23 Juli 2013

Galaxy Express (Bagian 6)




Aku duduk di meja makan untuk sarapan bersama keluargaku. Aku menarik kursi perlahan takut menimbulkan keributan di depan kedua orang tuaku. Sisca sudah duduk di sana sejak tadi. Aku memang terlambat bangun hari ini. Untungnya aku selesai mandi tepat waktu dan orang tuaku tak perlu mengeluarkan kata-kata pedas untuk menyindirku. Menyakitkan. Sebab pada bagian akhirnya aku harus dibandingkan dengan Sisca. Aku lelah.


Aku menyendok nasi gorengku dalam dia. Sisca melirikku sambil melempar senyum. Seakan-akan berusaha menenangkanku. Aku mengerling ke arah ayah dan ibuku beberapa detik. Sepertinya mereka memang tak ada minat untuk mengatakan hal yang menyebalkan seperti biasanya. Aku menarik napas lega. Lalu mencium tangan mereka bergantian sambil berpamitan dengan suara pelan. Saat berada di luar pagar aku sadar, sekarang aku bebas.

Begitulah keadaanku di dalam rumah. Rasanya aku menjadi beban untuk kedua orang tuaku. Seandainya mereka hanya memiliki Sisca mungkin tak akan begini keadaannya. Tak perlu ada aku menjadi bagian yang menyedihkan dari keberadaannya. Sisca yang baik. Sisca yang lembut. Sisca punya senyuman yang bisa dia bagikan pada banyak orang. Semua keluargaku akan memandang tinggi padanya. Menjadikannya panutan. Lalu mencibir padaku.

Hari ini harus menyenangkan karena aku akan menghabiskan waktu di dalam Galaxy Express lagi. Semoga aku bertemu tukang cat yang waktu itu. Aku ingin melihat tatapan dinginnya padaku. Tatapan yang membuat jantungku berdebur tak karuan. Berharap dia akan mampir lagi seperti kemarin. Makan kue di tempat aku bekerja. Aku menahan senyumku sendiri. Takut orang lain sadar aku senyum-senyum sendirian.

Aku berebutan masuk bersama banyak orang ke dalam kereta. Mataku berlari ke sana kemari mencari satu wajah yang terus mengganggu pikiranku sejak tadi malam. Aku menemukannya. Dia duduk di sana. Dia menatapku. Aku segera membuang pandanganku karena terkejut. Dia tahu aku mencarinya? Aku hanya bisa menggigit bibir dan meliriknya diam-diam. Ternyata lagi-lagi aku melihat matanya yang mengarah padaku. Aku benar-benar malu.

Belasan menit berlalu dan kami tiba di stasiun yang kutuju. Aku turun. Dia juga turun. Aku ingin menyapanya tapi dia sudah berlalu dari hadapanku dengan kecepatan yang tak biasa. Mungkin dia terlambat ya? Tukang cat yang ini mungkin punya jadwal yang harus dikejar. Aku masih punya banyak kesempatan kok untuk kenalan dengannya. Aku pasti bisa mengajaknya kenalan. Harus bisa.

Aku melangkah mengikutinya dari belakang seperti kemarin. Aku ingin melihat dia bekerja. Masih banyak waktu. Di simpang yang kemarin, aku melihat dia sibuk sekali berbicara dengan beberapa orang yang membawa kaleng cat dengan warna yang berbeda. Dia seperti sedang memberikan komando. Aku hanya bisa mengamatinya sambil bersembunyi di dekat sebuah pohon besar. Jadi dia mandor tukang cat? Sedikit lebih tinggi dari tukang cat pangkatnya? Entahlah, aku tak begitu paham situasinya.

Sudah banyak kendaraan yang lewat. Sesekali pandanganku terhalang oleh mobil-mobil yang berdatangan dari segala arah. Suara klakson yang bising juga jadi mengganggu. Belum lagi semua orang yang sedang berjalan sibuk berbicara dengan orang di sampingnya. Membuat suara dengungan seperti lebah.

Hey, kamu ngapain di sini?” Renno tiba-tiba sudah ada di depanku.

Aku... aku... cuma jalan-jalan. Yuk ke toko.”

Aku melihat Renno membawa banyak sekali bahan untuk membuat kue. Pasti Rita yang memintanya berbelanja. Aku meraih beberapa bawaannya dan berjalan di sampingnya. Meninggalkan simpang empat itu dalam diam.

Mana senyum ucapan selamat paginya?” Renno menyenggolku dengan bahunya.

Selamat pagi Renno.” Aku tersenyum.

Kamu harus banyak-banyak tersenyum, perempuan paling cantik adalah perempuan yang selalu tersenyum.”

Aku tersenyum semakin lebar hingga akhirnya langkah kami tiba di depan toko. Rita menunggu di depan dengan wajah cerah. Dia langsung menarikku dan membawaku ke sudut kasir. Renno sendiri menghilang ke dapur setelah mengambil beberapa bahan yang kubawa.

Aku rasa aku jatuh cinta.”

Jatuh cinta lagi? Sama siapa?” Aku mengenakan celemek yang tergantung di tempat biasa.

Bukan lagi Sofia, kali ini serius. Aku sangat serius.”

Kapan sih kamu tidak pernah serius, aku tahu kok kamu selalu serius saat jatuh cinta.” Aku menyimpulkan tali celemek di belakang pinggangku setelah mengalungkan bagian atasnya.

Kali ini aku siap untuk menikah dengannya Sofia, seserius itu.”

Serius sekali dong?”

Iya! Makanya kamu serius dengerinnya.”

Iya, aku denger.”

Aku rasa aku jatuh cinta sama Renno.”

Deg! Aku mengingat kejadian semalam saat Renno menciumku. Untung aku masih menyimpannya menjadi rahasiaku. Setidaknya hanya Sisca yang tahu. Aku merasa bersalah pada Rita. Sekarang aku seperti seorang pengkhianat untuk sahabatnya sendiri.

Kok kamu diam? Kamu dengar kan?”

Iya aku dengar.”

Aku tak berani menatap wajah Rita karena aku takut dia menyadari aku menyembunyikan sesuatu. Hingga kedatangan pelanggan yang aku tunggu-tunggu membuat obrolan itu terhenti. Mandor tukang cat itu datang lagi.

Sama seperti kemarin, kue cokelat dan kopi tanpa gula.” Dia memberikan uang pas lalu duduk di kursi tanpa menunggu struk belanja dariku. Aku mencetaknya lalu memberikannya pada Rita.

Sekalian ya, titip.”


Rita yang sibuk menyiapkan kopi meraih struk belanja tersebut dengan tangan kirinya dan memberikan isyarat untuk menunda obrolan tadi. Aku menarik napas lega.

Related Posts

Galaxy Express (Bagian 6)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.