Komunitas Ideal [bagian 2]


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Sebuah komunitas yang terdiri dari banyak kepala tentunya tidak akan bisa menjadi sebuah komunitas yang ideal apabila ada orang yang tidak bisa bertenggang rasa satu sama lain. Jadi ketika akan membentuk sebuah komunitas adanya tenggang rasa bisa membuat komunitas menjadi sebuah komunitas yang ideal.


Setelah menyatukan niat untuk membentuk komunitas yang tujuannya baik, anggota sebuah komunitas harus melihat ke dalam dirinya masing-masing. Tidak ada satu orang pun yang berhak memaksakan kehendaknya di dalam sebuah komunitas, meskipun dia ditunjuk sebagai ketua. Kecuali memang sejak awal sudah dibuat sebuah peraturan bahwa ketua memiliki hak penuh untuk memutuskan sesuatu tanpa perlu memikirkan pendapat komunitasnya.


Komunitas, kadang-kadang jika tidak dibentuk menjadi komunitas yang ideal bisa saja menjadi komoditi pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Biasanya untuk meraup keuntungan dari komunitas tersebut. Bau-baunya ya uang.


Politik uang memang terkadang kejam dan tak berperikemanusiaan. Apabila semua yang ada di dalam komunitas sudah terbius oleh harumnya rupiah ataupun dollar, ya ujung-ujungnya, perlahan tapi pasti komunitas akan menuju kehancuran.


Saya tidak mengatakan bahwa komunitas tidak membutuhkan uang. Tentu saja, komunitas apa pun membutuhkan uang untuk kelangsungan komunitas tersebut. Misalnya saja, sebuah komunitas membutuhkan tempat khusus untuk berkumpul. Tidak semua komunitas bisa mendapatkan tempat dengan cuma-cuma bukan? Belum lagi listrik dan air yang dibutuhkan. Sama seperti membangun sebuah rumah tangga.


Namun, ketika komunitas yang sudah susah payah dibangun dengan keringat dan darah itu sudah tidak sehat lagi tujuan akhirnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi komoditi yang bisa dijual, kita akan mempertanyakan sendiri pada wajah-wajah yang kita lihat di dalam komunitas tersebut satu hal saja.


Mau dibawa ke mana komunitas ini?


Sudah banyak komunitas yang pada awalnya terlihat 'baik-baik saja' namun semakin ditengok ke belakang, apalagi saat ada anggota komunitas yang saling menyalahkan atau ada yang tidak saling suka dan menganggap orang lain lebih buruk darinya, saat itulah. Kita akan berada pada titik yang memisahkan isi komunitas tersebut. Bisa jadi menjadi rival yang berseberangan pendapatnya.


Saya sendiri pernah berada di sebuah komunitas dan kemudian anggotanya terpecah belah hanya gara-gara satu orang menyatakan pendapatnya yang sama sekali tidak masuk di akal. Buat saya itu tidak masuk di akal. Tentu saja bagi yang mengeluarkan pendapat tersebut, apa yang dia sampaikan sudah benar. Pendapatnya menyudutkan orang yang membentuk dan akhirnya dijadikan ketua komunitas tersebut. Bisa ditebak, ketua mundur dan komunitas menjadi kacau.


Saya lebih baik memilih berada di luar garis peperangan dingin tersebut walaupun sebenarnya saya tidak setuju dengan pendapat yang anggota tersebut keluarkan. Memang bukan saya yang disudutkan. Bukan saya pula orang yang disebut-sebut sebagai orang yang memanfaatkan komunitas demi kepentingan pribadi. Lagi-lagi politik uang ya?


Memang akan selalu ada manfaat yang akan kita dapatkan dari bergabung di dalam sebuah komunitas sebab ada harga bernama 'risiko' yang mesti kita bayar untuk mendapatkan manfaat tersebut.


Saya tidak mengatakan bahwa berada di dalam sebuah komunitas itu buruk. Tetapi saat membentuk komunitas, berhati-hatilah dengan anggota yang ada di dalamnya. Bisa jadi orang yang bergabung tersebut hanya akan menjadi musuh dalam selimut yang membuat komunitas hancur berkeping-keping. Carilah orang yang memiliki niat yang sama. Punya visi misi yang sama. Tentu saja orang tersebut juga punya rasa tenggang rasa yang tinggi dan tidak membuat orang lain tersudut di dalam komunitasnya sendiri.
Share:
Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes