Perempuan Inspiratifku (3): Bi Ramnah


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.


Hampir setahun saya tinggal menumpang di Gedung Volare Network. Selama itu pula saya mengenal seorang perempuan lainnya. Perempuan inspiratif yang memberikan semangat pada hari-hari saya. Dia seorang tukang masak di keluarga pimpinan Radio Volare. Namanya Bi Ramnah.

Bi Ramnah sudah bekerja sekitar 27 tahun di rumah Alm. Pak Amir. Pimpinan sekaligus pendiri Volare Network yang menaungi banyak radio di Kalimantan Barat. Radio pertama dan tertua miliknya tentu saja Radio Volare yang sudah berusia 40 tahun. Bahkan lebih tua dari saya.

Karena memang dapur tempat Bi Ramnah memasak adalah dapur yang di dekat kamar saya otomatis kami akan bertemu setiap pagi. Hal-hal yang kami lakukan adalah sarapan bersama. Pagi-pagi dia akan ribut sekali di dapur memanggil-manggil saya yang biasanya masih bergulung dalam selimut. Menanyakan saya sudah bangun apa belum. Kadang-kadang dia mengomel karena saya bangun siang. Tapi saya tak pernah marah dengan Bi Ramnah yang ngomel. Karena saya tahu dia mengomel bukan bermaksud untuk marah-marah. Melainkan dia perhatian dengan saya.

Pagi-pagi, yang dia masak pertama adalah ikan sepanci untuk segerombolan kucing peliharaan keluarga pimpinan Radio Volare. Di sini banyak sekali kucing. Bi Ramnah akan menyiapkan ikan-ikan untuk kucing-kucing tersebut juga nasi yang sangat banyak. Lalu dia akan memasak untuk seisi keluarga majikannya.

Bi Ramnah selain bekerja di sini, dia juga bekerja di rumah orang lain. Sebagai tukang beres-beres rumah. Bi Ramnah seumuran Uwan saya. Usianya sudah 70-an tahun. Tapi dia masih sangat kuat. Dia jarang mengeluh. Paling dia suka kesal kalau kompor gasnya susah menyala. Biasanya yang diminta untuk menyalakan kompor ya saya, siapa lagi yang bisa dia panggil.

Dia sudah sangat tua. Seharusnya sekarang dia tidak lagi bekerja sekeras itu. Tapi setiap ditanya dia akan selalu menjawab yang sama. Dia akan mengatakan dia tak akan makan jika tak bekerja. Sepertinya suaminya juga sudah tidak ada lagi. Anak-anaknya juga punya keluarga yang harus dihidupi sehingga Bi Ramnah tetap bekerja agar dirinya bisa makan.

Bi Ramnah masakannya juga sangat enak. Wajar dia tetap dipertahankan sebagai tukang masak di sini. Saya saja suka makan masakannya. Memang berbeda dari masakan Uwan. Sangat berbeda. Tetapi lezatnya juga kadang-kadang bikin kangen. Soalnya saya hanya bisa makan masakan Bi Ramnah jika di Radio Volare sedang ada perayaan tertentu dan kami dijamu dengan makan siang atau malam.

Banyak sekali masakan yang bisa Bi Ramnah masak dengan enak. Saya paling suka makan telor masak acar buatan Bi Ramnah. Soalnya Uwan belum pernah membuatnya di rumah. Otomatis saya mengenal telor acar tersebut saat di Pontianak. Telor ayam yang direbus dan dimasak dengan santan dan sayuran acar. Asam dan segar rasa kuahnya.

Dari Bi Ramnah saya belajar untuk mensyukuri apa yang bisa kita dapatkan dalam hidup ini. Sedikit atau banyak selalu dihargai. Bi Ramnah terlihat selalu tersneyum dan bahagia dengan apa yang dia punya. Padahal tak terpikirkan oleh saya untuk menjadi dirinya. Bekerja di usia senja tapi tetap senang.

Dia selalu bilang: 'Ndak apa-apa, syukur masih bisa makan.'

Ah, hati mana yang tidak tersentuh melihat perjuangannya di balik dapur ini. Memasak sebanyak apa pun dia sering sendirian. Paling-paling dia akan memanggil saya lagi untuk mengangkat panci yang berat dari atas kompor. Iya, meskipun dia sehat dan kuat tetap saja dia sudah tua bukan?


Setiap melihat wajah dan senyum Bi Ramnah tak dapat saya rasakan rasa yang lain kecuali bersyukur. Mensyukuri semua yang ada dan tak ada di dalam hidup saya. Mensyukuri apa yang Tuhan berikan dan Tuhan ambil dari hidup saya. Bahwa semua kehidupan sudah ada jalannya masing-masing. Bagaimana mungkin kita tidak mensyukurinya?
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes