Perempuan Inspiratifku (2): Umak


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.


Umak tentu saja menjadi perempuan yang memberikan inspirasi di dalam hidup saya. Bagaimana pun tanpa Umak (baca: ibu) saya tidak akan pernah ada di dunia ini. Umak yang telah melahirkan dan menyusui saya hingga saya mendapatkan adik perempuan. Meskipun kedekatan kami tak begitu lama. Umak juga segalanya buat saya.


Nama ibu saya Rasmida. Dia punya blog yang jarang update di sini. Dia juga tidak mahir menggunakan internet apalagi untuk ngeblog. Beda dengan banyak perempuan yang saya kenal. Internet adalah hal yang menjadi kebutuhan. Sedangkan Umak sendiri update blognya dengan mengirimkan pesan singkat kepada saya. Lalu saya yang akan mengetikkannya ke blognya. Akhir-akhir ini dia tak mengirimkan cerita apa pun dengan alasan tak ada yang unik-unik untuk diceritakan. Padahal saya pikir pemikiran Umak sudah cukup unik untuk menyampaikan sesuatu.

Umak saya seorang Guru Pendidikan Agama Islam di sebuah sekolah dasar. Jarak sekolah tempat dia mengajar ke rumah tak begitu jauh. Tetapi sebenarnya sekolah tempat Umak mengajar bukanlah sekolah yang muridnya mayoritas beragama Islam. Dari kelas 1 sampai kelas 6 biasanya murid yang beragama Islam hanya ada satu dua orang. Bahkan pernah tak ada satu pun murid yang beragama Islam. Jadi siapa yang ibu saya ajari agama Islam?

Dulu waktu belum ada Guru Pendidikan Agama Kristen, Umak mengajar agama Islam dari kelas 1 sampai kelas 6 walaupun muridnya semuanya Tionghoa. Murid-murid tak ada yang protes. Mereka belajar agama Islam dengan tekun. Bahkan menghapal ayat-ayat pendek yang ada di dalam Al-Quran. Beberapa tahun terakhir barulah Umak hanya mengajar agama pada murid yang memang beragama Islam. Mengajarnya pun bukan di kelas, karena biasanya dalam satu kelas hanya ada satu murid beragama Islam.

Umak menjadi guru sejak usianya masih 18 tahun dan menikah di usia yang sama. Dibandingkan Uwan sebenarnya Umak adalah perempuan yang jauh lebih hebat. Sayangnya kedekatan kami tidak seperti kedekatan saya dan Uwan. Rasanya ada jarak yang memisahkan kami berdua karena Umak tidak begitu lama membesarkan saya. Setelah mendapatkan adik, waktu itu usia saya 2 tahun beberapa bulan, Uwan sudah menggantikan posisi Umak untuk merawat saya.

Saat tamat SMP pun saya memutuskan untuk keluar dari Jawai dan tinggal di Pemangkat. Sekolah di SMA Negeri 1 Pemangkat dan tamat sebagai lulusan kelas bahasa. Hingga sekarang, saya sudah tak lagi berkumpul bersama keluarga besar saya di Jawai. Tinggal sendiri di Pontianak. Menumpang di Gedung Volare Network sambil mengumpulkan uang secukupnya untuk membeli rumah dan mengajak keluarga saya serta tinggal di sini. Suatu hari nanti.

Dari Umak saya belajar tentang pentingnya kerja keras untuk mendapatkan apa pun yang kita mau. Semuanya tidak akan langsung jatuh dari langit. Butuh usaha. Umak adalah perempuan pekerja paling keras yang pernah saya temui di muka bumi ini. Bagaimana tidak? Dia seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru, selain itu dia juga tukang urut panggilan. Mulai dari mengurut orang yang hanya capek atau yang keseleo. Umak saya sangat terkenal di kalangan orang Tonghoa kaya di sekitar lingkungan kami.

Saya masih ingat waktu dia memberikan saya sejumlah uang. Dia dengan bangga mengatakan bahwa uang itu bukan dari gaji bulanannya sebagai guru. Tetapi uang hasil dia mengurut orang yang dikumpulkannya setiap hari. Umak adalah perempuan yang pantang menyerah. Tak ada yang mengalahkannya. Walaupun berurai air mata kekuatannya selalu ada.

Umak mengajarkan pentingnya berdiri di atas kedua kaki kita sendiri. Pentingnya menjadi perempuan mandiri. Saya sangat bersyukur Tuhan memberikan Umak yang ini kepada saya. Perempuan ini yang mengandung saya di dalam rahimnya dan melahirkan saya sampai berdarah-darah. Darahnya mengalir di dalam tubuh saya. Darah seorang perempuan yang kuat.

Perempuan yang ngotot dan tak mau menyerah kalah. Semua kekuatan yang saya miliki diturunkan dari dirinya. Tak pernah terbayangkan oleh saya jika saya lahir dari rahim seorang perempuan yang mudah menyerah.

Terima kasih Umak!
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes