24 Juli 2013

Aki (Bagian 6)


Ini adalah bagian terakhir dari semua tulisan dengan label 'Aki'. Kakek saya yang sekarang genap 11 tahun kepergiaannya.


Sekarang saya lebih sering mengenang bagian kami bermain bersama. Bagian dia selalu menggendong saya setinggi mungkin dan membiarkan saya menyentuh langit-langit, tak peduli Uwan (nenek) akan mengomel karenanya. Saya yang masih gendut. Rambut yang jarang. Dress biru yang selalu saya kenakan.

Rasa ingin tahu saya pada mesin jahit Aki. Membuatnya kehabisan jarum jahit untuk mesin tersebut karena saya membuatnya patah semua. Aki hanya akan mengomel kalau saya menggunakan gunting kesayangannya untuk menggunting kertas. Alasannya karena itu akan membuat gunting tersebut menjadi tumpul. Saya tidak tahu korelasi antara kertas dan gunting yang bisa membuat gunting tersebut menjadi tumpul. Tapi saya selalu percaya omongan Aki.

Saya juga selalu mengingat kami sering ke Sentebang dengan sepeda. Aki akan menggonceng saya dan mengikat kaki saya di batang sepedanya, di bawah tempat dia duduk dengan sapu tangannya. Supaya kaki saya tidak tersangkut di jari-jari sepeda. Setiap kali kami ke sana, saya selalu mengenakan sepatu flat berwarna putih milik saya.

Lalu sebelum dia melaju, dia akan menarik tangan saya supaya memeluk pinggangnya. Dia akan selalu menjadi laki-laki pertama yang membawa saya jalan-jalan berkeliling dengan sepedanya. Dia juga akan selalu menjadi laki-laki pertama yang paling saya rindukan di dalam dunia ini.


Terima kasih Aki untuk kehadiranmu. Meskipun tak bisa Aki membaca tulisan ini. Biarlah kenangan kita berdua tetap abadi selamanya di hati dan ingatan Hani.

Related Posts

Aki (Bagian 6)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.