23 Juli 2013

Umak Itu...


Setiap orang punya panggilan tertentu buat orang tuanya. Terutama ibunya. Ada yang memanggilnya bunda, umi, mama, mami, mom, atau emak. Dalam kasus saya sendiri, saya memanggil perempuan yang telah melahirkan saya tengah malam buta pada Jumat Kliwon itu dengan sebutan Umak. Sama seperti cara dia memanggil ibunya dan mayoritas anak-anak lain juga memanggil ibunya dengan panggilan yang sama. Di Sambas, ibu memang disebut Umak.


Jaman boleh berubah, waktu boleh berganti, dan saya boleh berada di mana pun. Tapi saat suatu hari nanti saya punya anak, saya juga ingin dipanggil dengan cara yang sama seperti saya memanggil ibu saya. Cukup Umak saja. Saya ingin merasakan rasanya dipanggil dengan cara yang pernah saya jalani. Dan saya bangga menunjukkan tanah kelahiran saya dari panggilan itu. Sekeren apa pun penyebutan yang lain untuk seorang ibu, paling keren buat saya hanya empat huruf itu. UMAK.

Sejak saya terpisah jauh dari keluarga besar saya, saya hanya bisa berkomunikasi dengan Umak menggunakan SMS atau telpon. Kebetulan beliau tak mengerti internet untuk menggunakan aplikasi chat yang sekarang tersedia banyak sekali di luar sana. Sampai perang memberikan hadiah. Namun saya tak pernah kehilangan kepercayaan yang Umak berikan untuk saya terus melangkahkan kaki di dalam kehidupan saya ini.

Satu hal yang selalu saya ingat dari Umak. Dia orangnya sangat optimis dalam banyak hal. Dia selalu mengatakan bahwa saat melakukan sesuatu kamu harus yakin. Apa pun itu. Bagaimana pun caranya. Kamu tak punya pilihan dan modal yang lain. Hanya bisa yakin saat menjalaninya. Karena keyakinan akan membuat kamu kuat dan mendoakan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Jangan pernah menjadi orang yang pesimis.

Umak, yang ada di kampung sana. Teman baiknya hanya beberapa orang. Jarang mampir ke rumah tetangga dan lebih banyak berada di rumah. Kadang sesekali menyempatkan diri beberapa jam untuk menjadi tukang urut panggilan. Selalu punya keyakinan di dalam hidupnya. Saat saya membayangkan suaranya di telinga saya. Hanya keoptimisannya yang saya ingat. Saya harus menjadi orang yang penuh keyakinan. Untuk Umak dan diri saya.

Kalau Umak saja bisa percaya pada diri saya ini, mengapa saya meragukan diri saya sendiri bukan?


Umak itu... UMAK.

Related Posts

Umak Itu...
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.