16 September 2013

Menikah Itu…


Saya tidak membicarakan soal pernikahan. Meskipun sebenarnya sedang merencanakan pernikahan dengan seseorang. Entah benar-benar akan terwujud atau sama seperti kisah rencana pernikahan sebelumnya yang berakhir di ujung jalan. Tapi perencanaan kali ini lebih singkat dan padat. Sedikit merisaukan tapi tetap menyenangkan.

Eh jadi lupa ingin ngomongin soal pernikahan. Memang untuk menikah butuh pemikiran yang panjang dan matang. Tapi bukan berarti pemikiran tersebut butuh waktu yang lama. Bukan berarti harus bertele-tele. Lebih baik menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’ dengan gamblang dibandingkan hanya menggantungkan sebuah lamaran atau keinginan seseorang.

Seseorang mengajari saya tentang pernikahan. Dia bilang untuk menikah dengna seseorang kita tak bisa berharap mendapatkan seseorang yang sesuai dengan keinginan kita. Katakanlah kita punya 10 sifat yang kita inginkan dalam diri seorang calon suami ternyata kita menemukan seseorang yang ingin menikahi kita hanya punya 2-3 sifat yang kita masukkan dalam kategori wajib ada. Bukan berarti kita harus menolak laki-laki tersebut. Karena tak ada laki-laki yang benar-benar sesuai dengan kriteria kita.

Kalau kita ingin mendapatkan laki-laki yang sesuai dengan keinginan kita ambil kesempatan bersama laki-laki yang hanya punya 2-3 sifat yang kita kriteriakan kemudian 7-8 sifat itu akan kita bentuk dari proses penerimaan dalam pernikahan. Bukankah memang demikian adanya cinta? Proses menerima kekurangan dan kelebihan orang lain. Menerima apa yang ada dan merelakan apa yang tidak ada di sana. Kalau memang kita ingin dia menjadi seseorang sesuai dengan kita inginkan ajarilah dia. Tapi bukan berarti dia tak layak untuk dipertahankan saat dia tidak menjadi seperti yang dia inginkan.


Menikah itu menerima. Kalau kamu tak bisa menerimanya jangan menikah dengannya.

@honeylizious

Followers