18 April 2013

Let's Talk About Pontianak (8): Tempoyak

doc: tedyoktariansyah


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Suka durian? Tinggal di Kalimantan Barat dan tidak suka durian? Rugi serugi-ruginya. Soalnya buah yang satu ini selain bisa dimakan langsung saat sudah matang juga bisa dibuat berbagai panganan yang menggugah selera makan. Jika sebelumnya banyak yang baru tahu nanas bisa dijadikan pacri nanas dan enak untuk teman makan nasi, sekarang ada teman makan nasi yang bisa dibuat dari durian. Namanya tempoyak.

Untuk orang yang tidak menyukai durian pastinya sulit untuk menyukai tempoyak ini. Saya sendiri karena suka durian dan suka tempoyak, jadi ini menjadi menu favorit saya juga selain pacri nanas. Tempoyak masakan nenek yang dihadirkan dengan udang di dalamnya. Memasaknya juga semudah memasak cencalok. Rasanya manis, asam, asin, pedas, gurih, dan khas di rumah selalu ada udang di dalamnya.

Jadi tempoyak itu adalah daging durian yang difermentasi dengan garam. Dua tiga hari biasanya tempoyak sudah jadi. Khusus untuk orang yang tidak ingin tempoyaknya terlalu asam biasanya dua hari sudah langsung memasaknya. Saya sendiri tak pernah masalah dengan lama pembuatan tempoyaknya. Mau agak manis atau agak asam, saya sangat menyukai tempoyak.

Di beberapa daerah lain sepertinya tempoyak ini juga tersedia. Di tempat saya sendiri ada orang yang memasak tempoyak dengan udang, ikan, atau ikan teri. Bergantung selera. Berhubung sejak kecil sudah merasakan nikmatnya makan tempoyak udang ya paling suka tempoyak yang disajikan dengan udang. Apalagi jika udangnya agak besar seperti jempol kaki dan kulitnya dikupas. Soalnya kalau udangnya agak kecil nenek jarang mengupasnya.

doc: this1sblog
Memasaknya juga mudah. Nenek akan menumbuk beberapa buah cabai kering yang sebelumnya sudah direndam air panas. Ditumbuk dengan bawang merah dan putih. Lalu bumbu tersebut ditumis dengan sedikit minyak. Kemudian masukkan udang yang sudah dicuci dan dikupas bersih. Terakhir masukkan tempoyaknya. Apabila terlalu kental bisa ditambahkan sedikit air. Tidak perlu menambah garam karena tempoyak sendiri sudah mengandung garam yang digunakan untuk memfermentasikannya. Kalau suka bisa tambahkan sedikit gula. Seingat saya nenek jarang sih menambahkan gula apalagi garam. Paling sedikit air supaya tempoyaknya tidak terlalu kental dan mengering saat dimasak.

Tempoyak yang tadinya berwarna putih akan berubah menjadi sedikit oranye kemerahan karena diberi tumbukan cabai kering. Sekarang saya hanya butuh sepiring nasi panas untuk menyantap. Tanpa sayur pun bagi saya sudah cukup untuk makan siang.

Di rumah makan di Pontianak saya sendiri tak mengerti mengapa saya tak menemukan tempoyak yang disediakan secara rutin. Padahal tempoyak adalah makanan khas yang harusnya menjadi identitas lokal Kalimantan Barat. Jadi kalau mau makan tempoyak mau tidak mau harus beli tempoyak yang belum dimasak di pasar. Kemudian memasaknya sendiri di rumah.

doc: hmppikomsatunja
Kalau sedang musim durian tumpah-tumpahnya dan ingin membuat sendiri tempoyak sesuai selera kita. Beli durian sebanyak yang kita mau. Lalu ambil dagingnya. Campurkan garam sesuai selera. Lalu masukkan dalam wadah dan tutup rapat. Biarkan beberapa hari dan tempoyak sudah jadi. Tempoyak itu secara fisik mirip dengan saus atau selai. Tetapi cara makannya yang berbeda. Saat menuliskan ini saya sedang lapar-laparnya dan sudah lama tidak makan tempoyak. Oalah jadi semakin lapar. Sepertinya harus segera ditutup pembahasan makanan saat perut kerucukan begini. Tenang nanti saya akan hadirkan makanan khas Kalimantan Barat lainnya.

Di tempat teman-teman sendiri apakah ada tempoyak? Bagaimana cara memasaknya? Atau ada makanan serupa dengan nama yang berbeda?

Related Posts

Let's Talk About Pontianak (8): Tempoyak
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).