bahasa Melayu Pontianak dan masih kental sekali bahasa Melayu Sambasnya. Memang kedua bahasa itu memiliki perbedaan yang sangat mencolok sehingga akan kelihatan sekali kalau kita bukan orang Pontianak melainkan orang Sambas.

Datang dari kampung dan saya memang sudah suka bakso sejak dulu. Dulu rasanya bakso itu selalu menjadi makanan yang sangat mewah dan sesekali ditemukan di rumah. Karena di kampung saya sendiri tak ada tempat penggilingan daging bakso dan harus menyeberang laut untuk mendatangi Pemangkat yan memang ada tempat penggilingan dagingnya. Warung bakso di Jawai pun belum menjamur. Sehingga bakso menjadi makanan yang hanya bisa didapatkan di pasar-pasar dewa tertentu.

Di kampung juga perekonomian masyarakat masih banyak yang menengah ke bawah. Jadi untuk jajan di warung makan menjadi hal yang terasa 'mewah'. Sebab kebanyakan masyarakat di Jawai memiliki kebun dan sawah yang bisa memberikan hasil pangan yang bisa diolah di rumah atau dijual untuk mendapatkan penghasilan. Belum lagi sungai yang membentang sehingga banyak orang yang mendapatkan ikan dari memancing.

Warung-warung makan memang tak akan seramai di kota. Tak banyak warga yang akan menyerbu kecuali pada hari-hari besar seperti lebaran atau tahun baru. Karena pada saat itu banyak orang yang tak sempat untuk memasak di rumah dan lebih suka makan di pasar.

Bakso yang penuh kenangan itu terletak di Jalan Imam Bonjol, Pontianak. Tak jauh dari SPBU yang dekat dengan gerbang Universitas Tanjungpura. Tepatnya di depan sebuah sekolah dasar. Ini bakso pertama yang saya makan di Pontianak bersama teman-teman yang juga mendaftar kuliah setelah dulu saya terakhir ke Pontianak bersama Aki dan Uwan. Jadi meskipun soal rasa sebenarnya kurang enak dibandingkan bakso yang saya makan biasanya, tetapi ada kenangan yang bisa saya ingat kembali sembari makan bakso di warung ini.


Bakso ini jugalah dulu yang sering kami beli bungkus bersama teman-teman kos yang lain.

@honeylizious

Followers