Cinta Putih [Bagian 15]


Cinta Putih [Bagian 10]Cinta Putih [Bagian 11]

Large
gambar pinjam di http://weheartit.com

Mataku menatap dua sosok asing yang tidak aku ingat sama sekali keberadaannya. Rasanya merekalah orang seharusnya aku sebut sebagai orang tua. Mereka berdua benar-benar lenyap dari ingatanku. Aku lupa bagaimana aroma tubuh kedua orang tuaku yang sebenarnya. Tapi sekarang aku yakin memang aku anak orang lain. Bukan adik Jun. Sama sekali bukan.

Aku tak tahu harus bagaimana. Rasanya sedih ada bagian diriku yang terlupakan. Namun di balik itu aku juga bingung untuk mencoba mengingatnya kembali. Karena bagian itu seakan-akan telah dihapus oleh Tuhan dari ingatanku. Jun masih menggenggam tanganku saat aku menekan tombol ‘stop’.

“Ada apa?”

“Tak ada gunanya, aku sama sekali tak mampu mengingat kenangan masa laluku. Aku bahkan tak bisa mengingat kedua orang tuaku.”

“Lantas bagaimana dengan hidupmu?”

“Aku akan menunaikan janji yang telah dibuat kedua orang tuaku. Jika memang pernikahan itu adalah keinginan mereka aku tak ada masalah untuk menerimanya.”

Large
gambar pinjam di weheartit


“Benarkah?”

Aku menganggukkan kepalaku membenarkan ucapan Jun.

“Walaupun aku masih belum bisa menerima kita bukan saudara. Di mataku rasanya aku masih melihatmu sebagai abang kandungku.”

“Tidak apa-apa, aku juga tak meminta banyak. Aku tak akan mendesakmu untuk melangsungkan pernikahan kita.”

“Janji adalah janji. Aku akan menikah denganmu, Jun.”

Untuk pertama kalinya aku kesulitan memanggilnya. Jun terlalu asing bagiku. Selama ini aku terbiasa memanggilnya abang.

“Aku siap menunggumu, Renata. Kapan pun, ketika kamu benar-benar yakin dengan pilihanmu.”

Large
gambar dari weheartit


“Bukankah aku tak ada pilihan apa pun. Menikah denganmu adalah satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk membayar semua janji yang telah dibuat orang tuaku. Bahkan janji orang tuamu juga. Kita tidak akan mengorbankan semua janji itu hanya karena aku tak mengingat satu apa pun yang mengikat kita sebelumnya bukan?”

“Renata…”

“Sudahlah, Jun.”

Aku keluar dari ruangan tersebut dan menyelinap ke kamarku. Kamar yang aku pikir benar-benar kamarku sejak aku lahir ke dunia ini. Semuanya terasa asing. Terlampau asing untuk dipahami.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes