19 Juli 2013

Galaxy Express (Bagian 2)



Rita menyambutku di depan pintu toko dengan tangan menyilang di dadanya. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Aku melewatinya saat masuk. Aku bisa mendengar dia mengikutiku dari belakang. Aku diam saja sambil meletakan tasku di bawah meja kasir dan segera menyambar celemek yang tergantung yang biasa aku gunakan. Rita berdiri di sampingku menatap semua hal yang aku lakukan.


Ada apa?” akhirnya aku tak sabar untuk mengetahui arti tatapan matanya itu.

Kamu terlambat.”

Masih belum jam 10 kok. Masih kurang 5 menit.”

Kamu naik Galaxy Express kan? Seharusnya kamu tiba di sini 25 menit yang lalu.”

Terus?” aku mengerling Rita.

Ini bukan kamu yang biasanya, Sofia.”

Aku hanya berjalan lebih lambat.”

Jangan bohong, kamu tadi datang dari arah yang berbeda. Ada sesuatu, katakan, katakan.”

Rita mulai menggelitik pinggangku dengan wajah nakalnya.

Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin jalan-jalan dan melewati tempat yang baru.”

Jangan bohong aaaaahhh...” Rita terus saja menggodaku.

Ih kamu ini, Ta. Jangan gitu ah, nanti aku tak bisa konsentrasi bikin kue nih...”

Semua kue sudah siap kok. Tak ada lagi yang perlu dibuat.”

Kamu membuatnya?”

Kamu belum kenalan dengan koki baru kita ya? Ganteng looo...” Rita berbisik pelan sambil mencubitku dengan gemas.

Pantas saja Rita sangat bersemangat hari ini. Aku bisa menebak koki itu seperti apa. Ganteng, tinggi, putih, suaranya lembut, dan matanya sipit. Jenis lelaki yang akan membuat seorang Rita terhanyut begitu saja.

Jadi sekarang aku tak perlu bikin kue lagi?”

Kita berjaga saja di sini.”
Memangnya kuenya enak? Kok bisa tiba-tiba ada koki?”

Ayahku yang memasukkannya ke sini. Katanya dia koki terkenal di Eropa. Entahlah, aku tak pernah melihatnya di televisi.”

Kalau dia koki terkenal seharusnya toko roti kecil begini tak mampu membayarnya, kamu sudah memperhitungkan gajinya?”

Rita tersenyum lebar lalu menggandengku.

Itulah bagian enaknya, aku tak perlu membayarnya.”

Ayahmu yang memasukkannya ke sini dan dia tak perlu digaji? Mencurigakan.”

Lonceng yang digantung di depan pintu berbunyi membuat obrolan kami berdua terhenti. Sekarang detak jantungku yang terhenti. Laki-laki yang kutemui di Galaxy Express masuk dengan gerakannya yang sedikit cuek. Dia langsung berdiri di depan kami berdua. Mata kami bertatapan beberapa detik sampai akhirnya aku menundukkan kepalaku.

Kue cokelat kejunya satu, kopi tanpa gula satu.”

Dua puluh delapan ribu.”

Aku menekan tombol mesin kasir dan menerima uang yang dia ulurkan. Memberikan struk dan kembaliannya dalam diam.

Terima kasih. Pesanannya akan segera kami antar.” Rita langsung menyapanya dengan ramah.

Laki-laki itu memasukkan uang kembalian ke saku celananya dan duduk di meja yang tak jauh dari meja kasir. Rita menatapku heran. Biasanya aku akan menyapa semua pengunjung dengan senyuman termanis saat memberikan uang kembalian.

Kamu takut sama orang itu?”

Tidak...” pelan sekali suaraku.

Kamu aneh hari ini, Sofia.”

Seorang lelaki dengan seragam putih keluar dari pintu di belakang kami. Bertatapan sebentar denganku lalu melempar senyuman dan mengulurkan tangannya.

Renno. Kamu pasti Sofia.”

Tangan kami bersentuhan beberapa detik sebelum aku terpaksa menariknya karena laki-laki itu menahannya sedikit erat.

Iya aku Sofia.”

Rita menyiapkan pesanan laki-laki yang tadi kutemui di Galaxy Express dengan sigap. Berjalan membawa sepotong kue dan segelas kopi pahit menuju satu-satunya meja yang terisi. Jam segini memang bukan jam yang ramai. Pengunjung paling banyak datang pagi dan sore. Sedangkan siang kebanyakan orang memilih rumah makan dibandingkan toko roti ini.

Boleh tukaran nomor hape?” Renno mengejutkanku yang masih terdiam.

Oh, boleh.”

Renno menyerahkan ponselnya, meminta aku mencatatnya di sana. Beberapa detik kemudian ponsel itu aku kembalikan. Renno memeriksanya kembali dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Aku misscall ya, jadi nanti nomorku juga kamu simpan.”


Aku menjawab dengan anggukan kepalaku. Perasaanku benar-benar tak menentu. Aku yang berniat mengamatinya sekarang berada di dalam toko yang sama dengannya. Kalau aku mau aku bisa saja menyapanya dan meminta nomor ponselnya atau setidaknya bertanya namanya siapa. Rita pasti mengizinkan, tapi rasanya itu cukup memalukan. Aku mengepalkan tanganku berusaha tenang.

Related Posts

Galaxy Express (Bagian 2)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.