Langsung ke konten utama

Kuminasi [Bagian 5]


19.20
Aku membayar taksi tersebut dengan beberapa lembar uang dan menenteng tasku dengan tangan kanan. Tak begitu berat sebab aku tak banyak membawa barang. Bayangan laki-laki yang tadi menggenggam tanganku berkelebat lagi. Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya dan itu semua karena aku tak mau membantunya. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan melangkah menuju lobi.


“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu, Bu?”

“Saya Jenna, kemarin saya sudah pesan kamar di sini.”

“Sebentar ya, saya periksa dulu.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Ini kuncinya, selamat beristirahat, Bu.”

Aku kembali mengangguk dan melangkah menuju lift setelah melirik sekilas pada kunci yang diberikan perempuan tadi. Kamar 501. Baiklah, aku akan istirahat malam ini dengan tenang sebab besok adalah hari yang sangat panjang untuk dijalani. Langkahku bergerak cepat keluar dari lift dan mataku mencari-cari kamar dengan nomor 501. Tergesa membukanya dan masuk. Pintu aku kunci kembali. Belum sempat aku menemukan tombol untuk menyalakan lampu aku menemukan ada orang lain di kamar ini. Aku hampir keluar tapi dia menarik tanganku. Mendekatkanku ke arahnya.

“Maaf saya salah kamar.”

“Aku tidak tahu mereka menyediakan teman untuk tidur di hotel ini.”

“Saya tamu di hotel ini. Saya rasa saya masuk kamar yang salah.”

“Bagaimana mungkin kamu salah kamar, kamu membuka kamar ini dengan kunci yang benar.”

Aku ingin berteriak tapi tak ada yang akan mendengar teriakanku di kamar yang kedap suara begini. Suara dari luar juga tak terdengar. Aku harus tetap tenang. Walaupun aku hanya bisa menahan napasku ketika dia mendekatkan wajahku ke daerah leherku.

“Kamu cantik, kamu juga harum.”

Aku mundur beberapa langkah dan terhenti saat punggungku menyentuh pintu. Tangannya masih mencengkram lenganku.

“Bisakah kamu membiarkan aku keluar? Aku benar-benar salah kamar.”

“Kamu di sini saja. Temani aku.”

Tanganku kuat sekali. Dia menarikku dan melemparkku ke ranjang. Suasana yang gelap tak cukup membantuku. Aku sudah siap melemparkan bantal ke arahnya jika dia mendekat.

“Tolonglah, kamu tak perlu menahanku di sini. Aku akan menganggap tak pernah terjadi apa-apa jika kamu membiarkan aku pergi. Aku benar-benar keliru masuk ke sini.”

Sudah aku duga dia tak akan mendengarkanku. Aku melemparkan semua bantal yang ada di atas ranjang dan berlari menjauh tapi dia berhasil menangkapku. Dia menekan leherku. Mencekikku dan menciumku dengan buas. Aku tak bisa berteriak. Tanganku mencari apa saja yang bisa aku ambil tapi tak ada apa-apa di dinding selain tombol lampu yang sejak pertama aku cari. Satu gerakan perlahan aku menekannya. Kamar itu segera dipenuhi cahaya.

Cekikan itu berakhir. Mata kami bertemu. Aku ternganga melihat siapa yang ada di hadapanku sekarang. Bukankah dia laki-laki yang tadi sore satu pesawat denganku? Wajahnya yang tadi dingin sekarang berubah menjadi ketakutan dia segera menjauh dariku. Mundur beberapa langkah. Dia menatap tubuhnya yang hanya dibaluti handuk di bagian pinggang hingga paha.

“Apa yang kulakukan padamu?”

Aku jatuh ke lantai dan memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke rongga dadaku. Lalu berdiri kembali dan mengambil tasku yang tadi kujatuhkan di depan pintu.

“Tunggu, jawab dulu. Apa yang kulakukan padamu?”

“Tanya dirimu sendiri. Aku mau keluar dari sini.”

“Mengapa kita ada di kamar yang sama?”

Wajahnya yang linglung. Dia tiba-tiba berkeringat. Wajahnya semakin memucat. Aku keluar tanpa mengatakan apa-apa.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma