26 Juli 2013

Travel: Trip To Sayang Sedayu (2)



Belum lagi kami tiba di Singkawang kami terhenti di Mempawah. Ada rencana memang untuk turun di Kota Singkawang dan menawarkan kartu Matrix pada beberapa kenalan Mbak Yuyun di sana. Beberapa polisi terlihat sedang mengadakan razia. Tetapi razianya di tempat yang kelihatan sekali bukan tempat yang layak untuk melakukan razia. Karena razia yang mereka lakukan membuat kemacetan di sepanjang jalan tersebut.


Pak Iwan, supir yang membawa kami, dengan tenang mengeluarkan STNK dan SIM. Di sini masalah bermula, STNK yang dipegang Pak Iwan adalah STNK fotokopian. Tetapi sebenarnya tidak masalah membawa STNK yang difotokopi karena STNK aslinya sedang digunakan untuk mengurus pajak mobil tersebut. Maklum mobilnya berplat 'B', Jakarta. Sehingga tak bisa diurus di Pontianak untuk pajaknya.

Namun, mobil ini memang terlalu menggoda untuk Pak Polisi itu lewatkan. Dia tetap memaksa mengatakan bahwa kami salah. Sehingga Pak Iwan harus turun, menjauh dari mobil untuk berbicara dengan polisi tersebut secara langsung. Mobil kami menepi. Lalu lintas macet di jalan tersebut. Saat Pak Iwan kembali dia segera meminta uang pada Mbak Vera yang memang memegang semua uang untuk acara kali ini.

Mereka minta uang kopi.” Begitu penjelasan Pak Iwan.

Minta uang kopi?” kami langsung kasak-kusuk.

Iya, saya sudah jelaskan masalah STNK itu, mereka masih ngotot dan ujung-ujungnya bilang: 'ya sudahlah Pak, kasih kami uang kopi aja' begitu katanya.”

Mereka bilang minta uang kopi?” Mbak Vera seakan tak percaya dengan permintaan polisi tersebut.

Iya, kasih 30ribu saja.”

Tapi kita nggak salah lo, Pak.”

Walaupun Mbak Vera tetap memberikan uang 30ribu pada Pak Iwan dengan sedikit kesal. Tapi kalau ini dilanjut masalah bisa lebih panjang dan kami sedang mengejar waktu untuk tiba di Sambas yang masih sangat jauh. Beberapa menit setelah membawa uang 30ribu Pak Iwan kembali dan segera masuk ke mobil lalu membawa kami pergi dari tempat tersebut.

Mereka kayak nggak terima dikasih 30ribu.”

Mereka bilang apa tadi?”

Masak cuma 30ribu, Pak? Gitu bilangnya.”

Ih polisinya kok gitu ya? Nggak malu minta uang sama orang yang lewat. Jelas-jelas kita nggak salah. Mau minta lebih lagi.”

Nggak halal uang kayak gitu tu.”

Iyalah, sama juga malak.”

Pasti mereka ngadain razia tanpa lapor atasan nih, razia mandai-mandai.”

Biasalah kan mau lebaran.”

Coba tadi tanya namanya siapa, pangkatnya apa, biar kita laporkan sama atasannya. Kalau kita nanyak kayak gitu pasti mereka takut tuh, nggak jadi mereka mau malak kita.”


Obrolan berlanjut panjang sekali. Semuanya kesal. Sepanjang jalan itu kami membahas hal ini dengan bersemangat. Begitulah hidup. Ada yang mau menerima uang suap dengan memaksa malahan. Tidak memikirkan anak istrinya diberi makan dari rezeki yang tak halal.

Related Posts

Travel: Trip To Sayang Sedayu (2)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.