14 September 2013

Kuliner Hemat dan Sehat


Selama ini saya memang selalu membeli makanan di luar rumah. Tidak memasak sendiri di dapur. Karena memang hidup sendirian agak ribet buat masak. Lebih praktis membeli bahkan memakannya langsung di warung makan tersebut. Tapi dengan membeli di luar kuliner tersebut punya harga yang harus dibayar dan belum tentu sehat.

Penambahan penyedap yang barangkali berlebihan atau harga yang tak sesuai dengan makanan yang dijual adalah hal sudah menjadi risiko membeli makanan di luar. Makanya saya lebih senang suatu hari nanti saat sudah punya rumah sendiri dan keluarga kecil, memasak di rumah saja. Menyediakan makanan sehat untuk orang yang saya cintai.

Karena memang memasak sendiri membuat kita bisa menjaga mutu makanan tersebut. Kita tahu bahan apa saja yang ada di dalamnya. Tentunya akan sangat menyenangkan bisa memasak bersama keluarga dan saling bercengkerama. Saya ingat bagaimana menyenangkannya memasak bersama nenek. Bagaimana dia menyuruh saya menumbuk bumbu atau sekadar menjaga api masakan yang sedang dia masak supaya tidak terlalu besar.

Dulu saya akan mendengar suara alu lesung yang sedang digunakan untuk menghaluskan bumbu. Setiap hari. Memang nenek selalu memasak setiap hari. Tak pernah dia melewatkan menyiapkan makanan untuk suami, anak, dan cucunya. Betapa menyenangkannya masa itu. Masa kecil saya bersama keluarga di rumah nenek. Tak ada kenangan yang bisa mengalahkan itu semua.


Saya rindu dengan suara lesung yang bertalu-talu. Harum bumbu yang ditumis. Tawa nenek yang sedang mengupas bawang. Langkah kaki kakek yang pulang dari sawah. Hidup begitu cepat berlalu. Sekarang semua itu tak lagi bisa saya sebut sebagai kehidupan karena sudah masuk dalam kotak kenangan. Kotak yang menjadi penyemangat saya meneruskan kehidupan ini yang masih sendirian.

@honeylizious

Followers