22 Juli 2013

Galaxy Express (Bagian 5)




Siapa yang mengantarmu pulang?” Sisca memperhatikan Renno yang menjauh dari pagar rumah kami. Hanya terlihat punggungnya yang ditelan kegelapan malam yang cukup dingin.


Renno, teman kerjaku.”

Aku menjawab sekenanya sambil masuk dan meletakkan tasku di kursi. Aku melihat televisi menyala di ruang tengah. Sisca pasti menungguku.

Teman kerjamu laki-laki? Bukannya kamu kerja di toko roti Rita?”

Dia koki baru.”

Sisca mengunci pintu dan membawakan tasku ke kamar. Aku mengikuti langkahnya. Kamar yang tadi pagi aku tinggalkan dalam keadaan berantakan sekarang sudah rapi. Sisca memang pintar merapikan barang. Berbeda denganku. Padahal kami saudara kembar yang berasal dari indung telur yang sama. Entah mengapa kami malah menjadi sangat berbeda dalam sifat dan nasib.

Sisca pintar, lebih modis, dan rasanya memang lebih cantik dariku. Dia pintar berdandan dan merawat diri. Apalagi dia sekarang seorang dokter di rumah sakit terkemuka di kota ini. Aku hanya bisa menarik napasku karena kecewa dengan diriku sendiri yang tak bisa mencapai impianku seperti Sisca. Dia begitu bersinar.

Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kamu pasti lelah kan?” Sisca memberikan handuk untukku.

Aku hanya menurut dan masuk ke kamar mandi. Menemukan air hangat di dalam bak dan beberapa lilin aroma terapi menyala di sana. Sisca memang sempurna. Kapan ya aku bisa seperti dia, sedikit saja. Aku menyayanginya tapi terkadang rasa sayangku itu menjadi membuatku semakin kecewa dengan diriku. Sejak kecil kami selalu dibanding-bandingkan.

Aku sekarang cukup dewasa untuk menerima Sisca memang lebih baik dariku setelah sekian tahun berlalu. Namun aku juga ingin orang tuaku bangga dengna semua yang aku lakukan. Mereka malah semakin tak peduli denganku sejak Sisca berhasil menjadi dokter. Sedangkan aku masih terjebak di toko roti Rita dan menyelesaikan novel-novelku yang segera akan ditolak penerbit yang aku harap mau menerimanya.

Aku melepas handuk yang melilit di tubuhku. Hawa dingin segera menyergapku. Akan terasa semakin dingin jika aku tak segera masuk ke air hangat di dalam bak mandi itu. Aku memejamkan mataku. Berusaha menikmati dan menghilangkan kepenatan yang menderaku.

Mau aku gosokkan punggungmu, Sofia?” Sisca menyentuh bahuku lembut.

Boleh...”


Saudara kembarku yang sempurna itu menggosok punggungku sambil memijat bahuku. Padahal aku tahu sendiri dia juga kelelahan sehabis bekerja di rumah sakit. Aku menikmati pijatannya dalam diam dan mata terpejam.

Related Posts

Galaxy Express (Bagian 5)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.