24 Juli 2013

Aki (Bagian 4)


Beberapa tahun sebelum dia meninggal, saat asmanya kambuh, saat kepalanya sakit karena tekanan darahnya naik, Aki akan meliburkan diri. Tak ada pertemuannya dengan sawah hari itu. Dia akan duduk sambil memegang kepalanya. Saya selalu duduk menungguinya saat dia sakit begitu. Saya batal bermain dengan teman-teman dan menemaninya ngobrol.


Aki suka sekali mengganggu saya dengan pertanyaan.

Gemanelah pun Aki mati?” (Bagaimana kalau Aki meninggal?)

Jawabannya tak akan keluar dari bibir. Saya tak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Karena habis pertanyaan itu saya akan menangis meraung-raung. Saya tak rela dia meninggal dunia. Saya waktu itu masih lagi duduk di bangku SD dan Aki senang mengganggu saya dengan pertanyaan seperti itu. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak melihat saya menangis. Sepertinya Aki senang, menyadari bahwa saya sangat menyayanginya. Walaupun saya tak pernah bisa mengatakannya secara langsung padanya.

Setelah kepergiannya, saya harus masuk sekolah lagi karena liburan sudah berakhir. Saya yang duduk di kelas dua SMA, setiap malam akan menangis karena sejak saat itu dunia tak lagi sama. Dunia akan berbeda. Di dunia yang sekarang saya tinggali ini, tak ada lagi Aki yang sangat menyayangi saya. Laki-laki yang selalu saya rindukan di kampung sana.


Bahkan saya belum sempat menunjukkan padanya saya menjadi seperti apa sekarang. Tak sempat dia melihat saya yang membesar menjadi seorang perempuan dewasa. Tak ada lagi aroma tubuh yang membuat saya merasa tenang setiap berada di rumah dan tak ada lagi orang yang saya tunggu pulang dari sawah dengan sepeda 'sepor' hijaunya.

Related Posts

Aki (Bagian 4)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.