Perempuan Inspiratifku (4): Bunda Seli


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.




Bicara soal perempuan cerdas yang pernah saya kenal saya punya seorang dosen yang terkenal sangat cerdas dan sangat memberikan inspirasi untuk banyak orang. Termasuk saya. Beliau adalah dosen sastra saya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Memiliki seorang suami yang lembut dan dua anak yang. Satu perempuan dan satu laki-laki. Seperti ibu saya, Bunda Seli (demikian kami biasa memanggilnya) juga menikah di usia muda. Waktu itu dia masih duduk di bangku kuliah. Dia kuliah di fakultas yang sama dengan saya. Sekarang di sinilah dia mengajar dengan beberapa temannya yang lain yang juga kuliah di sini. Nama lengkapnya Sesilia Seli.


Ada Pak Martono, ada Pak Nadeak, dan masih banyak dosen lainnya yang memang merupakan lulusan yang sama. Awal perkenalan dengan Bunda Seli sebenarnya bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Soalnya hari pertama kami bertemu di kelas, saya adalah orang yang dia marahi karena tidak memperhatikan mata kuliahnya dan waktu itu sengaja duduk di belakang karena ingin bersantai. Seharusnya saya waktu itu duduk di bangku depan saja seperti biasa sehingga tidak menjadi titik perhatiannya.

Waktu itu bagi saya Bunda Seli adalah dosen yang cerewet dan galak. Sebisa mungkin saya harus lulus mata kuliahnya, tidak perlu mengulang sehingga cukup bertemu waktu itu saja. Walaupun memang sejak semester satu tak ada satu mata kuliah pun yang tidak saya lewati. Lulus semua sih, meskipun ada beberapa yang mendapat nilai 'C'. Mata kuliah yang paling tidak masuk akal yang saya dapatkan nilai 'C' adalah mata kuliah menulis asuhan dosen yang lain. Mungkin itu yang membuat saya tak berhenti latihan menulis untuk memperbaiki tulisan saya.

Seiring berjalannya waktu saya menemukan sisi baik dari Bunda Seli. Memang dia cerewet. Dia galak. Tapi tentu saja itu semua dia lakukan untuk memberikan ilmunya pada kami semua, mahasiswa yang ingin dia lihat menjadi orang yang berhasil mengejar impiannya masing-masing. Bunda Seli ini paling terkenal selain galak dan cerewetnya, mungkin ini karena kecerdasannya, dia juga orang yang sangat tepat waktu. Dia paling tidak suka mahasiswa yang terlambat karena dirinya sendiri selalu datang tepat waktu. Bahkan sering sekali lebih awal 10-15 menit sebelum jam perkuliahan dimulai.

Dapat dipastikan setiap jam Bunda Seli semua mahasiswa akan datang awal. Apabila terlambat lebih baik tidak usah mengikuti jam perkuliahannya kecuali sanggup disindir sepanjang jam perkuliahan. Saya sendiri pernah terlambat dan hanya duduk di bangku di luar kelas. Mendengarkan materi dari luar kelas untuk menghindari omelan dan sindiran beliau. Tetapi memang apa yang dilakukan Bunda Seli adalah hal yang baik.

Waktu awal-awal kampus memperketat peraturan mahasiswa tidak boleh mengenakan jeans, Bunda Seli memberlakukan hukuman yang akan membuat mahasiswa sangat jera. Bagaimana tidak? Apabila ketahuan mengenakan celana atau atasan jeans, beliau dengan manisnya memanggil lalu meminta KTM. Kartu tanda mahasiswa akan dia pegang sampai sang mahasiswa menyerahkan surat pernyataan tidak akan mengenakan jeans lagi selama di kampus.

Sekarang, semua mahasiswa yang ke kampus dapat dipastikan mengenakan kemeja dan celana atau rok kain. Khusus untuk yang mengenakan jilbab memang tidak diwajibkan mengenakan kemeja karena atasan akan tertutup bagian atasnya oleh jilbab yang dikenakan.

Bunda Seli memberikan pelajaran hidup yang sangat penting, yaitu kedisiplinan. Kita harus disiplin jika memiliki impian yang ingin kita kejar. Tak bisa dengan santainya menunggu semuanya datang dengan sendirinya. Kita yang harus bergerak dan berlari untuk mendapatkannya.

Semoga Bunda Seli selalu diberikan kekuatan dan kesehatan untuk memberikan pencerahan pada semua mahasiswanya yang sekarang. Terima kasih Bunda Seli.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes