20 Juli 2013

Galaxy Express (Bagian 3)



Aku dan Rita akhirnya selesai membersihkan toko roti yang seharian ini kami jaga. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 lewat. Sudah saatnya untuk pulang. Renno juga sudah berganti pakaian. Tak ada seragam putih dan topi putih di kepalanya. Aku melepas celemek dan menggantungnya di tempat biasa. Rita menatapku dan Renno bergantian.


Aku bisa pulang bersama supir ayah, Renno temani Sofia pulang ya?”

Aku bisa pulang sendiri kok.” Aku menolak dengan halus.

Tidak apa. Aku akan mengantarmu.” Renno menarik tas ransel yang belum sempat aku kenakan.

Aku suka naik kereta. Tak perlu mengantarku. Lagi pula lebih cepat pulang naik kereta.”

Aku akan naik kereta bersamamu.”

Aku tak bisa menolak lagi sekarang selain membiarkan Renno mengikuti langkahku sambil membawakan tas yang lumayan berat itu. Rita melambaikan tangan pada kami. Aku membalasnya dengan senyuman tipis. Lalu mulai melangkahkan kakiku melewati jalan yang biasa. Aku berjalan di sisi kiri Renno dalam diam.

Kamu sepertinya sedang sakit?”

Tidak, aku baik-baik saja.”

Aku terus melangkah dan mengunci bibirku. Renno sepertinya mengerti aku sedang tak ingin berbicara dengannya. Aku sudah menghindari untuk pulang bersamanya tapi sekarang aku malah harus diantar pulang olehnya. Pikiranku kembali berisi tentang laki-laki yang aku temui di Galaxy Express tadi pagi. Siapa namanya? Apa yang dia lakukan? Apakah besok aku akan bertemu lagi dengannya?

Jalanan mulai sepi. Bekas rintik hujan masih membasahi aspal yang semakin pekat di bawah lampu jalan. Aku sedikit kedinginan. Akhir-akhir ini memang hujan selalu turun malam hari. Tak begitu deras tapi cukup membuatku menggigil.

Seharusnya kamu membawa jaket.” Renno menyampirkan jaketnya ke punggungku. Membuatku sedikit hangat.

Terima kasih.”

Tanganmu pasti dingin.”

Renno meraih tanganku dan menggenggamnya dengan tangan kirinya setelah menaikkan ranselku ke punggungnya. Tangannya hangat. Membuat tanganku sedikit panas. Tak pernah ada orang yang menggenggam tanganku sebelumnya. Aku jengah. Pipiku pasti merona. Debaran jantungku terdengar sangat keras.

Jangan pernah pulang sendiri lagi. Kamu perempuan.”

Di kereta banyak orang kok.”

Terlalu berbahaya.”

Perasaan aneh ini tiba-tiba menghinggapi perasaanku. Renno yang baru kukenal entah mengapa membuatku tenang. Membuat dadaku hangat. Apakah Rita juga merasakan perasaan yang sama ketika bersama Renno?

Masih dingin?”

Aku menggelengkan kepalaku.

Besok kubawakan sarung tangan, aku punya banyak di rumah, persiapan menghadapi musim dingin, sekarang malah tak bisa digunakan karena aku merasa suhu seperti ini tidak dingin.”

Ini dingin sekali.”

Di tempatku dulu musim panas saja 20 derajat. Di sini pasti dianggap sangat dingin.”

Mengapa kamu ke sini? Kamu kan bisa buka usaha di tempatmu dulu? Kue buatanmu enak sekali. Seharusnya kamu bisa membuka toko sendiri yang lebih besar dari toko Rita.”

Ada sesuatu yang membuatku datang ke sini. Tapi rahasia. Aku tak akan membaginya denganmu.”

Maaf, aku pasti sangat tidak sopan bertanya seperti itu denganmu.”

Tidak apa, banyak kok yang bertanya seperti itu padaku.”

Langkah kami sudah semakin dekat dengan stasiun. Aku menghentikan pembicaraan kami dan menarik tanganku. Aku segera membeli tiket untuk pulang. Saat itu langkahku yang setengah berlari jadi melambat. Degub jantungku hampir terhenti saat melihat sosok yang berada di depan loket. Dia hanya berdiri di situ sambil memainkan ponselnya. Mata kami bertatapan beberapa detik. Aku salah tingkah hingga akhirnya Renno menyusulku.

Jalanmu cepat sekali.”

Aku takut loketnya tutup.”

Biar aku yang beli tiketnya.”

Tapi...”

Tak apa...”

Renno segera mengulurkan beberapa lembar uang dan menyebutkan jumlah tiket yang ingin dia beli. Aku menunggu di belakangnya dalam diam. Menundukkan kepalaku. Aku ingin mencuri pandang pada laki-laki itu tapi aku takut mata kami bertemu lagi. Setelah Renno mendapatkan dua tiket, kulihat laki-laki itu juga membeli tiket.

Dia menungguku? Sejak kapan dia ada di sana?

Renno menggenggam tanganku lagi namun segera aku tepis.

Sudah hangat kok, terima kasih.”

Aku duduk di kursi yang tersisa. Banyak kursi yang kosong. Renno duduk di kursi di depanku sambil mengamati wajahku. Aku menunggu laki-laki itu masuk dengan rasa yang tak bsia aku gambarkan. Sesekali aku melirik ke pintu kereta dan menarik napas lega saat dia berada di dalam, bersama kami semua. Dia berdiri dengan posisi yang bisa kulirik diam-diam.


Selama dalam kereta yang melaju itu tak ada yang berbicara. Aku juga tak ingin mengobrol dengan Renno. Aku hanya bisa mengamati laki-laki itu. Laki-laki yang tangannya dipenuhi oleh bekas cat yang sulit dibersihkan. Tukang cat itu. Aku merasa senang bisa berada dalam kereta yang sama lagi dengannya.

Related Posts

Galaxy Express (Bagian 3)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.