Langsung ke konten utama

Kulminasi [Bagian 4]




16.05 WIB
Deru pesawat yang kudengar memekakkan telinga tak mampu mengusir kegundahanku. Aku mendatangi seseorang yang bisa jadi sudah melupakanku. Meminta orang yang paling mencintaiku di dunia untuk menunggu di sana. Cinta, sedemikian rumitnyakah keadaan yang kamu berikan padaku. Aku ingin bahagia itu saja. Tapi aku tak tahu apakah dengan menyelesaikan janji yang seharusnya aku tunaikan sejak dulu akan membuatku menemukan kebahagiaan itu.


Bersama Ben, akankah menjadi kebahagiaan yang sebenarnya? Hatiku terpaut sebegitu dalam pada laki-laki yang sama untuk bertahun-tahun lamanya. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Aku bahkan tak tahu apakah dia akan selalu menungguku di tempat janji itu akan ditunaikan. Janji adalah hutang. Aku tak ingin hidup tanpa melunasinya.

Aku mendengar orang di sebelahku terbatuk perlahan. Membuyarkan semua pikiranku. Perlahan aku menggeser pandanganku dan melihat sebentuk wajah yang sangat pucat di sana. Laki-laki, berusia antara 27-30 tahun.

“Kamu sakit?”

Aku berbisik di telinganya agak keras. Berharap deru pesawat tak melenyapkan suaraku yang sedikit tertahan. Dia hanya menjawab dengan gelengan.

“Apa kamu butuh sesuatu?”

Dia mengangkat tangan kanannya. Seakan-akan memintaku memberikan tanganku. Aku tak mengerti.

“Aku takut, bolehkah aku menggenggam tanganmu?”

Sejenak kemudian tatapanku berubah. Aku tak berminat memberikan tanganku untuk dia genggam. Paling-paling itu caranya untuk mendekati seorang perempuan asing di pesawat. Aku tak akan jatuh dengna wajah pucatnya itu. Aku memindahkan tanganku menjauh darinya dan kembali memandang ke jendela. Melihat awan-awan putih yang kami lewati. Memejamkan kedua kelopak mataku dan akhirnya aku terlelap. Entah berapa lama. Sebab saat aku bangun semua orang sudah bersiap-siap untuk turun. Aku masih duduk di tempatku membiarkan orang bergerak terlebih dahulu. Kemudian aku menyadari aku sedang menggenggam tangan seseorang. Tangannya sangat dingin. Wajahnya sudah tak sepucat tadi. Tapi ia menatapku dengan takut dan melepaskan tanganku. Tajam sekali aku menatap matanya. Protes karena dia menggenggam tanganku tanpa izin. Pasti tadi waktu aku tidur dia mengambil kesempatan untuk melakukan itu.

Aku berjalan terburu-buru keluar dari bandara. Tak ingin lebih lama lagi berada di sini. Namun laki-laki yang tadi duduk di sebelahku mengejar langkahku.

“Maaf, aku fobia berada di tempat yang tinggi.”

“Mengapa tak kamu pegang tangan orang lain saja? Mengapa harus tanganku?”

“Maaf.”

Aku tak melanjutkan sikap dinginku itu dan berjalan menjauh darinya.

“Hey! Tunggu!”

“Apa lagi?”

Aku menghentikan langkahku dan sekarang menatapnya.

“Ini pertama kalinya aku datang ke Pontianak, setidaknya bisakah kamu menunjukkan padaku penginapan yang kamu tuju?”

“Dari bagian mana kamu menganggap aku akan mencari penginapan malam ini?”

“Kamu bukan orang sini kan?”

“Kamu tidak tahu itu dan bahkan kita tak saling mengenal.”

“Tolonglah, ini pertama kalinya aku datang ke sini dan aku tak tahu harus bertanya pada siapa.”

“Naik taksi dan minta antar saja ke penginapan yang kamu mau. Banyak orang baik kok di sini.”

“Kamu juga orang baik kan?”

“Maaf, aku buru-buru. Silakan cari taksi yang mana saja. Mereka tidak akan menculikmu kok.”

“Tak bisakah kita menumpang taksi yang sama?”

“Kita tidak saling kenal dan aku tak berniat untuk mengenalmu lebih jauh. Tolong.”

Tatapanku menusuknya lebih tajam lagi.

“Maaf, maaf. Terima kasih atas bantuannya.”

Dia berlalu pergi dengan wajah kecewa. Sebenarnya ada rasa kasihan tapi aku datang ke sini hanya untuk menunaikan janjiku dan tak ada keinginan untuk berkenalan dengan siapa pun. Langkahku terhenti pada sebuah taksi yang sudah terbuka untukku. Aku masuk dan menyebutkan hotel yang ingin aku tuju.

“Tapi kita makan dulu ya Pak di Jalan Merdeka.”

“Iya, Bu.”

Dari balik jendela taksi aku menyaksikan awan yang memenuhi langit dengan warna putihnya. Langit begitu cerah tapi hatiku mendung. Banyak keraguan yang sedang menyapa dan aku tak tahu harus berbuat apa dengan semua keraguan itu. Sebab aku sendiri takut membayangkan hal-hal yang tak aku inginkan.

Apakah kulminasi tahun ini aku akan bertemu dengannya?

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma