Perempuan Inspiratifku (1): Uwan


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.




Apabila muncul pertanyaan mengenai siapa perempuan yang paling saya kagumi sedunia. Perempuan yang telah menyentuh hati saya di bagian yang paling dalam. Perempuan yang selalu mengulurkan tangannya untuk menghapus semua air mata saya. Jawabannya hanya satu. Satu dan tak akan tergantikan oleh perempuan mana pun. Uwan (baca: nenek). Uwan adalah umak (baca: ibu) dari ibu saya. Nenek yang berasal dari pihak abah sudah lama meninggal dunia. Bahkan saat abah belum menikah ibunya sudah meninggalkan dunia ini dalam sebuah kecelakaan saat hamil tua.

Dari pihak abah sebenarnya saya punya beberapa nenek tiri. Tapi semuanya berada jauh di Banjarmasin, Kalimantan Selatan sana. Praktis, nenek tersayang saya hanya Uwan. Namanya Halimah. Perempuan tercantik di dunia yang saya merawat saya saat usia saya masih 2 tahun hingga tamat SMP. Bagian yang paling tak pernah saya lupakan dari Uwan adalah dia perempuan yang sangat gampang melupakan kesalahan cucu-cucu dan anak-anaknya. Itu adalah bagian terbaik dari Uwan.

Selain itu Uwan juga orang yang sangat sabar menghadapi saya. Sejak kecil saya memang menimbulkan beragam masalah. Semua kecengengan dan keegoisan saya dihadapinya dengan sabar. Dia seperti ibu bagi saya. Di dadanya saya akan nyenyak tertidur setiap malam. Bau rambutnya menghangatkan hari-hari saya.

Bagian lain dari Uwan dia adalah koki terbaik di dunia. Semua masakan daerah Sambas, Kalimantan Barat dia bisa menyediakannya. Mulai dari masakan yang paling irit biaya sampai yang paling mahal. Jadi kami semua selalu makan makanan enak meskipun Uwan sedang tak memegang banyak uang belanja.

Satu hal yang paling saya rindukan dari Uwan adalah nasi gorengnya. Nasi goreng yang bisa dia sediakan adalah sesuatu yang sangat istimewa. Dengan bumbu utama cabai merah kering, terasi, bawang merah, dan putih. Nasi goreng yang sulit untuk saya temukan di tempat lain selain di rumah Uwan.

Buat orang lain mungkin Uwan adalah perempuan biasa yang menikah dengan seorang petani dan menjadi ibu rumah tangga hingga ia menua. Tapi dari Uwanlah saya belajar tentang cinta sejati. Bagaimana dirinya membuat Aki (baca: kakek) saya mencintainya hingga napas terakhir. Saya melihat sendiri Aki memanggil namanya untuk terakhir kali sebelum ajal menjemputnya. Uwanlah orang yang terakhir yang namanya disebut saat nyawa Aki tercerabut dari raganya.

Halimah, sakit, Mah.”

Sepenggal kalimat terakhir itu selalu saya ingat saat Aki sakaratul maut. Uwan berada di sampingnya dan melihat wajah laki-laki yang selama ini mencintainya dan dia cintai meregang nyawa. Lalu pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya. Menjanda. Uwan tak pernah memutuskan untuk menikah lagi 11 tahun yang lalu. Karena Aki adalah cinta sejatinya.

Padahal saya tahu mereka menikah awalnya bukan karena mereka berdua pacaran. Seingat saya, Aki dari Jawai, jalan-jalan ke Pemangkat. Walaupun masih satu kabupaten tetapi Jawai dan Pemangkat dipisahkan laut. Waktu itu Uwan masih menjajakan kue. Umurnya masih belasan tahun. Aki terpikat pada pandangan pertama dan mengabarkan pada keluarganya untuk melamar sang perempuan, Uwan saya.

Uwan sebenarnya keberatan dengan perjodohan itu. Tetapi dia menurut saja saat dinikahkan dengan Aki. Keputusannya tak pernah salah. Karena Aki mencintainya, sangat mencintainya. Tak pernah sekalipun Aki melakukan tindak kekerasan pada Uwan, begitupun sebaliknya. Mereka sangat mencintai satu sama lain.

Uwanlah perempuan yang selama ini selalu percaya dengan semua keputusan saya. Menuliskan ini ternyata butuh waktu yang sedikit panjang karena air mata saya tak hentinya mengalir mengingat Uwan saya di kampung, di Jawai sana. Uwan kadang-kadang hanya bisa saya telpon untuk menanyakan kabarnya dan dia selalu mengucapkan kalimat yang sama.

Lakukan apa saja yang kamu suka di dalam hidupmu.”

Kepercayaan penuh yang dia berikan membuat saya menjadi diri saya yang sekarang. Dulu saat masih belajar menulis di lembaran kertas bekas yang saya jilid menjadi buku dia juga tak pernah melarang saya. Berbeda dengan Aki yang akan mengeluarkan omelannya saat melihat saya sibuk menulis dan lupa belajar yang lain. Aki pasti cemas dengan masa depan saya yang sekolah jarang mendapatkan prestasi. Ditambah lagi masih sekolah dasar sudah gila menulis dan tak mau belajar apa pun.


Beda dengan Uwan. Dia selalu mendukung apa pun yang saya lakukan. Dari Uwanlah saya belajar untuk ikhlas memberikan kepercayaan pada orang yang kita cintai. Karena sebuah kepercayaan yang diberikan dengan tulus dapat menyampaikan perasaan kita hingga menembus hati orang yang kita cintai.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes