18 Juli 2013

Galaxy Express (Bagian 1)


Aku masuk ke dalam kereta setelah membeli tiket sekali jalan. Tas ranselku sedikit memperlambat gerakanku sehingga banyak orang yang berjalan mendahuluiku bisa mendapat tempat duduk lebih dulu. Aku hanya menghela napas saat sadar harus berdiri di antara banyaknya orang yang satu arah denganku. Berbagai macam bau bercampur aduk menjadi satu. Padahal masih belum begitu siang. Baru pukul 9 lewat. Tapi bau keringat di mana-mana. Untung tak ditambah asap rokok sebab di dalam kereta ada pendingin ruangannya.


Lututku menyentuh kaki seorang penumpang yang sedang duduk dengan keras saat seseorang menabrak ranselku yang penuh buku. Referensi untuk aku memulai debut novel pertamaku. Aku ingin belajar dari banyak novel ternama dari berbagai generasi. Sayangnya sampai sekarang aku masih terjebak di toko roti sahabatku. Tak ada satu novelku pun yang diterbitkan. Aku memang belum menyerah namun aku kelelahan.

Maaf...”

Mataku bertatapan dengan sepasang mata lelaki yang dingin. Dia langsung berdiri dan memberikan isyarat agar aku duduk di kursi yang tadinya dia tempati. Ragu-ragu aku bergerak duduk dan mataku tak lepas dari menatapnya.

Alisnya tebal. Bibirnya yang merah kegelapan sesuai dengan kulit sawo matangnya. Rambutnya yang ikal dikuncir rapi ke belakang. Tangannya belepotan cat. Penuh warna. Dia berdiri di dekatku. Di posisi tadi aku berdiri. Kami berhadapan dalam diam. Untuk pertama kalinya darahku berdesir melihat seorang lawan jenis.

Dia yang dingin terlihat sangat menarik. Dia juga baik. Meskipun dia tak mengeluarkan kata-kata. Matanya yang tajam menatap ke depan kuamati dalam diam. Saat aku terus menatap matanya dia tiba-tiba balik menatapku. Tanpa sedikit pun senyuman.

Aku merasa malu dan takut dalam waktu yang bersamaan. Aku akhirnya menundukkan kepalaku. Tak mau lagi mata kami bertemu di waktu yang sama. Bisa-bisa dia akan marah padaku. Tak berapa lama kereta tiba di stasiun yang kutuju. Terburu-buru aku keluar bersama puluhan orang lain. Dia juga keluar. Aku tak melepaskan pandanganku dari punggungnya.

Kulirik arloji di tangan kananku. Masih ada waktu sebelum jam kerjaku dimulai. Aku masih bisa mengikuti langkah laki-laki itu. Aku penasaran dia menuju ke mana. Aku menjaga jarak, jangan sampai dia menyadari aku membuntutinya seperti seorang mata-mata.

Aku masih bisa melihat kotak-kotak yang ada di kemeja yang dia kenakan setelah kaos putih di dalamnya. Tapi aku berusaha menutupi wajahku dengan sesekali menoleh ke belakang saat jarak kami tiba-tiba dekat. Beberapa belas menit berlalu. Ternyata dia berhenti di simpang empat kota. Lalu mengamati gedung-gedung yang baru selesai direnovasi.

Beberapa orang menyapanya. Aku berhenti di bawah pohon akasia. Mengamati gerak-geriknya. Dia bekerja sebagai kuli bangunankah? Aku dengan sabar menanti apa yang dia lakukan hingga akhirnya aku melihat dia mengeluarkan kuas dari dalam tasnya.

Baiklah, dia tukang cat? Tukang cat yang terlalu keren. Aku pikir dia bisa mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan dengan tampang seperti itu. Wajahnya tidak begitu buruk. Tubuhnya juga kekar. Aku bisa melihat tonjolan otot dadanya meskipun tak begitu besar. Setidaknya jangan jadi tukang cat dengan tampang seperti itu.


Aku berbalik dan mengambil jalan pintas menuju toko roti tempat aku bekerja. Tak begitu jauh dari simpang empat ini. Hanya beda beberapa blok.

Related Posts

Galaxy Express (Bagian 1)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.