Asean Blogger Festival Indonesia 2013: Jogja To Solo

Cerita lainnya di sini

Asean Blogger Festival Indonesia 2013: Solo to Jogja

asrama UNS tempat saya menginap

Pagi itu dengan mata yang lumayan mengantuk saya membawa koper Elsa naik kereta ekonomi. Sebab saya harus segera mengembalikan koper saya yang rusak pada Lion Air, meminta mereka bertanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan kunci dan rodanya yang hampir lepas. Repot sekali sebenarnya tapi kalau tidak dilakukan pihak Lion Air sendiri tentu akan terus mengulang kesalahan yang sama dan saya akan kesulitan membawa koper yang rodanya tidak bisa digunakan. Masa harus saya pikul?


Tadi malam jalan di Jogjanya sudah sangat melelahkan dan sekarang saya harus menghadapi kelelahan yang sebenarnya. Hari ini, 9 Mei, saya harus check in di hotel dan menukar koper. Kemudian membawa koper ke bandara. Terdengar simpel yang harus saya kerjakan tapi semua drama baru saja dimulai saat saya menaiki kereta api ekonomi menuju Stasiun Balapan.


Satu jam berdiri di kereta tak begitu membuat saya frustasi karena saya bisa melihat pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Saya bahkan bertemu dengan seorang perempuan yang bisa saya ajak tukar pikiran sepanjang jalan itu. Hingga akhirnya kami berpisah saat di Stasiun Balapan. Hawa panas langsung menyerang saya.


Kami tak tahu jalan menuju Hotel Kusuma Sahid Prince dan harus bertanya pada beberapa orang yang kami temui. Namun terjadi kesalahpahaman sejak pertama kami bertanya. Orang yang kami tanya mengira kami mencari hotel 'Sahid'. Ternyata ada dua hotel yang masih satu jaringan, memiliki nama 'Sahid'. Satu 'Sahid Jaya' dan satunya lagi lebih dikenal dengan sebutan 'Kusuma'.


Boy yang menjemput dan akan mengantar saya tak tahu jalan dan tak tahu hotel tersebut. Kalau tidak mengingat dia telah meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput saya rasanya saya ingin berteriak. Dua tahun di Solo dan kamu tak tahu hotel dan jalan Boy? Okay, fine! Saya hanya menghela napas panjang. Keliling mencari hotel dengan membawa koper Elsa yang lumayan berat meskipun tak ada isinya.


Kami nyasar? Pastinya! Karena ternyata hotel yang disebutkan oleh orang yang kami tanyai sebelumnya adalah hotel 'Sahid Jaya' bukan 'Kusuma' yang disebutkan panitia. Dua jam keliling di bawah terik matahari dan cuaca yang panas membuat saya hampir putus asa. Belum lagi saya tak mengenakan helm sehingga Boy harus menghindari pos-pos polisi yang sedang berjaga.


Di tengah kehampirputusasaan tak menemukan hotel yang dimaksud saya akhirnya meminta Boy untuk membiarkan saya naik becak saja. Karena tukang becak tahu tempatnya dan saya tak perlu menghindari polisi dengan beberapa kali turun dari motor Boy dan jalan kaki beberapa meter sehingga kami tidak ditilang. Tapi Boy keras kepala sekali! Dia ngotot kami tetap harus bareng. Padahal saya kelelahan dan hampir menyerah. Seandainya saya tahu ada situs yang bisa menunjukkan arah dan bentuk hotel yang dicari seperti www.pegipegi.com saya tidak akan tersesat seperti ini.


Bolak-balik nyasar akhirnya kami menemukan juga hotel Kusuma Sahid Prince!


Tiba di sana, apa yang saya dapatkan? Ternyata saya diinapkan di Hotel Sahid Jaya, hotel yang sebelumnya sudah saya temukan, dua jam yang lalu. Tubuh saya rasanya sudah akan runtuh seketika. Jadi saya harus balik lagi ke hotel yang tadi saya tinggalkan untuk kesasar dua jam? Baiklah! Saya hanya bisa titip koper dan tancap gas bersama Boy untuk mengambil barang-barang saya dan koper saya yang ada di asrama UNS.


Jaraknya lumayan jauh dan kami memutuskan istirahat makan dan minum dulu. Selesai makan, masih dalam keadaan lelah kami berdua menuju asrama. Saya membereskan koper yang rusak itu berserta barang-barangnya dan mandi terus ganti baju.


Perjalanan melelahkan lainnya masih menunggu, dari asrama kami ke Hotel Sahid Jaya dan membawa koper yang lebih berat dari sebelumnya di tambah sekotak makanan khas Pontianak. Saya hanya bisa menyemangati diri sendiri supaya tidak putus asa seperti sebelumnya. Tiba di Hotel Sahid Jaya, registrasi, dapat kunci, memberikan sebungkus amplang pada Mas Erfano yang sudah dapat menebak kotak yang saya bawa itu isinya apa.


Naik ke kamar di antar roomboy yang membawakan dua koper ke kamar. Setelah memberikan tips berupa sebungkus stik keladi pada sang roomboy, saya membongkar koper saya, mengeluarkan semua isinya. Setelah berhasil mengosongkannya saya menyusul Boy yang menunggu di parkiran. Kami harus buru-buru ke bandara, karena klaim terakhir hari ini. Roda koper yang awalnya hampir lepas sekarang benar-benar lepas. Like I care!


Bandara masih lumayan jauh dan hawa udara masih panas. Tapi perjuangan belum berakhir. Kami berdua naik motor menuju bandara. Saya pikir saya tidak membutuhkan waktu lebih dari 10 menit untuk menyerahkan koper dan pergi. Ternyata saat saya tiba Lion Air sedang melayani banyak sekali penumpang yang jadwal keberangkatannya diganti besok karena pesawat Lion Air ada yang rusak. Saya sudah merasa akan ada hal yang tidak menyenangkan terjadi berikutnya.


Selain saya harus mengantri panjang dan mau tidak mau nyerobot antrian orang yang menukar tiket, karena keperluan saya berbeda. Lalu pada akhirnya saya harus masuk ke dalam bandara tanpa bisa memperlihatkan tiket pada bagian keamanan yang ada di depan pintu masuk. Alasan saya mereka terima dan saya melenggang ke dalam.


Setelah menyelesaikan urusan yang sangat menguras tenaga ini kami balik lagi ke hotel dan saya benar-benar lelah tetapi Gala Dinner malam ini jadwalnya. Jadilah saya harus mandi. Satu hal yang membuat saya semangat hanyalah dress Batik Tidayu yang saya bawa jauh-jauh untuk keperluan malam itu. Roommate saya belum datang juga. Ternyata pesawat mereka delay beberapa jam dan ini juga melibatkan Feri, perwakilan dari Kalimantan Barat, sama dengan saya. Namun karena keberangkatan saya lebih awal dua hari, jadilah dia satu-satunya perwakilan Kalimantan Barat yang terjebak bersama banyak blogger lainnya.


Tetapi hari-hari yang melelahkan itu tergantikan dengan perjalanan menuju Candi Sukuh. Sejak awal saya sudah yakin akan mendatangi candi saja dibandingkan harus ke Sangiran. Sebab di Kalimantan Barat sendiri candi adalah hal yang tidak akan bisa ditemukan. Melihat lebih dekat bagaimana kebudayaan masa lampau dan bapak yang memandu kami memang sangat lancar menceritakan semua hal yang ada di sana.










Sejarah-sejarahnya. Meskipun demikian kita sendiri perlu untuk mengabadikan sejarah yang diceritakan di Candi Sukuh itu dalam bentuk tulisan sehingga ketika suatu hari ada orang yang ingin tahu cerita yang ada di balik Candi Sukuh itu sejarahnya tetap akan bisa dibaca.

Candi Sukuh sendiri dibangun pada abad ke-15. Banyak orang yang beranggapan candi ini menampilkan kevulgaran namun berdasarkan cerita dari pemandu kami, candi ini sebenarnya menggambarkan pendidikan seksual yang berkaitan dengan kehidupan manusia sebelum dilahirkan ke dunia. Dibandingkan candi yang pernah saya kunjungi candi ini rasanya memang lebih sederhana dan tidak begitu luas tanahnya.

Candi Sukuh sendiri sebenarnya tempat ibadah yang dibangun untuk memuja roh leluhur. Ada beberapa tempat yang digunakan sebagai tempat untuk duduk bersemedi. Meskipun perlambangan yang dipajang di Candi Sukuh adalah benda yang mengandung unsur seksual tetapi pemahaman tentang makna di balik patung-patung yang ada di sana, satu di antaranya memegang alat kelaminnya (laki-laki) adalah sesuatu yang membutuhkan pemikiran yang jernih dan mendalam. Bahwa tidak sesederhana bentuk patungnya melainkan ada makna yang lebih luas dari yang kita lihat secara kasat mata.


Ingin tahu lebih banyak? Datang saja ke sana dan jangan lupa bawa pemandu wisata yang akan menjelaskan sejarahnya dengan lengkap.
Share:
Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes