24 September 2013

Rendang Jengkol

Makanan yang satu ini memang godaannya sama sekali tak bisa ditolak. Kemarin saat akan membeli sayuran buat makan siang menemukan rendang jengkol yang sudah ditempatkan di dalam kantong-kantong bening. Harga yang dibanderol untuk satu kantong pun terhitung sangat murah. Hanya 5.000IDR. Tak perlu berpikir dua kali untuk mengambil sekantong dan membelinya.

Ini pertama kalinya saya makan rendang jengkol dari rumah makan yang satu ini. Sebuah rumah makan melayu yang tak begitu jauh dari Jl. Dr. Wahidin dekat Komplek Ujung Pandang. Rasanya enak meskipun masih kalah dengan rendang jengkol buatan abang-abang pedagang nasi padang yang tak jauh dari Radio Volare.

Nikmat sekali apabila dinikmati dengan sepiring nasi hangat.

Kalau ingat rendang jengkol ada satu pengalaman yang tak pernah terlupakan saat saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Waktu itu saya berada di Sentebang. Habis ikut meramaikan acara 17-an sebagai peserta baris-berbaris. Dulunya itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri meskipun akhir kami tidak menang kategori apa pun. Bisa ikut saja sudah senang sekali. Walaupun harus berpanas-panasan dan berjalan di posisi paling belakang karena tinggi badan saya yang sangat pendek.

Sepulang dari acara tersebut kami melewati pasar sayur dan ditawari sebuah gulai oleh seorang pedagang. Saya waktu itu memang ingin sekali membelikan Aki (kakek) saya oleh-oleh. Waktu itu sang pedagang mengatakan dia menjual gulai ayam. Sesuatu yang menurut saya akan enak sekali disantap bersama keluarga. Saya hanya mengantongi uang berwarna hijau bergambar orang utan. Yak! Anda benar, itu uang 500 perak yang masih baru.

Saya mengatakan saya hanya punya 500 perak. Penjual tersebut lantas memasukkan gulai yang dia jual ke kantong dan memberikannya pada saya. Saya yang masih polos berjalan pulang dengan teman saya. Sepanjang perjalanan saya percaya sekali bahwa yang saya bawa adalah gulai ayam kesukaan aki. Sayangnya Tuhan memberikan sesuatu yang lain. Ternyata pedagang gulai ayam itu membohongi saya. Mereka menjual rendang jengkol bukan gulai ayam.

Saat kantong itu dibuka, alangkah terkejutnya saat melihat isinya bukan ayam. Melainkan jengkol yang sudah direndang. Semua anggota keluarga langsung mengolok-olok saya. Mereka menertawakan gulai ayam yang ternyata rendang jengkol itu. Tetapi aki dengan bijaksana mengatakan bahwa rendang jengkolnya enak dan rasa ayam lo... tak pernah sekalipun dia makan rendang jengkol seenak itu.


Saya pun tak jadi kesal dan menyumpah sang pedagang. Karena ternyata aki menghabiskan rendang jengkol tersebut. Saya sendiri jadi suka dengan jengkol setelah kejadian itu.

@honeylizious

Followers