30 Agustus 2013

Nekad Traveling dengan Uang Pas-Pasan



Saat teman-teman saya banyak yang ke Jogja untuk melanjutkan studinya saya sendiri waktu itu masih harus mengumpulkan uang untuk kuliah. Sehingga saya terlambat satu tahun dibandingkan teman-teman saya. Waktu itu saya berjanji dengan diri saya sendiri, saya akan mendatangi Jogja. Walaupun bukan untuk kuliah.





Beberapa tahun yang lalu akhirnya saya berhasil menjejakkan kaki di sana. Semuanya serba mendadak. Waktu itu saya tak punya rencana sama sekali untuk datang ke Jogja karena uang saya belum cukup. Maklum untuk ke sana setidaknya saya harus mengantongi uang paling tidak 2juta untuk tiket pesawat pulang pergi. Belum makan dan penginapan.

Lalu tiba-tiba kesempatan itu datang. Seorang teman menawarkan tiket untuk ke Jakarta. Karena dia tak punya teman seperjalanan selama di pesawat. Sebenarnya sih saya agak takut ya, karena tak begitu dekat dengan teman saya yang ini. Apalagi saya mengenalnya dari facebook. Waktu itu saya masih menggunakan ponsel saya yang lama dan berlangganan paket data telkomsel flash community yang harganya 10.000IDR/bulan untuk mengakses facebook. Bahkan sering pula saya mengakses facebook secara gratis karena Telkomsel tidak menarik biaya dari facebook yang dibuka dengan alamat 0.facebook.com


Sudah banyak kejadian buruk yang menimpa seorang perempuan yang berkenalan dengan lawan jenisnya melalui facebook. Ada yang diperkosa, ada pula yang dibunuh, bahkan keduanya sekaligus. Mengerikan. Tapi keinginan untuk mendatangi Jogja sedemikian besarnya. Saya pikir tak mengapa selama saya yakin akan baik-baik saja.

Ternyata teman facebook saya ini mendapatkan dua tiket ke Jakarta dengan harga yang sangat miring dan dia tahu saya sangat ingin liburan ke luar kota. Apalagi dia tahu saya selalu bilang ingin ke Jogja. Jadilah kami berangkat beberapa hari kemudian dengan pesawat Batavia Air. Waktu itu Batavia belum bangkrut dan kami mendapatkan tiket seharga 320.000IDR untuk ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta kami harus menginap di hotel karena sudah hampir malam dan kami akan melanjutkan perjalanan esok hari. Teman saya ini sebenarnya memang ingin langsung ke Jogja karena ibunda tercintanya yang sudah lama sakit meninggal dunia. Sedangkan saya sendiri ingin sekali singgah ke Malang lebih dahulu. Ada beberapa teman facebook yang ingin saya datangi.

Kalau memikirkan diri saya yang waktu itu, rasanya saya sedikit bingung, nekad sekali saya mendatangi orang-orang yang hanya saya kenal dari facebook. Sudah banyak korban berjatuhan tapi saya dengan yakin ingin menemui mereka. Saya hanya ingin berprasangka baik dengan orang di sekitar saya.

Baiknya teman facebook yang jadi teman seperjalanan ini membelikan tiket pesawat untuk ke Malang esok pagi. Dengan bantuan teman facebook saya lainnya yang memang membuka jasa mengantar orang di Jakarta kami membeli tiket di sebuah tempat penjualan tiket pesawat yang lumayan jauh dari tempat kami menginap.

Tahun itu sebenarnya adalah pertama kalinya saya naik pesawat sebagai seorang perempuan dewasa. Jadi itu adalah pengalaman yang sangat baru bagi saya. Besoknya kami berpisah. Dia langsung terbang ke Jogja dan saya sendiri ke Malang.

Pertama kali ke Malang dan tak punya teman seperjalanan memang sedikit menakutkan. Tetapi saya bisa bertemu dengan teman facebook saya yang lainnya dan mampir ke rumahnya. Berkenalan dengan keluarganya. Lalu satu malam saya menginap di penginapan tengah kota yang harganya miring. Saya masih ingat, satu malam biaya menginap di hotel itu hanya 80.000IDR.

Besoknya saya ingin berkeliling tapi tak tahu harus bersama siapa karena teman saya sendiri sudah bekerja dan saya tak ingin menyusahkannya. Pilihan satu-satunya hanya becak. Jadilah hari itu saya nekad menyewa sebuah becak seharian dan keliling kota Malang. Saya merasa sangat beruntung karena bertemu dengan seorang tukang becak yang sangat baik.

Selama berkeliling dia selalu menawarkan untuk berhenti di tempat yang bisa saya jadikan latar untuk berfoto. Bahkan dia tidak masalah saya singgah ke beberapa pusat perbelanjaan dan menunggu di parkiran. Tas saya semuanya saya tinggal di becak dan bapak Sutikno dengan setia menunggui saya sambil merokok.

Bapak Sutikno pulalah yang mengajari saya untuk ke Jogja dengan naik kereta karena saya harus menghemat uang saya sekarang. Sebab saya sendirian dan saya bahkan belum punya tiket untuk pulang ke Pontianak. Saya sendiri juga tidak tahu akan pulang kapan. Benar-benar nekad ingin datang ke Jogja tanpa teman dan pengalaman.

Bersama Pak Sutikno, Malang

Tiket kereta dari Malang ke Jogja kebetulan murah hari itu karena bukan hari libur. Seingat saya harganya 170.000IDR untuk kereta eksekutif. Berbekalkan sebuah nomor ponsel teman yang berasal dari Magelang dan berbaik hati menunggu kedatangan saya di Jogja, di Stasiun Tugu, saya mantapkan niat saya untuk ke Jogja. Jangan ditanya lagi ini teman kenal dari mana, karena tentu saja dia adalah seseorang yang saya kenal melalui facebook juga dan kami belum pernah bertemu sama sekali.

Nekad!

Tengah malam saya tiba di Stasiun Tugu dan disambut oleh teman facebook saya dan temannya. Sebenarnya mereka ingin mengajak saya ke Magelang dan melihat Candi Borobudur. Tetapi karena saya tiba tengah malam, mereka memutuskan besok saja membawa saya ke Magelang. Malam itu kami habiskan dengan makan di Jalan Malioboro, Jogja.

Saat saya akhirnya berbaring di penginapan, saya merasa sangat senang. Sebab apa yang saya impikan selama ini tercapai! Saya benar-benar mendatangi Jogja. Kota impian yang hanya bisa saya pikirkan dalam kepala. Tapi saya tidak langsung keliling Jogja besoknya karena teman ini mengajak saya ke Candi Borobudur dulu sebelum saya menghabiskan waktu lebih lama di Jogja.

Candi Borobudur, Magelang

Puas keliling Candi Borobudur, saya sendirian lagi kembali ke Jogja dari Magelang. Naik angkutan Travel Rahayu (CMIIW) yang ongkosnya 17.000IDR dari Magelang ke Jogja saya berusaha menghilangkan penat yang saya rasakan selama perjalanan. Saya duduk di depan, di samping supir.

Nasib baik lagi-lagi memihak saya. Meskipun saya harus menerima omelan sang bapak supir yang kaget saat tahu saya keliling liburan sendirian. Dia bilang tidak baik perempuan bepergian sendirian. Memang sih. Tapi kalau saya waktu itu tidak nekad mungkin impian saya untuk datang ke Jogja tidak segera terwujud. Bapak supir itu yang terkesan protektif mengantar saya ke penginapan murah yang menurutnya aman bagi saya.

Sebab sebelumnya saya menginap di penginapan yang ada di Jalan Pasar Kembang. Ternyata tempat itu merupakan daerah prostitusi dan banyak yang menggunakan penginapan yang sama dengan saya untuk berkencan dengan perempuan bayaran. Saya yang tidak tahu soal Pasar Kembang tentu saja kaget. Untungnya saya tidak apa-apa.

Jogja

Apakah ceritanya tuntas? Belum! Karena setelah menginap tiga malam di Jogja saya memutuskan untuk pulang. Waktu itu uang saya tinggal 1jutaan. Sedangkan perjalanan masih jauh. Saya bingung tapi saya harus pulang. Tapi saya tidak ingin mengatakan masalah uang saya yang menipis ini pada ibu saya. Walaupun sebenarnya lebih baik saya meminta tambahan padanya.

Menimbang-nimbang ongkos kereta yang mahal pada hari libur saya memutuskan naik bus pulang ke Jakarta. Niatnya sih begitu tiba di Jakarta langsung membeli tiket pulang lalu naik taksi ke bandara. Berharap uang 1 juta itu bisa membawa saya pulang. Sayangnya perhitungan saya salah. Saya yang tidak tahu cara membeli tiket sendiri secara online harus menerima kenyataan pahit besok paginya di Jakarta.

Tiket ke Pontianak yang ada hanya dari Garuda Airlines dan harganya melampaui uang saya yang ada di ATM. Tiket tercepat dan termurah hanya ada besok subuh, harganya 550.000IDR. Sebelum memutuskan untuk mengambil tiket tersebut saya hanya berharap pada satu teman facebook saya yang lain. Teman facebook yang ada di Jakarta.

Batre ponsel sekarat. Tapi saya masih sempat menelponnya dan bertanya apakah dia bisa mencarikan tempat saya menginap karena untuk membayar hotel murah rasanya sudah tidak mungkin. Saya harus memegang uang paling tidak 400.000IDR untuk perjalanan. Berbekalkan alamat rumah keluarganya yang ada di Kampung Melayu, saya meminta supir mobil travel tersebut mengantar saya ke sana.

Saya tak pernah mengenal keluarga teman saya ini sebelumnya. Tapi saya nekad saja datang dengan membawa beberapa tas. Untungnya disambut baik oleh bibinya dan diizinkan untuk beristirahat di kamarnya sembari menunggu teman saya yang sedang bekerja. Saya yang memang tidak tidur nyenyak selama 15 jam di dalam bus akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Tidur dengan sangat nyenyak hingga akhirnya teman saya datang.

Teman facebook saya ini, memang sangat baik, selain memberikan tumpangan menginap dia juga mengantar saya hingga ke bandara besok subuhnya. Pesawat pertama. Saat saya tiba di Bandara Supadio, Pontianak dan menghirup udaranya yang hangat, saya sadar bahwa saya telah menyelesaikan perjalanan nekad saya dengan baik. Bahkan saya tidak menghabiskan uang 2juta untuk melakukannya.

Saya sudah menjejakkan kaki di Jogja, kota yang selama ini ingin saya datangi. Bahkan saya mendatangi Malang dan Magelang. Tempat yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Kalau waktu itu saya tidak nekad saya tak akan tahu siapa saja teman-teman facebook saya yang mau berbaik hati membantu dan apa yang ada di luar sana yang harus saya lihat.

Ini perjalanan nekadku. Bagaimana dengan perjalanan nekadmu?

@honeylizious

Followers