Cinta Putih [Bagian 12]


Cinta Putih [Bagian 10]

Cinta Putih [Bagian 11]

"Aku akan kembali ke Jogja. Aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu merasa tidak nyaman. Seharusnya aku tak memaksamu."



Leon menggenggam tanganku saat mengatakannya. Aku hanya bisa mengangguk.


"Jangan pikirkan aku, aku yang terlalu egois dan tak bisa mengontrol diriku."



"Leon, sejak pertama aku tidak ada niat untuk menikah dengan siapa pun. Apakah kamu lupa bahwa aku tak pernah jatuh cinta? Aku tak tahu caranya. Rasanya bagian untuk membuatku jatuh cinta tertutup. Aku tak tahu penyebabnya."


"Jangan dibahas, aku tak mau menyakitimu. Jangan sampai kamu menangis, tersenyumlah."



"Aku tidak apa-apa."


"Saat aku pulang nanti aku harap kita masih bisa berteman seperti dulu."


"Leon, pernahkah kamu merasa ada bagian dari dirimu yang hilang dan terlupakan?"


"Kalau aku berjauhan darimu rasanya aku takut menjadi bagian yang hilang dan kamu lupakan Renata."


"Bagaimana mungkin aku akan melupakanmu?"


"Padahal aku sudah tahu kamu tak akan melupakanku, tapi selalu saja aku melakukan hal-hal yang keliru. Seharusnya aku tidak datang dan membuatmu bingung begini."


"Aku iri kamu bisa merasakan yang namanya jatuh cinta. Sedangkan aku kehilangan cara untuk menemukan rasa itu di dalam diriku."


"Perasaan itu ketika kamu ingin melihat seseorang bahagia dan itu bersamamu. Kamu tak ingin kehilangannya."


"Apakah itu yang kamu rasakan, Leon?"


"Sepertinya, tapi cinta tak boleh egois. Kalau orang yang kita cintai tak bisa bahagia bersama kita, kita mau tidak mau harus merelakan dirinya bahagian bersama orang lain."


"Maafkan aku, aku bukan sahabat yang baik untukmu, Leon."


"Jangan dibahas, setidaknya aku tak perlu menyimpan perasaanku lagi. Semuanya sudah tersampaikan, Ta."


"Apakah kamu akan kembali?"


"Aku pasti akan kembali, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu di sini."


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Berteman baik denganmu seperti biasa, Tuan Putri Renata."



Aku tersenyum. Leon masih saja baik padaku. Aku menatap punggungnya yang akhirnya semakin menjauh dan lenyap di dalam taksi. Aku memang tak berniat mengucapkan selamat tinggal di bandara. Rasanya aku akan merasa sedikit aneh memeluknya. Dia sekarang terlihat sebagai lelaki kini. Berbeda dengan yang aku kenal semasa SMA.


Ada perubahan yang sangat besar kini di antara kami berdua. Aku perempuan dan dia sebaliknya. Seandainya aku juga bisa membalas perasaan cintanya. Tak akan sesakit ini melihatnya pergi dengan wajah kecewa. Dia memang tersenyum tapi duka membayang di balik kedua bola matanya.


Jatuh cinta? Apa rasanya? Selama ini aku tak merasakan apa-apa dengan lelaki mana pun. Entah mengapa seakan-akan sinyal cinta di dalam hatiku tertutup dan telah membeku. Aku tersenyum kecil mengingat banyaknya cinta yang hadir ke hadapanku sekarang lalu satu persatu menjauhiku.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes