Seandainya Saya Tidak Ngeblog [Bagian 6]


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

sumber gambar: http://handokotantra.com


Pernahkah kita membayangkan betapa kuatnya efek yang diberikan tulisan yang kita keluarkan di blog? Sampai-sampai efeknya membuat orang lain harus mendatangi kita untuk meminta tulisan tersebut dihapus atau diganti.


Awalnya begini, saya mencoba makanan di sebuah tempat yang letaknya tak begitu jauh dari Radio Volare. Semangkok bakso. Karena saya suka sekali dengan makanan berkuah tentunya bakso ini cukup menantang rasa ingin tahu saya untuk dicoba. Sayangnya saya yang awalnya berharap sekali rasanya akan enak harus kecewa karena tidak sesuai dengan lidah saya.


Jadilah saya menuliskan komentar saya mengenai bakso tersebut di blog ini dan tulisannya sudah saya hapus atas permintaan sang pemilik dagangan tersebut. Saya memang menuliskan secara jujur bahwa rasanya tidak enak dan tidak sesuai dengan selera lidah saya. Namun yang menarik adalah pedagang yang ada di Pontianak tersebut mendapatkan informasi mengenai bakso yang mendapat komentar 'tidak enak' ini dari teman-temannya yang ada di luar Jawa.


Awalnya ada beberapa temannya yang mengatakan bahwa mereka menemukan tulisan saya termasuk foto bakso yang saya makan saat itu. Tentunya tulisan saya tersebut akan sangat tidak baik dampaknya bagi mereka. Waktu menuliskan itu sebenarnya saya tidak berpikir bahwa ini seperti menggelindingkan bola salju.


Saya menulis saja lalu menerbitkannya. Selesai cerita. Itu buat saya sendiri. Tapi ketika tulisan itu dilempar ke blog, cerita yang sesungguhnya baru saja dimulai untuk pedagang tersebut. Dari tulisan tersebut mereka menelusuri siapa orang yang berada di balik blog ini dan menemukan bahwa radio tempat saya siaran tak begitu jauh letaknya dari tempat mereka membuka usaha.


Untuk kenyamanan bersama, saya tidak akan mempublikasikan nama warung mereka sehingga tulisan ini tidak akan membuat efek yang sama dengan sebelumnya. Setelah menimbang-nimbang mereka akhirnya memutuskan untuk mendatangi Radio Volare. Tujuannya hanya meminta saya menghapus tulisan tersebut.


Saya pikir begini, jika mereka langsung mendamprat saya, jangan harap saya akan menghapus tulisan tersebut. Bahkan saya sudah berpikir untuk menulis lebih banyak lagi tentang kejadian selanjutnya setelah tulisan tersebut diterbitkan. Saya akan membuat tulisan baru yang berisikan tentang kemarahan mereka. Untungnya itu tidak terjadi.


Mereka dengan lembut menceritakan awalnya mereka mendapat kabar ada pelanggan yang tidak puas dengan bakso buatan mereka. Mereka sebenarnya berusaha untuk cuek saja dengan komentar orang-orang yang menyampaikan tentang tulisan saya. Menurut mereka: “Ah itukan cuma tulisan, online pula! Tak ada dampaknyalah dengan dagangan kami.” Tapi omongan tentang tulisan saya makin lama makin mengganggu karena semakin banyak yang membacanya dan tahu tentang 'ketidakenakan bakso mereka dalam versi saya'.


Namanya lidah kan punya seleranya masing-masing. Bisa jadi tidak enak menurut saya beda lagi dengan pendapat orang lain yang memakannya. Karena tidak ingin usaha mereka bangkrut gara-gara tulisan saya, mereka memohon agar tulisan tersebut diganti atau dihapus. Alasan mereka sangat klasik dan itu memengaruhi saya.


Kami hanya cari makan, Mbak.”


Kalimat itu membuat saya luluh. Saya segera menghapus tulisan saya. Dihari yang sama. Supaya mereka tidak mendapatkan tekanan yang lebih berat hanya gara-gara tulisan saya. Saya menghapusnya karena saya masih punya rasa tidak tega walaupun saya paham sekali mereka tidak punya hak untuk meminta saya menghapusnya. Toh itu pendapat saya untuk mengatakan rasa dari bakso yang sudah saya konsumsi bukan?


Seandainya saya tidak ngeblog saya tidak akan pernah tahu berapa besar efek yang diberikan hanya dengan sebuah tulisan.
Share:
Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes