24 Juli 2013

Aki (Bagian 3)


Aki meninggal dunia saat saya berusia 16 tahun. Saya baru saja naik ke kelas 2 SMA waktu itu. Saya kesal sekali tak bisa menghabiskan malam terakhir bersamanya. Saya hanya bisa melihat maut menjemputnya pagi itu.

5 Juli 2002.

Pagi-pagi saya dibangunkan oleh Umak karena Aki sedang kritis di rumah sakit. Uwan sudah di sana. Kami tak punya sepeda motor. Sepeda sudah digunakan oleh Umak untuk ke sana. Pilihannya saya hanya bisa berjalan kaki. Rasanya itu adalah jalan kaki terpanjang yang pernah saya lakukan. Saya ingin segera sampai.

Sebenarnya rumah sakit tak begitu jauh, saya hanya butuh 10 menit untuk tiba di sana dengan berjalan kaki. Tapi memikirkan laki-laki yang sangat saya sayangi itu mendapat serangan jantung. Kritis. Saya tak tahan untuk tidak berlari dan cepat-cepat mencari kamar dia dirawat.

Dia masih hidup. Dia mengeluh dan berkali-kali memanggil nama Uwan.

Mah, sakit Mah!” itu adalah kalimat terakhir yang berulang-ulang dia ucapkan.

Saya menangis. Semuanya menangis. Dia masih terus mengeluh. Uwan berada di sisinya. Memegangi tangannya dan mendekap kepala laki-laki yang menjadi cinta pertama dan terakhir di dalam hidupnya. Tak sanggup rasanya melihat Aki menderita seperti itu. Sampai Umak berinisiatif untuk menyalami Aki dan memohon maaf padanya.

Semua orang menyalaminya hingga tiba giliran saya yang terakhir menyalaminya. Saya mengecup tangannya lembut. Ternyata hanya itu yang Aki butuhkan. Keikhlasan kami semua. Karena setelah itu Aki tak mengeluh lagi. Rohnya telah dilepaskan dari raga. Pagi itu, pecahlah tangisan saya untuk pertama kalinya karena kehilangan orang yang paling saya cintai di dunia ini.

Saya tersedu dan tak bisa menghentikan tangisan saya. Bahkan saya tak diizinkan untuk mengecup jasadnya yang akan segera dikuburkan di pemakaman umum dekat rumah Uwan. Dunia saya runtuh. Seisi dunia ini terbalik. Saya merasa hancur. Kehilangan pegangan dan tak berdaya.


Dia, orang yang paling saya sayang, sudah tiada. Dia tak akan pernah memeluk saya lagi. Dia tak akan bercanda dengan saya lagi. Saya tidak siap untuk itu semua. Begitu cepat Tuhan mengambilnya.

Related Posts

Aki (Bagian 3)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.