Menulis Banyak Bukan Berarti Mengejar Kuantitas dan Melupakan Kualitas


Mungkin banyak yang berpikir tantangan yang ada di blog ini yang berdasarkan jumlah postingan lebih menitik beratkan pada kuantitas. Apakah memang betul hanya itu yang saya kejar?

Gambar dari Bloggichu

Menulis bagi saya tak lebih dari latihan untuk menuangkan ide yang ada di dalam kepala kita yang ingin kita sampaikan kepada orang lain, sejak blog ini baru lahir. Jika latihan menulis setiap hari satu postingan bisa meningkatkan kualitas tulisan kita, memperkaya kosakata, membuat kita lebih fokus, membuat kita berpikir lebih banyak, membuat kita memeras otak untuk menemukan ide, bagaimana dengan latihan yang ditingkatkan?

Bagaimana jika kita yang latihan menulis satu postingan sehari melecut diri kita dengan peningkatan dua kali lipat? Bulan berikutnya tiga kali lipat? Empat kali lipat? Bahkan ditingkatkan hingga dua belas kali lipat?

Apakah kita tidak ingin mencoba untuk menembus tembok yang membuat pembenaran tentang diri kita yang memiliki keterbatasan? Apakah kita akan terus menerima kenyataan yang kita buat sendiri, bahwa diri kita hanya mampu menulis satu postingan sehari, atau bahwa diri kita hanya bisa membuat satu postingan seminggu bahkan sebulan? Lalu ada pikiran lain lagi jika kita menulis postingan seminggu sekali isinya akan jauh lebih berkualitas dari orang yang menulis setiap hari? Bahkan berkali-kali dalam sehari.

Yakinkah kita dengan pendapat itu bahwa sesuatu yang dibuat dalam jangka waktu lebih lama jauh lebih baik dari yang dibuat dalam waktu singkat?

Gambar dari mahbubalbushr
Kemudian apakah memang latihan harus dibatasi sesuai ukuran yang menurut kita mampu? Bagaimana kita lompati saja tembok pembatas di dalam diri kita? Bahwa kita bisa melakukan berkali-kali lipat dari diri kita kemarin. Bahwa kita bisa mengalahkan diri kita yang sebelumnya dan membuat perbedaan di antara keduanya. Bahwa kita bisa lebih baik esok hari.

Berapa lama kita akan membuat pembenaran untuk membatasi diri sendiri melakukan hal yang sebenarnya bisa kita lalukan? Percayakah bahwa sebenarnya kemampuan yang kita gunakan sekarang hanya beberapa persen dari kemampuan yang ada di dalam diri kita?

Sekali lagi, latihan itu seperti mengasah pisau. Pisau manakah yang lebih tajam, yang diasah setiap hari, sekali seminggu, atau sekali dalam sebulan? Apakah kita bisa membuat pernyataan bahwa pisau yang diasah setiap hari dan bisa memotong cepat itu menghasilkan potongan yang jelek?

Memang setiap orang punya pendapat masing-masing.

Saya membuat postingan lebih banyak bukan karena ingin mengejar kuantitas tetapi sebaliknya karena ingin meningkatkan kualitasnya karena menulis adalah proses latihan tanpa henti. Jika latihan terlalu sedikit kapan saya akan berada ditingkatkan yang lebih dari hari sebelumnya?  
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes