Langsung ke konten utama

Galaxy Express (Bagian 5)




Siapa yang mengantarmu pulang?” Sisca memperhatikan Renno yang menjauh dari pagar rumah kami. Hanya terlihat punggungnya yang ditelan kegelapan malam yang cukup dingin.


Renno, teman kerjaku.”

Aku menjawab sekenanya sambil masuk dan meletakkan tasku di kursi. Aku melihat televisi menyala di ruang tengah. Sisca pasti menungguku.

Teman kerjamu laki-laki? Bukannya kamu kerja di toko roti Rita?”

Dia koki baru.”

Sisca mengunci pintu dan membawakan tasku ke kamar. Aku mengikuti langkahnya. Kamar yang tadi pagi aku tinggalkan dalam keadaan berantakan sekarang sudah rapi. Sisca memang pintar merapikan barang. Berbeda denganku. Padahal kami saudara kembar yang berasal dari indung telur yang sama. Entah mengapa kami malah menjadi sangat berbeda dalam sifat dan nasib.

Sisca pintar, lebih modis, dan rasanya memang lebih cantik dariku. Dia pintar berdandan dan merawat diri. Apalagi dia sekarang seorang dokter di rumah sakit terkemuka di kota ini. Aku hanya bisa menarik napasku karena kecewa dengan diriku sendiri yang tak bisa mencapai impianku seperti Sisca. Dia begitu bersinar.

Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kamu pasti lelah kan?” Sisca memberikan handuk untukku.

Aku hanya menurut dan masuk ke kamar mandi. Menemukan air hangat di dalam bak dan beberapa lilin aroma terapi menyala di sana. Sisca memang sempurna. Kapan ya aku bisa seperti dia, sedikit saja. Aku menyayanginya tapi terkadang rasa sayangku itu menjadi membuatku semakin kecewa dengan diriku. Sejak kecil kami selalu dibanding-bandingkan.

Aku sekarang cukup dewasa untuk menerima Sisca memang lebih baik dariku setelah sekian tahun berlalu. Namun aku juga ingin orang tuaku bangga dengna semua yang aku lakukan. Mereka malah semakin tak peduli denganku sejak Sisca berhasil menjadi dokter. Sedangkan aku masih terjebak di toko roti Rita dan menyelesaikan novel-novelku yang segera akan ditolak penerbit yang aku harap mau menerimanya.

Aku melepas handuk yang melilit di tubuhku. Hawa dingin segera menyergapku. Akan terasa semakin dingin jika aku tak segera masuk ke air hangat di dalam bak mandi itu. Aku memejamkan mataku. Berusaha menikmati dan menghilangkan kepenatan yang menderaku.

Mau aku gosokkan punggungmu, Sofia?” Sisca menyentuh bahuku lembut.

Boleh...”


Saudara kembarku yang sempurna itu menggosok punggungku sambil memijat bahuku. Padahal aku tahu sendiri dia juga kelelahan sehabis bekerja di rumah sakit. Aku menikmati pijatannya dalam diam dan mata terpejam.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan