26 Juni

"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film"Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."

Aku melakukannya lagi. Kukatakan ingin putus darimu untuk entah berapa kalinya. Kamu bisa mengatakannya sebuah kebiasaan dan itu akan menjadi bumbu yang membuat cinta antara kita berdua penuh dengan rasa. Tapi sekarang aku tak menerima satu pesan pendek pun darimu yang membujuk rayuku dan memohon untuk kita kembali lagi.
 
Aku termangu di depan kardus penuh dengan produk kecantikan yang selalu kamu berikan. Semua produk perawatan dari ujung kaki hingga rambut. Mereka tak dapat menjelaskan mengapa kali ini butuh waktu lama untukmu meminta hubungan kita berjalan kembali seperti biasa.

Hingga dering ponselku menghentikan tatapanku pada semua benda pemberianmu itu. Aku sangat mengenal nada dering ini. Panggilanmu.

“Halo..” aku merasakan suaraku lebih bergetar dari biasanya. Padahal ini sudah sering terjadi tapi entah mengapa rasanya aku baru pertama kali putus darimu.

“Kamu masih tinggal di rumah kontrakan yang kemarin kan?”

Aku baru ingat sudah hampir setahun berlalu dan aku terus menunggu kamu meminta hubungan kita kembali. Wajar kamu pikir aku sudah tak berada di rumah kontrakan ini lagi.

“Masih...” suaraku semakin bergetar. Aku menatap kalender dan menemukan tanggal yang aku lingkari merah. Tanggal itu beberapa hari lagi. Ulang tahunku.

“Aku di depan rumahmu sekarang. Bisa buka pintunya?”

Aku menahan napasku. Penantianku tak sia-sia. Kamu kembali untukku. Apakah ini kejutan indah untuk hari ulang tahunku? Kamu sengaja menunggu untuk memulai dari awal lagi hubungan kita? setelah aku berkubang dalam air mata menunggu semua pesan-pesanmu?

Padahal aku tahu kamu begitu murah hati untuk meminta maaf meskipun aku yang bersalah. Walaupun aku sangat egois memutuskan hubungan kita hanya hal sepele seperti kamu sering terlambat menjemputku atau kadang kamu tak bisa dihubungi.  Aku selalu menuduhmu selingkuh dan sekarang kamu membuktikan lagi bahwa aku salah.

“Kamu di sana? Bisa buka pintunya? Aku sudah di depan.”

“Sebentar.”

Aku menatap wajahku sejenak di kaca dan merasa tak ada yang kurang di sana. Aku sudah mandi. Aku berlari, kalau bisa terbang, ke pintu depan. Segera membukanya dan menemukanmu di depanku sekarang. Berharap kamu merangkulku dalam pelukan yang dalam.

“Aku datang untuk menyampaikan ini.”

Tanganmu terulur memberikan selembar kertas.

“Undangan?”

“Iya, pernikahanku.”

“Kamu akan menikah?”

“Kamu benar, aku memang punya kekasih lain, sekarang dia hamil dan aku harus menikahinya.”

Sejenak aku merasa duniaku runtuh mendengar kata-katamu. Aku sibak lembaran undangan itu di depanmu dan menemukan tanggal pernikahan kalian. Sekarang semuanya benar-benar runtuh berkeping-keping di depanku.

“Dari banyak hari yang ada di tahun ini apa tidak ada tanggal lain untuk menikah selain tanggal 26 Juni?”

“Aku sengaja memilih hari ulang tahunmu, karena saat bersamanya pun aku ingin terus mengingatmu.”

“Kamu tahu kan aku tidak akan pernah datang? Ada acara ulang tahun yang harus aku rayakan.”

“Aku paham.”

 

Kamu berlalu dan berjalan menjauh dari pintu rumahku. Sejak hari itu aku kemudian sadar bahwa hari ulang tahunku tak akan pernah sama lagi. Aku tersedu di depan sekotak benda pemberianmu yang harusnya kulempar pada sebentuk wajah yang tak bisa aku hilangkan dari ingatanku.
Share:
Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes