Menulis Fiksi

Menulis fiksi buat saya paling mudah adalah ketika saya bisa merasakan apa yang tokoh di dalam cerita rasakan. Kalau saya kesulitan merasakan apa yang ‘dia’ rasakan saya akan menjadi beku dalam ide. Kesulitan mencairkan jalan cerita. Terhenti pada bagian yang tak berujung.

 Kristin


Jangan tanya soal endingnya yang sebenarnya sudah ada di dalam kepala. Pada akhirnya saya lebih lancar bercerita melalui lisan saja.

Kuncinya buat saya adalah kamu harus merasakannya. Semua perasaan yang ada di dalam cerita yang sedang dituliskan. Makanya ketika saya menuliskan tentang Nekad, itu menjadi cerbung yang paling cair yang bisa saya tuang. Saya pikir karena saya merasakan apa yang ‘dia’ rasakan. Bahkan saya ingin menjadi ‘dia’. Padahal dalam banyak sisi kami begitu  berbeda.

 smile when you can.

Tapi saat menyelesaikannya dan happy ending rasanya saya juga mendamaikan perasaan saya sendiri. Berdamai dengan banyak rasa yang berkecamuk di dalamnya. Menenangkan hati sendiri terkadang memang cukup menyulitkan. Tapi jika ditanya apakah saya bahagia menjadi diri saya sendiri? Saya akan menjawabnya di postingan yang lain. Sebab ini ingin membahas soal penulisan fiksi saya yang mentok akhir-akhir ini. Ini bukan writer block, sebab saya bisa menuliskan ide-de yang lain yang ada di dalam kepala.

 Untitled


Hanya ada bagian yang sulit saya diamkan. Endapannya masih bercampur dengan cairan hingga bagian atasnya. Ah saya rasa saya menuliskan ini dalam keadaan kerasukan.
Share:
Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes