24 Juli 2013

Aki (Bagian 1)


Seorang lelaki yang akan selalu menjadi ayah nomor satu di dalam kehidupan saya adalah kakek saya. Saya menyebutnya Aki. Kependekan dari Nek Aki. Di kampung saya memang kakek-kakek selalu dipanggil dengan panggilan Aki.


Saya ingin sekali membuat tulisan khusus untuknya yang lebih panjang dan saya rasa ini adalah saat yang tepat.

Saya tinggal bersamanya dan menjadi 'anak kesayangannya' saat adik saya, Desilva, lahir ke dunia. Tahun 1988 akhir, adik saya lahir dan saya dititipkan di rumah Aki dan membesar bersama kakak sulung saya. Aki seorang petani dan Pak Labay. Labay itu mirip dengan tetua di kampung. Tapi bukan Pak RT atau RW. Biasanya Labay dimintai tolong untuk memimpin doa atau menjadi imam di mesjid.

Itulah Aki saya. Dia pintar mengaji. Hapal banyak ayat Al-Quran. Baik panjang atau pendek. Dia tak akan bisa diganggu kalau sedang menonton tayangan tilawah Al-Quran di televisi. Kadang-kadang di rumah dia suka menggendangkan redang. Kalau redang sendiri adalah nampan bulat dan besar untuk menyajikan makanan saat kenduri. Nanti saya akan menceritakannya lebih detail di tulisan yang berbeda.

Redang adalah pengganti alat untuk Aki berdendang. Dia akan menyanyikan dzikir-dzikir yang biasanya digunakan di dalam pesta pernikahan atau acara selamatan di kampung. Kalau diingat-ingat hingga detik ini, hingga tulisan ini diterbitkan, saya masih mengenal suara Aki. Saya masih bisa membayangkan suaranya memanggil saya. Suaranya saat dia sedang sakit, batuk-batuk ketika asma, atau ketika dia sedang ngomel di rumah.

Satu hal yang tidak dia lakukan adalah membentak saya. Dia memang memiliki riwayat hipertensi dan sering kepalanya sakit karena tekanan darahnya naik. Dia selalu berusaha menghindari masakan yang mengandung sapi. Namun terkadang dia pulang sambil memegang kepalanya dan mengatakan.

Tadek makan di rumah si XXX be, nyaman lalu masakan daginnye.” (Tadi makan di rumah si XXX, enak sekali masakan daging sapinya.)

Kakiye?” (Terus?) ini biasanya Uwan yang akan menanyakan.

Padahal jak sikit be makannye, tapi tang panning palak tok e.” (Padahal makannya cuma sedikit, tapi kepala kok jadi pusing ya?)


Setelah itu siap-siap mendengar Uwan mengomel. Istilahnya, sudah tahu darah tinggi dan tidak boleh makan yang mengandung kolesterol. Masih saja dimakan.

Related Posts

Aki (Bagian 1)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.