28 September 2013

Ala Chef: Pilih Farah atau Priscilya?


Beberapa tahun belakangan memang acara masak menjadi satu di antara acara yang menjadi andalan di televisi yang ada di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia sebenarnya sih, masih banyak televisi luar negeri yang menayangkan acara memasak. Mulai dari acara memasak pada umumnya, pemilihan chef, lomba masak, sampai-sampai ada beberapa saluran televisi yang isinya memang hanya soal masakan.

Dari banyak acara memasak yang sukses di televisi, program Ala Chef yang ada di Trans TV memang menjadi satu di antaranya. Banyak yang memilih menonton acara ini karena ada Farah Quinn. Pertama kali melihat Farah Quinn memang yang paling menonjol adalah betapa sempurnanya dia sebagai seorang perempuan, cantik, pintar masak, dan gaya berbicaranya yang khas. Cara dia menyantap makanan saja membuat makanan tersebut menjadi berkali-kali lipat menyelerakannya. Belum lagi tampilan lengkapnya Farah yang memang seksi. Jangankan laki-laki, perempuan saja bisa terpesona melihat sosoknya.

Lima tahun di Ala Chef, posisi Farah digantikan Priscil. Tentu saja perbedaan keduanya sangat mencolok. Bagaimana tidak? Farah yang awalnya membuat makanan yang tak banyak dibayangkan orang digantikan oleh Priscil yang banyak sekali menampilkan resep makanan yang sederhana. Tetapi apakah lantas Pricil bisa dikatakan tidak pantas menjadi pengisi acara Ala Chef di Trans TV?

Saya bukan fan fanatik Farah dan bukan pula hater Priscil. Menurut saya keduanya tetap saja pantas membawakan Ala Chef. Bukankah setiap orang punya kelebihan dan kekurangan? Pasti setiap orang memiliki hal tersebut di dalam dirinya. Kalau hanya masalah selera terhadap pembawa acara saya pikir itu kembali lagi ke individu masing-masing. Tetapi hingga sekarang saya sendiri masih senang menonton Ala Chef siapa pun pengisinya. Karena dari Farah saya banyak belajar bagaimana mengolah makanan yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa lalu dari Priscilya saya belajar bagaimana menjadi seseorang yang berani untuk menunjukkan kemampuan memasak makanan yang biasa saja tetapi tetap menjadi sesuatu yang enak. Priscilya membuat saya sadar bahwa untuk menjadi chef bukan berarti kita harus bisa memasak sesuatu yang tak bisa orang lain masak. Bahkan untuk menjadi seorang chef, meskipun pengetahuan kita sama seperti orang lain dalam hal memasak tapi bagaimana kita membuat pengetahuan itu bermanfaat buat orang lain.


Kedua chef ini menginspirasi. Dulunya saya hanya bisa ternganga saat melihat masakan Farah yang memang luar biasa. Sekarang dari Priscilya saya mulai berani mencoba untuk memasak resep-resep yang biasa dan menyajikannya dengan rasa yang luar biasa. Bukankah makanan itu hanya masalah rasa? 

@honeylizious

Followers