24 Juli 2013

Aki (Bagian 2)


Postur tubuh Aki sangat proporsional. Cenderung sedikit kurus tapi berotot. Tipikal seorang petani di kampung. Dia Ancek (Ayah) yang penyayang untuk anak-anaknya dan Aki yang lucu untuk cucu-cucunya. Dia selalu bisa menimang saya saat saya butuh dihibur. Dia juga bisa jadi teman bermain saat saya masih kecil. Bermain bersama Aki adalah kenangan terbaik sepanjang masa.

Dia selalu bisa membuat mainan dari benda-benda bekas di sekitar kami. Dia yang mengajarkan bahwa semua mainan bisa dibuat. Iya, Aki memang tak banyak uang untuk membelikan cucunya mainan. Tapi dia selalu punya cara untuk membuat banyak mainan. Dia yang membuat saya suka bermain dengan gunting dan kertas.

Dulu waktu kecil saya suka sekali tidur bersamanya. Bau tubuhnya yang terbakar sinar matahari dan bau minyak angin yang selalu dia gunakan di dahinya membuat tidur saya nyenyak sepanjang malam. Dia pula orang yang akan menggendong saya saat saya tertidur di lantai di depan televisi. Waktu kecil memang saya senang sekali menonton televisi bersama Uwan. Uwan juga akan menyiapkan bantal supaya saya bisa langsung tertidur jika mengantuk.

Aki adalah orang pertama yang selalu saya cari waktu saya pulang kampung semasa SMA. Iya saya sekolah di tempat yang berbeda dan ngekost di sana. Saya pulang sesekali untuk melepaskan kerinduan pada Aki yang semakin menua. Walaupun saya hanya bisa melihatnya hingga usia belasan tahun, saya senang masih punya kesempatan untuk menjadi 'anak'-nya.


Dia itu anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidup saya.

Related Posts

Aki (Bagian 2)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.