28 Oktober 2013

Bertemu Kembali


Sekian lama aku tak melihat alis tebalmu yang menghitam dan membuat wajahmu menjadi lebih jelas garisnya. Senyumanmu dan suaramu menjadi sesuatu yang asing buatku sekarang. Kamu yang dulu pernah menggenggam tanganku sedemikian eratnya dan aku tak akan pernah melupakan air mata perihmu saat aku memutuskan bahwa kita harus berpisah di persimpangan jalan yang itu. Kamu yang dulu paling lama berada di dalam hatiku.

Bertahun-tahun kumundurkan ingatanku dan mengingat bagaimana pertemuan kita berlangsung. Aku yang sangat kurus. Olive. Begitu kamu menyebutku, sebab kurusnya tubuhku yang memang membuat tubuh tinggiku semakin kerempeng. Kamu yang pertama kali membawaku ke konser untuk menonton SLANK. Padahal jelas sekali aku masih fobia dengan segala jenis suara keras. Kamu ingat bagaimana orang menyapaku saat aku masuk denganmu ke tempat konser tersebut akan dilangsungkan. Mereka mengolokku dan menanyakan aku akan pengajian di mana.

Tapi kamu dengan percaya diri berdiri di sampingku. Menjaga jangan sampai ada orang lain yang dengan sengaja mengjahiliku. Perasaanku waktu itu sedikit gugup. Sebab aku ingin bersamamu namun di sisi yang lain aku takut aku akan menangis mendengar semua suara yang menakutkan itu. Suara-suara yang terlampau keras bagiku yang takut dengan segala jenis suara keras. Ternyata ketakutanku berubah menjadi perasaan yang menyenangkan. Saat kamu berada di sampingku aku tak takut apa pun. Aku bahkan rasanya tak mendengar suara apa pun. Aku hanya mendengar suaramu.

Kalau kamu tahu, hingga hari ini aku masih mengingat malam itu. Bagaimana wajahmu menekuk sebab kita diminta segera pulang. Ibuku memintaku untuk pulang karena dia tak ingin aku bersamamu. Bersama orang yang belum dikenalnya sama sekali. Kamu yang baru saja membawaku pergi tiba-tiba harus kembali ke rumah dan memperlihatkan pada orang yang tak ingin kita dekat. Kakakku. Tentu saja itu akan menjadi hal yang paling menyebalkan. Kamu yang sudah mempersiapkan semuanya malah menjadi berantakan gara-gara seseorang yang cemburu pada hubungan yang belum sama sekali terjadi.

Aku memang melihat pijar di matamu yang mengatakan bahwa akulah perempuan yang kamu cari selama ini. Padahal aku tak pernah merasa aku lebih istimewa dari gadis lain yang kamu kenal sebelumnya. Ada banyak sekali kekurangan yang membuatku bahkan jauh di bawah perempuan-perempuan yang aku kenal. Tak banyak yang bisa aku banggakan. Lalu kamu sepertinya menyadari bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang menggelitik perutku saat melihatku. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita berkenalan. Padahal aku tak percaya dengan cinta pada pandangan pertama.

Sekarang, semuanya hanya menjadi sebuah kenangan yang akan kita simpan sebagai sesuatu yang tak akan terjadi lagi. Kamu sudah bersama yang lain. Begitu pula denganku. Bahkan kamu sudah memiliki buah cinta dengan dia. Aku sendiri saat ini baru akan memulai kehidupan yang sebenarnya bersama orang lain yang akan kusebut sebagai suami. Kamu yang untuk pertama kalinya lagi setelah sekian tahun tak kutemui menyalamiku lagi.


Mengingatkanku pada sentuhan pertamamu waktu kita berkenalan dulu. Rasa itu memang sudah tak bersisa untukmu tapi aku tak bisa mengatakan betapa pentingnya kamu dulu untuk kehidupanku. Bagaimana banyaknya air mata yang keluar karena perpisahan kita. Semua galau itu memang sudah lewat, kamu menyisakan kenangan yang akan kubawa sampai aku menua nantinya.

Related Posts

Bertemu Kembali
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.