29 Oktober 2013

Home Sweet Home


Sebuah rumah roti dan permen sudah siap meramaikan acara Walimahan kami nantinya. Sebentuk rumah yang berukuran sedang berada di tengah ruang tamu. Menunggu hari besar itu berlangsung dan semua tamu hadir menjadi saksi dua anak manusia dipersatukan dalam pernikahan yang suci.

Home sweet home. Inilah yang paling tepat menamai rumah permen dan roti yang manis ini. Anak-anak akan berebutan mengambil roti dan permennya nanti saat diserahkan. Benda ini menjadi satu di antara banyak barang seserahan yang akan dipajang selama akad nikah dilangsungkan. Selain dengan pokok telok dan banyak barang lainnya. PokokTelok yang dipersiapkan juga sangat indah.

Jujur saya merasa benar-benar menjadi Tuan Puteri yang disambut dengan suka cita oleh keluarga besar Putra ini. Seakan-akan saya benar-benar menjadi orang yang ditunggu oleh mereka. Selama ini saya pikir pernikahan-di-KUA akan menjadi hal yang terbaik yang akan terjadi di dalam kehidupan saya. Namun saat pernikahan itu akan dilangsungkan beberapa hari lagi saya sadar satu hal. Bahwa pesta juga tidak terlalu buruk kok. Meskipun kami tak kebagian gedung yang indah untuk melangsungkannya. Sebab pernikahan yang hanya dipersiapkan selama 6 minggu sudah tak memungkin bagi kami untuk menemukan gedung yang masih bisa disewa.

Kebanyakan orang menyewa gedung setahun sebelum pesta dilangsungkan. Apalagi kami menikah pada lebaran haji. Hari di mana banyak sekali orang yang menikah. Selain kami juga banyak sekali orang yang sibuk menyebarkan undangan.

Saat melihat rumah roti dan permen itu saya merasa saya akan benar-benar menjadi seorang istri dan ibu di rumah yang nyaman bersama suami nantinya. Bersama anak-anak yang akan meramaikan rumah kami. Sudah tak sabar ingin mendapatkan bayi mungil yang bisa saya ajak bermain bersama. Termasuk juga akan saya ajak menulis di blog ini setiap hari.

Dapat dibayangkan di 'home-sweet-home' nantinya, anak kami akan menjadi bagian yang paling penting dan selalu menjadi penyemangat saya setiap hari. Membayangkannya saja saya sudah merasa senang. Apalagi jika benar-benar menimang seorang bayi di pangkuan saya sebenarnya. Bayi yang putih dan lucu. Lalu memanggil saya Umak. Bagian dari diri saya yang menjadi sesosok manusia yang akan sangat saya sayangi.

Lalu saya akan mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Banyak yang bilang bahwa kita akan menyadari betapa besar jasa seorang ibu saat kita berada di posisi melahirkan anak kita juga. Lalu Umak akan menjadi seorang nenek. Umak yang sudah berusia 50 tahun memang tak pernah mengatakan betapa dia ingin mendapatkan seorang cucu. Tapi saya mengerti betapa dia ingin kami semua memiliki keturunan yang meneruskan keluarga kecil kami.


Home sweet home. Akhirnya aku akan memilikinya. Bersama seseorang yang sangat menyayangiku. Lalu dengan sabar menghadapi semua drama-dramaku. Dia yang mau memahami dan mendengar. Semakin lama mengenalnya aku merasa aku tak salah jatuh cinta padanya. Dia memang pantas untuk dicintai dengan tulus dan dijadikan suami. Dia yang pada akhirnya akan mengucapkan ijab kabul untukku. Dia yang kupanggil 'suami'.

@honeylizious

Followers