31 Mei 2013

Review Kuliner: Mie Tiaw Siram Apollo

Review Kuliner: Mie Tiaw Siram Apollo


Terlepas dari balada dua warung mie tiaw yang bersebelahan di simpang empat Jalan Gajah Mada saya akhirnya mencoba satu menu yang tidak pernah saya makan sebelumnya.

Masih ingat dong tentang Warung Mie Polo dan Warung Mie Apollo yang menuliskan kalimat yang sangat lucu di warung mereka?

Mie Polo menulis: 'Pindahan dari sebelah.'

Mie Apollo yang memang berada di sebelah warung Mie Polo menulis: 'Tidak pernah pindah.'


Apakah ini adalah taktik dagang yang mereka jalankan untuk membuat warung mereka terkenal, saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Sebab saya mengenal warung ini beberapa tahun yang lalu. Padahal warung tersebut usianya sudah puluhan tahun. Warung mie tiaw yang mengatasnamakan Mie Apollo dan yang hampir serupa juga bukan hanya dua ini. Masih ada beberapa lagi yang lainnya. Ada yang cabangnya juga sih. Tapi yang menjadi favorit saya adalah warung Mie Apollo yang berada di sebelah warung Mie Polo.


Saya tidak tahu perbedaan cita-rasa keduanya sebab saya hanya makan di Warung Mie Apollo sejak pertama hingga hari ini.

Kali ini saya makan Mie Tiaw Siram. Menu yang selama ini tidak pernah saya pesan. Saya lebih suka Mie Tiaw Kuah sih. Selain karena saya suka sekali dengan makanan berkuah, menurut saya Mie Tiaw Kuahnya sedap sekali. Saya bahkan bisa meminta ekstra bawang putih dan merah goreng, termasuk juga daun bawang dan seledri yang lebih banyak. Mereka tidak segan untuk menambahkan lebih banyak bawang goreng dan daun bawang lebih banyak lo.

Harga memang lebih tinggi dibandingkan mie tiaw lain. Tapi cita-rasanya juga memuaskan. Soal enak tidaknya memang menurut saya sangat enak, namun ini kembali lagi ke selera dan lidah masing-masing.


Satu porsi Mie Tiaw Siram dan dua gelas es jeruk besar yang diperas dihargai 42.000. Prakiraan saya sih Mie Tiaw Siram-nya 22.000 satu porsi dan es jeruknya 20.000 untuk dua gelas. Dengan daging yang melimpah dan kuah yang sedap, rasanya itu harga yang cukup pantas untuk dibayarkan.

Satu hal yang tidak saya dapatkan di Mie Tiaw Kuah adalah kuahnya bening tanpa ada campuran telur. Berbeda dengan Mie Tiaw Siram yang mengandung telur di dalam kuah yang disiramkan ke atasnya. Saya lebih suka Mie Tiaw Kuah karena saya bisa menghirup lebih banyak kuah di sana. Tapi urusan rasa Mie Tiaw Siram juga tak kalah dari Mie Tiaw Kuah. Bahkan saya menghirup kuahnya sampai habis saking sukanya dengan kuah yang disiramkan di Mie Tiaw Siram tersebut.
Komunitas Ideal [bagian 4]

Komunitas Ideal [bagian 4]


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Tujuan yang jelas pada saat sebuah komunitas akan dibangun tentu saja akan menjadi titik tolak yang tak dapat dilepaskan, sebab dengan adanya tujuan kita sebagai anggota komunitas akan tahu langkah apa yang harus dilakukan agar tujuan tersebut bisa dicapai. Komunitas yang ideal tentu saja sebuah komunitas yang memiliki tujuan sejak awal yang ingin dicapai oleh anggotanya atas nama komunitas tersebut.

Saat tujuan tidak jelas, anggota komunitas akan bingung apa yang harus mereka lakukan di dalam komunitas yang sudah dibentuk tersebut. Bagaimana selanjutnya? Mereka akan terus bertanya-tanya tanpa tahu fungsi mereka sebagai anggota komunitas itu apa.

Tidak hanya dalam membentuk komunitas dibutuhkan tujuan yang jelas. Bahkan kalau bisa dibuat pula target pencapaian dan jangka waktu yang diinginkan untuk mencapai target tersebut. Bahkan saat saya menuliskan ini pun semua orang sudah tahu tujuannya apa. Untuk mengumpulkan poin pada pertandingan 8 Minggu Ngeblog. Itu sebabnya saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan poin sebanyak mungkin, saya tahu tujuannya. Poin!

Begitu juga saat ngeblog. Saya memiliki tujuan yang hingga hari ini selalu ada. Latihan! Latihan! Latihan! Semua yang saya tulis ini adalah postingan latihan saya dalam menulis. Supaya tulisan saya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Walaupun saya tidak menargetkan, apakah dalam setahun saya harus bisa membuat tulisan yang hebat atau tidak. Saya rasa khusus untuk menulis sendiri, bagi diri saya sendiri adalah proses belajar tanpa henti. Sampai mati. Karena saya menyukainya.

Tujuan lainnya kemudian mengikuti proses latihan menulis itu. Seperti saya ingin mendapatkan sesuatu selain menambah kemampuan menulis. Entah itu dalam bentuk reward dari kontes yang saya ikuti atau dari munculnya berbagai tawaran iklan yang tidak bisa saya tolak.

Ada pula tujuan untuk berjualan jasa dan barang yang sekarang masih saya jalani untuk menambah penghasilan tetap saya sebelumnya. Karena saya tahu tujuan saya saat membuat tulisan di blog ini, saya sendiri merasa wajib untuk terus menulis di dalamnya. Semalas apa pun, selelah apa pun, saya selalu berusaha meluangkan waktu, setidaknya satu dua jam sehari supaya blog ini terisi.

Membuat tantangan di blog ini dengan menulis lebih dari satu setiap harinya. Bahkan bulan Juni saya menantang diri saya untuk menulis enam tulisan dalam sehari juga bagian dari mencapai tujuan yang saya inginkan tersebut. Bisa jadi saya harus berlatih menulis lebih banyak dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan saya. Setidaknya dengan membuat tulisan dengan jumlah tertentu dalam sehari saya bisa mengetahui di mana batas kemampuan menulis saya. Apakah hanya di batas 5 postingan sehari atau bahkan bisa menembus 12 postingan sehari di bulan Desember nanti.

Begitu pula dengan komunitas yang kita buat. Kita bangun bersama orang lain yang punya minat yang sama. Tentunya kita tentukan sejak awal tujuan akhir yang ingin kita capai dengan berada di dalam kapal yang sama. Komunitas! Komunitas yang tidak memiliki tujuan tentunya bukan komunitas yang ideal.

Saya pikir untuk apa juga kita membuat komunitas jika tujuan kita tidak jelas di dalamnya. Selain buang waktu kita juga sedang membuang tenaga kita.

Jika kita berada di dalam sebuah komunitas yang tak punya tujuan atau tujuannya kurang jelas lebih baik kita pikir ulang untuk terus berada di dalamnya. Karena itu bukanlah sebuah komunitas yang ideal. Bukan masalah besar atau tujuan yang ingin dicapai komunitas tersebut namun apakah tujuannya ada atau tidak?
Komunitas Ideal [Bagian 3]

Komunitas Ideal [Bagian 3]


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Di dalam komunitas untuk terus membuatnya terus awet dan kokoh sebagai sebuah komunitas yang menaungi anggotanya sama seperti orang yang sedang membangun rumah tangga. Dibutuhkan kejujuran di dalamnya. Jadi saat ada masalah yang menimpa sebuah komunitas atau ada anggota komunitas yang ingin menyampaikan sesuatu sebaiknya memang disampaikan secara terbuka.

Terbuka maksudnya tidak ada yang ditutup-tutupi. Ketika semua orang menjadi jujur di dalam komunitasnya untuk membahas sebuah masalah akan mudah pula menemukan jalan keluarnya. Sebab banyak kepala akan berpikir untuk memecahkan hal yang sama. Berbeda ceritanya saat sebuah kenyataan ditutup-tutupi oleh seorang atau sebagian anggota lainnya dari anggota yang lain.

Ketidakjujuran akan membuat kepercayaan di dalam sebuah komunitas akan menghilang begitu saja. Pada akhirnya akan timbul perasaan saling curiga antar satu dengan yang lainnya.

Saat membangun sebuah komunitas tentunya bukan hal tersebut yang ingin kita capai bukan? Seharusnya kejujuran menjadi modal yang cukup mendasar untuk membangun sebuah komunitas yang kokoh. Karena setiap anggota harus saling mempercayai anggota komunitas lainnya.

Jangankan dalam forum yang sebesar komunitas, saat kita bersahabat dengan seseorang pun kita tidak ingin dia menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya bisa dia bagi kepada kita sebagai teman. Apalagi jika sesama perempuan atau sesama lelaki. Menyembunyikan kenyataan itu seperti menyembunyikan bangkai. Awalnya memang tak akan tercium bau busuk tapi pada akhirnya dari kebusukan yang ditimbulkan akan ketahuan juga.

Coba kalau sejak awal bangkai tersebut sudah diperlihatkan dan dibuang tentunya tidak akan ada orang yang kehilangan kepercayaannya pada orang lain. Lalu orang yang merasa dibohongi tersebut pun akan mulai mereka-reka apa yang akan disembunyikan selanjutnya. Rasa curiga menjadi hal yang tak terhindarkan lagi.

Tentu saja perkembangan komunitas itu tidak akan maju-maju karena isinya adalah orang-orang yang saling tak percaya satu sama lain. Kalau sudah demikian ceritanya, tinggal tunggu saja kapan komunitas tersebut harus dibubarkan.

Komunitas yang seharusnya menaungi anggotanya yang saling memiliki keterkaitan bisa jadi malah jadi momok yang menakutkan di antara mereka. Apakah memang itu yang kita inginkan sejak awalnya? Tentu tidak bukan?

Sejak saya bekerja di sebuah warung kelontong saya hanya diajarkan satu hal oleh bos saya. Satu hal itulah yang akhirnya membuat dagangan saya hingga sekarang laris dan tidak mengalami masalah kehilangan kepercayaan. Sebab bos saya mengatakan kita hanya perlu jujur di dalam kehidupan ini supaya orang selalu percaya dengan kita. Sekali saja kita melanggar kepercayaan orang, seumur hidup orang akan enggan bekerja sama dengan kita.

Waktu itu saya hanya menyimpan kata 'jujur' di dalam kepala saya sebagai pemaknaan untuk tidak mencuri di dalam warung yang saya jaga. Saya selalu mengatakan berapa jumlah uang yang saya gunakan selama bos saya tidak ada di tempat. Waktu itu memang bos saya kehilangan seorang kuli kesayangannya yang ternyata diam-diam mengambil uang dagangan di warungnya. Sehingga dia tak ingin kuli berikutnya, saya, ikut menghilang dari warung setelah mengambil sejumlah uang.

Saya memang tidak pernah berniat untuk mengambil uangnya tanpa permisi sedikit pun, sebab bagi saya kita hidup bukan sehari dua hari atau sebulan dua bulan. Kita hidup bertahun-tahun. Sedikit uang haram bisa saja menghancurkan masa depan kita. Bahkan orang tua kita akan mendapat malu karena anaknya mencuri di dalam warung tempatnya bekerja. Tidak hanya kepercayaan bos yang akan hilang tapi semua orang yang mengetahui ceritanya akan mengingat kita sebagai seseorang yang tidak jujur. Sebagai orang yang tak bisa diberi kepercayaan.

Sederhana memang pikiran saya waktu itu. Semakin dewasa saya semakin mengerti betapa pentingnya kejujuran itu dipegang di dalam kehidupan kita. Masih ingat dengan pepatah lama: 'Sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tak akan percaya'. Pepatah itulah yang selalu saya ingat hingga hari ini untuk menjaga kepercayaan yang sudah diberikan orang lain. Sebab tak semua orang sama seperti orang tua kita yang mau memberikan kesempatan berkali-kali. Bisa jadi kesempatan yang kita punya hanya kali itu. Satu-satunya. Tak akan ada kedua kalinya jika kepercayaan itu kita rusak dan tidak dijaga baik-baik.
Komunitas Ideal [bagian 2]

Komunitas Ideal [bagian 2]


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Sebuah komunitas yang terdiri dari banyak kepala tentunya tidak akan bisa menjadi sebuah komunitas yang ideal apabila ada orang yang tidak bisa bertenggang rasa satu sama lain. Jadi ketika akan membentuk sebuah komunitas adanya tenggang rasa bisa membuat komunitas menjadi sebuah komunitas yang ideal.


Setelah menyatukan niat untuk membentuk komunitas yang tujuannya baik, anggota sebuah komunitas harus melihat ke dalam dirinya masing-masing. Tidak ada satu orang pun yang berhak memaksakan kehendaknya di dalam sebuah komunitas, meskipun dia ditunjuk sebagai ketua. Kecuali memang sejak awal sudah dibuat sebuah peraturan bahwa ketua memiliki hak penuh untuk memutuskan sesuatu tanpa perlu memikirkan pendapat komunitasnya.


Komunitas, kadang-kadang jika tidak dibentuk menjadi komunitas yang ideal bisa saja menjadi komoditi pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Biasanya untuk meraup keuntungan dari komunitas tersebut. Bau-baunya ya uang.


Politik uang memang terkadang kejam dan tak berperikemanusiaan. Apabila semua yang ada di dalam komunitas sudah terbius oleh harumnya rupiah ataupun dollar, ya ujung-ujungnya, perlahan tapi pasti komunitas akan menuju kehancuran.


Saya tidak mengatakan bahwa komunitas tidak membutuhkan uang. Tentu saja, komunitas apa pun membutuhkan uang untuk kelangsungan komunitas tersebut. Misalnya saja, sebuah komunitas membutuhkan tempat khusus untuk berkumpul. Tidak semua komunitas bisa mendapatkan tempat dengan cuma-cuma bukan? Belum lagi listrik dan air yang dibutuhkan. Sama seperti membangun sebuah rumah tangga.


Namun, ketika komunitas yang sudah susah payah dibangun dengan keringat dan darah itu sudah tidak sehat lagi tujuan akhirnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi komoditi yang bisa dijual, kita akan mempertanyakan sendiri pada wajah-wajah yang kita lihat di dalam komunitas tersebut satu hal saja.


Mau dibawa ke mana komunitas ini?


Sudah banyak komunitas yang pada awalnya terlihat 'baik-baik saja' namun semakin ditengok ke belakang, apalagi saat ada anggota komunitas yang saling menyalahkan atau ada yang tidak saling suka dan menganggap orang lain lebih buruk darinya, saat itulah. Kita akan berada pada titik yang memisahkan isi komunitas tersebut. Bisa jadi menjadi rival yang berseberangan pendapatnya.


Saya sendiri pernah berada di sebuah komunitas dan kemudian anggotanya terpecah belah hanya gara-gara satu orang menyatakan pendapatnya yang sama sekali tidak masuk di akal. Buat saya itu tidak masuk di akal. Tentu saja bagi yang mengeluarkan pendapat tersebut, apa yang dia sampaikan sudah benar. Pendapatnya menyudutkan orang yang membentuk dan akhirnya dijadikan ketua komunitas tersebut. Bisa ditebak, ketua mundur dan komunitas menjadi kacau.


Saya lebih baik memilih berada di luar garis peperangan dingin tersebut walaupun sebenarnya saya tidak setuju dengan pendapat yang anggota tersebut keluarkan. Memang bukan saya yang disudutkan. Bukan saya pula orang yang disebut-sebut sebagai orang yang memanfaatkan komunitas demi kepentingan pribadi. Lagi-lagi politik uang ya?


Memang akan selalu ada manfaat yang akan kita dapatkan dari bergabung di dalam sebuah komunitas sebab ada harga bernama 'risiko' yang mesti kita bayar untuk mendapatkan manfaat tersebut.


Saya tidak mengatakan bahwa berada di dalam sebuah komunitas itu buruk. Tetapi saat membentuk komunitas, berhati-hatilah dengan anggota yang ada di dalamnya. Bisa jadi orang yang bergabung tersebut hanya akan menjadi musuh dalam selimut yang membuat komunitas hancur berkeping-keping. Carilah orang yang memiliki niat yang sama. Punya visi misi yang sama. Tentu saja orang tersebut juga punya rasa tenggang rasa yang tinggi dan tidak membuat orang lain tersudut di dalam komunitasnya sendiri.
Tentang Kamu

Tentang Kamu


Tahukah kamu, malam itu aku memimpikan tentangmu. Dua kali. Saat tengah malam aku terbangun karena kaget dengan mimpiku yang aneh dan ada kamu, aku mencoba memejamkan mata kembali dan berharap memimpikan tentangmu.

Selama ini tak ada satu energi pun yang sekuat kamu. Terpisah sedemikian jauhnya di dua negara yang bersebelahan. Jauh menurutku karena aku tak bisa menyeberangi perbatasan negara kita dengan semaunya. Hanya untuk melihat kembali tatapan matamu.

Apakah tatapan matamu akan selalu sama padaku?

Mata yang membuat jantungku berdetak sedemikian cepatnya saat mataku ikut terkunci di dalamnya. Katakan apa saja dan aku bersedia mendengar suara merdumu bercerita. Bercerita tentang apa saja. Tapi kamu jarang menceritakan tentang apa pun yang kamu alami di dalam hidupmu.

Apakah ada luka di sana?

Malam itu, saat aku pertama kali menemuimu pun, kamu lebih banyak mendengarkanku. Mengapa malam itu kamu mengundang kedatanganku? Di saat aku yang sedang rapuh karena noktah cinta yang tak menemukan pelabuhan terakhirnya. Lalu bahumu sedemikian hangat untuk kepalaku. Membuat hatiku berbunga.

Saat tak ada yang mengulurkan tangannya padaku, kamu dengan sejuta pesona memberikannya. Menggenggam tanganku erat. Membiarkan aku hanyut di dalam aroma yang sedemikian indahnya. Kali ini aku hanya ingin kamu yang menjadi hadiah istimewa di pertambahan usiaku.

Kalau memang bisa meminta. Aku hanya ingin kamu ada di depanku sekarang ini. Rindu yang tak tertahankan rasanya sedemikian menyiksa. Tapi kamu harus tahu aku masih tertawa seperti biasanya. Sebab aku tahu kamu sangat menyukai cara tertawaku. Tawa yang polos katamu.

Tawaku yang membuatku berbeda dengan yang lainnya di dalam pandangan matamu hari itu. Aku masih bisa tertawa ketika bersama siapa pun. Meski lelah melanda raga. Seharusnya kamu tahu apa yang ingin kudengar dari bibirmu di hari perpisahan kita.

Lalu kemudian kata-kata yang ingin aku keluarkan hanya bisa aku telan di dalam hatiku. Aku tak mau jarak menjadi semakin jauh rasanya setelah aku mengatakan apa yang aku rasakan tentangmu. Tentang kita. Tentang malam itu. Tentang bulan yang semakin purnama.

Aku hari ini pun masih menunggu. Menunggu hari yang entah datang atau tidak. Hari di mana kita bisa bertemu lagi. Ketika hari itu datang tak ingin kusia-siakan untuk kedua kalinya. Akan kukatakan semua yang aku rasakan hingga detik ini tentangmu.

Padahal aku pikir aku akan segera melupakanmu. Pertemuan kita terlalu singkat untuk menimbulkan sesuatu yang lain di antara kita berdua. Lantas apakah sekarang aku harus mengatakan bahwa ternyata aku salah? Aku keliru menilai hatiku sendiri? Sebab kali ini rasanya begitu kuat dan mengcengkram di dalam hati.

Apakah demikian pula dengan hatimu?

30 Mei 2013

Emoticons Smiley: Pocari Man

Emoticons Smiley: Pocari Man


Sudah banyak sekali penyedia emoticons yang bisa kita masukkan ke dalam postingan. Entah itu berbentuk emoticons smiley yang sudah biasa kita temukan dengan bentuk wajah yang membulat dan warnanya kuning. Kita akan langsung menyebutnya ‘smiley’. Barangkali di antara kita ada yang ingin sekali memasukkan emoticons smiley di dalam postingan kita. Memang emoticons smiley bisa menunjukkan bagaimana emotion yang ingin kita rasakan di dalam tulisan tersebut.

Tulisan memang membutuhkan gambar-gambar kecil yang ekspresif dalam bentuk emoticons smiley. Berbeda dengan video atau foto yang dengan mudah bisa dimaknai emosi di dalamnya. Emoticon facebook juga banyak kita temukan digunakan oleh orang saat mengupdate statusnya. Supaya terlihat bagaimana emosi yang terkandung di dalam status tersebut.

Emoticons smiley juga kadang-kadang bisa membuat orang ikut tertawa saat membaca postingan yang penuh humor ditambah dengan penjelasan lainnya yang ditunjukkan dengan emoticons smiley. Untuk menempatkan emoticons smiley di dalam postingan teman-teman bisa mengambil kode html atau tautan gambar yang mengacu pada emoticons smiley tersebut.

Kemarin iseng-iseng mengambil gambar Pocari Man yang ada di LINE milik saya dan mengunggah gambarnya satu demi satu. Siapa tahu di antara teman-teman ingin menempatkan gambar tersebut di dalam postingan. Silakan gunakan kode html di dalam kotak yang sesuai dengan gambar yang ditampilkan di atasnya.

Sebelumnya jangan lupa ubah ‘compose’ postingan menjadi ‘html’ sehingga kode bisa menampilkan gambar saat postingan diterbitkan. Biasanya saya sendiri sih akan mengambil emoticons smiley yang saya inginkan lebih dulu di dalam kotak posting html, barulah mengisinya dengan tulisan yang sudah saya buat di Writer. Soalnya saya akan melihat tampilannya dulu di compose.

Enjoy!
 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-34-1_zps88789e5d.png


 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-29-1_zpsc236c960.png



 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-21-1_zps71f3d495.png

 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-16-1_zps827b5a1e.png


 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-10-1_zpsec5ea9c8.png


 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-06-1_zps03c65b77.png
 


 photo Screenshot_2013-05-29-07-24-02-1_zps628ed681.png
 

 photo Screenshot_2013-05-29-07-23-57-1_zpsc2beba9c.png

 photo Screenshot_2013-05-29-07-23-52-1_zps456e88f4.png


 photo Screenshot_2013-05-29-07-23-48-1_zps3ae2a440.png



 photo Screenshot_2013-05-29-07-23-28-1_zps9cc12a2b.png



 photo Screenshot_2013-05-29-07-23-20-1_zpsdce41fef.png
 

 photo Screenshot_2013-05-29-07-21-11-3_zps0634c68e.png

 photo Screenshot_2013-05-29-07-21-11-1_zps2e796ad9.png


 photo Screenshot_2013-05-29-07-19-42-1_zps62e08e38.png



 photo Screenshot_2013-05-29-07-21-11-2_zpscd97c772.png


 photo Screenshot_2013-05-29-07-18-20-1_zps1db248d2.png

Komunitas Ideal [bagian 1]

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.
gambar dari sini
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". (Wenger, 2002: 4). (sumber Wikipedia)

gambar dari sini

Tentu saja komunitas isinya lebih dari satu orang yang menginginkan wadah untuk menampung beberapa atau satu hal yang sama di antara dirinya dan orang lain yang ingin berada di dalam komunitas tersebut.

Sebuah komunitas yang ideal pada dasarnya harus dibuat karena ada niat yang baik. Jadi bukan hanya niat yang membuat terbentuknya komunitas tersebut. Karena niat saja belum tentu cukup bukan? Niat yang baik berisikan tujuan dan manfaat yang baik. Tidak hanya baik dari dan untuk orang yang berada dalam komunitas tersebut. Melainkan juga untuk orang-orang yang di luar komunitas.

gambar dari sini


Komunitas ideal setidaknya bisa membuat niat yang baik sehingga komunitas yang dibentuk akan bermanfaat baik semua yang berkaitan dengan komunitas tersebut baik di dunia maupun di akhirat.

Tetapi jika menilik ke dalam diri saya sendiri, saya bukanlah orang yang terlalu betah berada di dalam komunitas. Sebab sudah sering saya melihat komunitas yang pada awalnya dibentuk dengan visi dan misi yang sama pada pertengahan jalan tak sedikit yang akhirnya berbelok visi dan misinya. Belum lagi perbedaan pendapat yang bisa terjadi di dalam komunitas.

Saya terkadang memang lebih suka berada di luar kekangan komunitas tertentu yang membuat saya sendiri tidak bergerak bebas. Barangkali saya belum benar-benar bertemu dengan komunitas yang sesuai. Jadi saat ditanya apakah saya sendiri berada di dalam komunitas tertentu saya lebih suka pertemanan atau perkumpulan yang saya jalani tidak terlalu ‘komunitas’.
gambar dari sini

Sebab komunitas entah mengapa membuat saya berpikir tentang kotak-kotak yang memisahkan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Sehingga pada akhirnya saya lebih suka berada di luar komunitas apa pun. Menjadi satu individu yang tak terikat dengan komunitas apa pun. Walaupun saya tetap akan mau disebut sebagai perwakilan komunitas tertentu saat menghadiri sebuah acara yang berkaitan dengan kegiatan yang saya jalani.

Komunitas ideal? Apakah terlalu muluk permintaan orang yang ingin berada di dalamnya? Adakah memang sulit untuk membentuk komunitas ideal? Saya sendiri tidak begitu berpengalaman dengan yang namanya komunitas, soalnya kadang-kadang saya lebih suka sendirian saja. Entah mengapa. Ada bagian diri saya yang suka berontak saat berada di dalam sebuah komunitas.

Ada ketakutan sendiri saat berada di dalamnya. Ada sesuatu yang menyerang saya. Itu sebabnya saya tak begitu punya banyak teman dekat yang aktif di dalam komunitas yang sama. Saya lebih suka berada di dalam jarak yang aman dan tidak menyakiti orang lain soalnya saya sendiri tidak ingin disakiti oleh siapa pun.
gambar dari sini

Komunitas isinya banyak orang dan tentunya banyak kepala yang punya pemikiran masing-masing. Walau di dalam satu komunitas yang sama, pendapat yang berbeda mau tidak mau akan menimbulkan perdebatan. Baik panjang maupun pendek. Saya rasa perdebatan itu bisa menghabiskan banyak waktu dan energi. Memang banyak perdebatan yang bisa memberikan manfaat. Tapi kalau melelahkan rasanya kasihan yang berdebat.


Yuk, pegang niat yang baik untuk mewujudkan komunitas yang ideal.
Blogspot [blogger]

Blogspot [blogger]


Banyak yang bertanya-tanya saya numpang di raksasa mana buat membangun honeylizious.com ini. Saya memang membuatnya di blogspot pada awalnya. Jujurnya sih blog ini bukan saya yang pertama kali membuatnya. Sebelum benar-benar menjadi blog saya, ada orang lain yang membuatkannya. Bukan karena saya sendiri tidak tahu caranya membuat blog. Tapi memang blog ini dibuat sebagai hadiah ulang tahun saya dua tahun yang lalu.

 
Cara membuat blog sudah saya ketahui sejak akhir 2007 awal 2008 lalu. Tapi satu hal yang sejak lama sekali tak saya ketahui adalah cara memasukkan gambar ke postingan yang saya tuliskan. Alasan tersebut yang pada akhirnya melemahkan semangat saya. Padahal sama halnya dengan banyak tutorial yang menjelaskan cara membuat blog yang ditulis oleh banyak blogger lain, begitu juga ada tutorial untuk memasukkan gambar ke dalam postingan di blog yang kita miliki. Baik itu blogspot/blogger atau wordpress.
gambar dari sini

Blogspot bagi saya sendiri jauh lebih mudah dibandingkan wordpress. Buat saya pribadi blogspot lebih mudah dipahami. Soalnya saya sudah pernah membuat beberapa blog sebelum akhirnya fokus di blog ini. Kembali lagi ke selera masing-masing soalnya bukan berarti blogspot jauh lebih baik dibandingkan wordpress atau sebaliknya. Itu kembali ke pilihan masing-masing ingin membuat blog di mana.
gambar dari sini

Blog ini memang sejak awal sudah dipersiapkan untuk berada di blogspot (blogger). Bukan pindahan dari tempat lain. Kecuali tulisan-tulisan yang muncul sebelum Mei 2011 itu semuanya berasal dari beberapa blog lama yang sekarang sudah tidak saya buka lagi. Tidak semua tulisan dari blog lama saya pindahkan ke sini sih. Ada banyak yang masih saya tinggalkan dan memang rasanya lebih baik ada di blog yang lama dan ada juga yang saya simpan di draft blog lama.

gambar dari sini

Paling penting buat seorang blogger setelah membuat blog sebenarnya bukanlah memahami benar-benar cara membuat blog, karena setelah blog tersebut jadi yang paling penting harus kita perhatikan adalah bagaimana cara membuat blog tersebut tetap terisi dengan postingan. Apa pun bentuknya. Karena setiap orang punya cara masing-masing untuk menghidupkan blognya.

gambar dari sini



Banyak-banyak membaca jika kehabisan kata-kata untuk dituangkan di blog juga bisa jadi alternatif lainnya.

Masakan yang Sesuai

Masakan yang Sesuai

Masakan | Honeylizious.com tentang masakan. Masakan khas suatu daerah memang selalu menggoda untuk dinikmati. Entah itu masakan yang sesuai dengan selera kita atau tidak. Kita akan selalu mencoba untuk mencicipi masakan yang belum pernah kita makan sebelumnya. Begitu pula dengan saya. Meskipun banyak sekali masakan yang pada akhirnya tidak akan saya santap kembali karena masakan tersebut tidak sesuai dengan selera saya.

gambar dari sini


Masakan apa yang menjadi favorit teman-teman selama ini? Saya sendiri masih sangat menyenangi masakan Kalimantan Barat. Walaupun sudah sering juga mencoba masakan dari daerah lain. Tetap masakan Kalimantan Barat adalah sesuatu yang tak akan bisa saya gantikan dengan masakan yang lain. Kadang-kadang masakan dari negara lain juga menggoda rasa penasaran saya, terutama masakan Jepang.

gambar dari sini


Kemarin waktu di Solo sebenarnya saya tidak memiliki harapan yang begitu besar untuk wisata kuliner dan mencicipi masakan khas yang ada di sana. Soalnya saya bukan penggemar masakan Jawa, entah mengapa saya kesulitan menyesuaikan dengan masakan yang berasal dari Pulau Jawa. Memang ada beberapa masakan yang pada akhirnya masuk. Namun kemudian perut saya berontak dengan masakan yang masuk ke sana. Pagi-pagi dapat dipastikan saya akan diare dan mules.

gambar dari sini


Masakan yang kita makan terkadang juga dipahami oleh perut kita sendiri. Cocok atau tidaknya. Jadi bukan hanya urusan ‘bergantung lidah’ masing-masing. Tetap saja perut akan ‘memeriksa’ masakan yang sudah kita makan tersebut. Jika tidak sesuai, segera saja perut pun ikut menolak masakan tersebut dan mengeluarkannya dengan semena-mena. Itu sebabnya saya tidak akan memaksa diri saya untuk makan masakan dari daerah yang masakannya tidak sesuai dengan selera saya.


Bagaimana dengan teman-teman Honeylizious.com? Apakah sering mengalami hal yang sama berhadapan dengan masakan yang pada akhirnya membuat teman-teman sakit? Hati-hati memilih masakan ya? Jangan hanya yang sesuai di lidah tapi juga yang bisa diterima oleh perut kita.