9 April 2013

Sudut Pandang



Entah sejak kapan saya suka membaca sesuatu itu berdasarkan apa yang tidak ditulis. Misalkan nih ada sebuah aturan yang menempel di pintu yang menyatakan di ruangan tersebut 'Tidak Boleh Merokok' kemudian saya membuat kesimpulan sendiri bahwa yang tidak boleh itu kegiatan merokok. Berarti hal yang lain boleh. Sebagai contoh mengenakan sepatu di dalam atau yang lainnya selama tidak tertulis di sana.

Mungkin ada beberapa orang yang membuat sebuah pernyataan dan saya menangkap apa yang tidak dia ungkapkan di dalam pernyataan tersebut. Tepatnya menggunakan 'silogisme'. Pasti semua orang pernah belajar tentang ini sewaktu duduk di bangku sekolah. Kalo nggak jaman sekolah dasar mungkin sekolah menengah pertama. Saya juga lupa kapan saya belajar tentang silogisme ini.

Jadi di dalam silogisme akan ada premis minor dan premis mayor lalu ada kesimpulan.
Contohnya seperti ini.

Premis mayor: Setiap siswa diwajibkan mengenakan seragam.
Premis minor: Budi seorang siswa.
Kesimpulan (konklusi): Budi wajib mengenakan seragam.

Seingat saya pokoknya seperti itu. Begitu juga ketika membaca tulisan atau mendengar obrolan seseorang. Saya biasanya akan membuat bagian yang hilang dari ucapannya itu dari hal yang ada. Jadi yang jadi perhatian utama saya nantinya bukan premis mayor dan minornya. Tetapi kesimpulannya. Atau jika yang menghilang malah satu di antara premis maka dari kesimpulan dan premis yang ada saya akan menemukan hal yang hilang tersebut.

Jadi, sebenarnya postingan ini bukan mengajak teman-teman buat belajar bahasa melainkan ingin menyatakan bahwa setiap orang punya sudut pandang yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Apalagi dengan orang yang sudah terbiasa menggunakan silogisme. Dia akan menarik kesimpulan lain dan bisa jadi apa yang kita niatkan di dalam hal yang kita tuliskan atau katakan malah menimbulkan akibat lain.

Untuk menghadapi orang dengan sudut pandang silogisme dalam berkomunikasi sebenarnya yang harus kita lakukan adalah meninggalkan basa-basi berbentuk premis mayor dan minor. Lebih baik langsung ke konklusi yang ingin kita sampaikan sehingga tidak akan terjadi salah paham. Menyampaikan hal-hal secara tersirat tidak akan membantu jika sedang berbicara dengan orang yang memiliki sudut pandang komunikasi yang berbeda dengan kita. Tentu saja untuk mengatasi miskomunikasi ada baiknya berbicara langsung ke poin yang sebenarnya.

Melihatnya dari sudut pandang yang sama akan menghasilkan informasi yang sama pula. Sama seperti kita ingin seseorang melihat rupa gajah dari depan, bawalah dia ke sudut yang membuat dia akan melihat wajah gajah tersebut.

Komunikasi dengan orang yang menggunakan sudut pandang silogisme yang melihat sesuatu yang tak tersurat biasanya akan menghasilkan informasi baru. Bisa jadi orang punya maksud jahat dengan menuliskan sesuatu yang dibuat untuk menjatuhkan tetapi karena Si Silogisme ini akan mencari konklusi dari hal yang dia baca. Ujung-ujungnya muncul informasi baru yang berbeda.

Untungnya menjadi seorang pemikir silogisme adalah pemikirannya lebih panjang dan lebih dalam walaupun ada beberapa orang silogisme yang lumayan sensitif dengan pendapat orang lain. Kamu bagaimana?

Related Posts

Sudut Pandang
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).