Suka Dukanya Jadi Penyiar Radio?




Baiklah ini adalah postingan permintaan dari Sangpph yang kayaknya pengen tahu banget suka dukanya jadi penyiar radio. Terutama di Radio Volare ya? Hehehe.. Maklum selain bersiaran saya juga tinggal di Radio Volare, di lantai dasar Gedung Volare Network. Jadi bisa dikatakan ini cerita hidup dan sekitar rumah ya?

Ternyata sudah lama juga saya menjadi penyiar di Radio Volare. Suka yang saya alami ya banyak, dukanya juga ada sih. Sejak kecil menjadi penyiar radio adalah impian saya. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar saya takjub mendengar suara orang yang sedang bersiaran di radio. Waktu itu saya masih menjadi pendengar setia Radio Suara Pemangkat. Maklum di Kecamatan Jawai belum ada stasiun radio. Jadi tentu saja impian untuk menjadi penyiar radio bukanlah sesuatu hal yang mudah waktu itu. Setidaknya saya harus meninggalkan kecamatan yang saya diami dan mendatangi kecamatan yang ada stasiun radionya.

Foto: radio-duniaku

Kemudian saat duduk di bangku kuliah saya menemukan banyak sekali stasiun radio yang dalam satu tahun membuka lowongan untuk menerima penyiar baru. Entah mengapa tahun 2010 baru timbul keberanian untuk mengirimkan lamaranke sebuah stasiun radio swasta. Ditambah desakan dari Alm. Fitri Junia, sahabat baik saya yang sebentar lagi genap dua tahun kepergiannya. Nanti akan ada tulisan buat dia di postingan terpisah.

Saya waktu itu tidak pernah tahu bahwa Radio Volare adalah radio swasta tertua dan terbesar jaringannya di seluruh Kalimantan Barat. Cabangnya di berbagai kabupaten saya sendiri tidak hapal ada berapa jumlahnya dan di kabupaten mana saja. Tapi sejauh yang saya dengar ada di Singkawang dan Ketapang.

Kalau waktu itu saya tahu saya pasti sudah ciut dan tak akan mengirimkan lamaran untuk menjadi penyiar di sana. Selama beberapa bulan saya ditraining untuk menjadi penyiar yang sesungguhnya. Melakukan kesalahan hampir setiap hari dan setiap hari pula saya akan ditegur. Di sinilah muncul masalah baru. Saya sendiri mudah sekali melupakan sesuatu yang saya dengar, berbeda ceritanya jika hal tersebut saya baca atau lihat. Jika teman-teman pernah membaca Quantum Learning pasti akan menyadari bahwa saya tipikal orang yang lebih cenderung pada hal visual. Sehingga ketika saya melakukan kesalahan dan ditegur dengan omongan, biasanya saya akan mengulang kesalahan yang sama, soalnya semua teguran untuk memperbaiki kesalahan saya akan dengan mudahnya saya lupakan.

Alhasil bulan pertama menjadi hal yang sangat berat. Jangan pikir semuanya akan langsung menyenangkan di awal. Bulan kedua semua teguran masuknya melalui YM atau aplikasi chat yang lain sehingga saya mulai bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Kesalahan yang paling fatal sih sebenarnya pada saat menyebutkan '103.4FM'. Jangan menerapkan cara membaca sesuai bahasa yang baik dan benar di sini karena sejak awal Radio Volare sudah membacanya dengan sebutan 'satu kosong tiga empat FM'. Itu ciri khas dan tak akan diubah. Jadi untuk orang yang kuliah di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia harus mengenyampingkan ilmunya untuk satu hal ini.

Foto: tech4news

Belum lagi ada orang yang suka meneror melalui layanan pesan singkat Radio Volare. Oalah banyak dukanya ya? Tapi saya harus berterima kasih pada semua orang yang ada di sini. Menyemangati saya untuk tidak memberikan amunisi pada orang yang berusaha menyerang tapi tidak mau menampakkan wajahnya yang sebenarnya. Mengutip katanya Bang Jaka: 'Orang yang katanya benci sama kita tapi masih mau mendengarkan kita bersiaran adalah fans sejati kita'. Mungkin ini juga bisa diterapkan pada blog ya?

Jika memang di blog teman-teman ada orang yang kayaknya membenci diri kita mati-matian. Berkomentar sekasar mungkin untuk menjatuhkan kita di kotak komentar dan sudi untuk membaca postingan kita sepertinya dia memang bisa disebuh fans sejati blog kita. Cuma cara mengungkapkannya saja berbeda dengan orang lain. Dia orang yang akan dengan teliti membaca postingan kita dan meninggalkan jejak di sana. Soalnya kalo memang dia benci dengan kita dia nggak akan repot-repot mampir ke blog kita dan meninggalkan jejaknya. Untuk apa dia melakukan hal tersebut jika dia tidak menggemari kita? Begitu juga saat siaran, ketika kita siaran dia mendengarkan baik-baik isi siaran kita. Lalu mengirimkan pesan singkat sebagai tanda bahwa dia mendengarkan kita bersiaran sebelumnya. Logikanya untuk apa mendengarkan orang yang kita tidak suka bersiaran?

Itu dukanya saat menjadi penyiar. Senangnya sih banyak. Bertemu banyak orang baru. Bukan hanya artis tetapi orang-orang penting yang ada di Kota Pontianak sudah menjadi hal yang biasa di sini. Belum lagi banyak yang suka memberikan buku-buku gratis setelah acara bedah buku. Siaran di luar ruangan juga menjadi hal yang menyenangkan. Pokoknya sih banyak sukanya, apalagi menjadi penyiar radio adalah impian saya selama ini. Dulu saya hanya bisa merekam suara saya dengan tape recorder dan mendengarkannya sendirian. Sekarang suara saya mengudara tidak hanya bisa disimak melalui radio biasa, tetapi juga bisa disimak di seluruh dunia dengan streaming.

Paling penting itu saat menjadi penyiar kita harus belajar banyak hal setiap hari dan itu sangat menyenangkan.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes