13 Oktober 2013

Balon Gas Itu Mahal

Foto oleh Suparman.

Saya ingat sekali saat masih kecil dulu. Apabila ada acara keramaian di kampung biasanya saya akan menemukan dua hal. Penjual es dan penjual balon. Dulu belum ada tuh penjual sosis goreng. Belum banyak jenis jajajan yang ada di kampung. Mengingatkan kembali buat teman-teman yang tak tahu kampung saya di mana, saya lahir di Jawai, Kalimantan Barat. Sewaktu saya masih duduk di sekolah dasar listrik masih belum masuk ke kampung saya. Sehingga untuk belajar malam hari lebih baik jangan dilakukan. Kalau memang terpaksa, karena siangnya sibuk bermain guli, main engkek-engkek, atau main so, memang mau tak mau mengerjakan pe-er di malam hari.

Berbekalkan sebuah lampu minyak tanah, siap-siap besok paginya hidung akan penuh oleh salang. Salang itu asap pembuangan dari lampu minyak tanah. Belajar menggunakan lampu minyak tanah risikonya memang hidung akan salangan alias penuh dengan salang. Pagi-pagi harus segera dibersihkan kalau tidak bisa-bisa di sekolah akna ditertawakan oleh teman-teman sekelas. Tak ada cerita mengeluh tentang PLN yang suka mematikan listrik secara tiba-tiba seperti sekarang ini.

Sudah ada listrik pun waktu itu masih ada pemadaman bergilir karena PLN masih belum cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan listrik se-Kabupaten Sambas.

Singkirkan dulu soal listrik di kampung saya karena memang saya tak sedang ingin menceritakannya dengan panjang lebar mengenai hal tersebut. Saya ingin cerita soal balon gas. Dulu saya memang suka sekali membeli balon dan meniupnya di rumah. Sayangnya balon yang ditiup sendiri tak akan bisa terbang. Berbeda dengan balon yang diisi gas sehingga lebih ringan dibandingkan yang diisi dengan oksigen. Dulu saya selalu ingin membeli balon yang diisi dengan gas ini sayangnya harganya mahal sekali.


Bagi Aki dan Uwan lebih baik membeli beras dibandingkan membeli sebuah balon gas untuk cucunya. Jadinya dalam kepala saya selalu berpikir bahwa balon gas itu mahal. Memang mahal sih dulunya buat kantong Aki dan Uwan. Eh meskipun sekarang saya mampu membeli sendiri balon gas itu tak ada keinginan lagi buat membelinya. Sebab saya yakin di luar sana masih banyak orang membutuhkan uang tersebut buat makan mereka sehari-hari. Saat ingat itu saya lebih baik menyumbangkan uang yang ingin saya belikan balon gas itu untuk orang yang memerlukannya.

@honeylizious

Followers