17 April 2013

Let's Talk About Pontianak (6): Cencalok


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.



Belum pernah dengar makanan yang satu ini? Tenang saya akan memperkenalkannya kepada teman-teman. Selain Pacri Nanas yang menjadi sayur favorit saya sejak kecil saya juga suka sekali dengan 'cencalok' (baca: cencalo'). Ini adalah udang rebon yang biasanya dibuat terasi tetapi difermentasi dengan garam dan didiamkan beberapa hari sehingga menjadi 'cencalok'. Nama aslinya di kampung saya bukan cencalok melainkan 'paddak (baca: padda')'. Suku Melayu, baik campuran seperti saya, atau yang benar-benar asli, dan lahir di Kalimantan Barat, rata-rata menyukai lauk yang satu ini.


Di kampung saya sendiri cencalok ini adalah lauk nikmat yang harganya sangat miring. Belinya juga tak perlu banyak karena sepiring cencalok sudah cukup untuk dimakan sekeluarga bersama sayur. Sayurnya biasanya lalapan atau daun ubi rebus saja. Di Pontianak sendiri tak banyak orang yang menjual cencalok karena memang lebih mudah ditemukan di daerah pesisir pantai utara. Desa saya sendiri memang terletak di dekat laut. Jadi makanan laut adalah sumber protein utama yang sering dikonsumsi warganya.


Buat penyuka udang, cencalok ini tentunya akan menjadi satu pilihan lain yang memberikan pengalaman yang berbeda saat disantap. Memasaknya juga sangat mudah. Eh tapi jangan salah, banyak juga orang yang mengonsumsinya tanpa memasaknya terlebih dahulu. Di kampung saya banyak juga yang suka dengan cencalok yang hanya diberi perasan jeruk sambal. Lalu diberi potongan cabai rawit. Kemudian siapkan nasi hangat satu piring.

Dulu waktu kecil saya sendiri memang susah diajak makan sayur. Suka pilih-pilih jenis sayuran. Saya kurang suka sawi. Paling gampang sih kasih semangkok pacri nanas. Tetapi kalo nenek habis manen sayur biasanya bayam atau daun katuk. Itu saya suka. Dimasak bening dan disajikan dengan semangkok cencalok dan nasi hangat. Saya akan diam dan makan dengan lahap. Tetapi seringnya cencalok hadir disaat kakek belum panen padi dan nenek uang belanjanya semakin menipis. Jadi kalo melihat cencalok di dalam piring, saya akan segera tahu, saat itu nenek lagi tak banyak uang.


Harganya memang sangat murah. Dulu dengan uang Rp1.000 rupiah sudah bisa mendapat sekantong cencalok yang warnanya merah jambu. Sekarang juga harganya masih murah, cuma sudah disesuaikan dengan nilai uang sekarang. Tetapi tentu saja kita bisa membuat sendiri cencalok di rumah jika ada yang menjual udang rebon. Ini jauh lebih hemat. Karena harga udang rebon bisa seperempat dari harga cencalok yang sudah siap masak.

Biasanya orang memborong udang rebon untuk dibuat terasi atau belacan. Nah kalo memang ingin mencoba memuat cencalok di rumah sangat mudah caranya. Campurkan garam kasar secukupnya, jangan terlalu banyak juga sih, ke dalam udang rebon yang telah dibersihkan. Lalu peram. Tunggu 3-4 hari jika memang ingin cencaloknya benar-benar difermentasi. Tetapi dua hari juga sudah bisa dikonsumsi.


Kalo cencaloknya sudah siap memasaknya juga hal yang sangat gampang. Bumbunya hanya bawang merah dan putih. Tumis bawang putih dan merah yang sudah diiris sesuai selera. Mau dicincang atau dipotong tipis tak ada masalah. Setelah bawangnya harum masukkan cencalok yang kita siapkan sebelumnya. Cencaloknya tak perlu dicuci atau diapa-apain lagi ya. Langsung tumis sebentar. Lima sampai enam menit saja memasaknya. Jangan sampai airnya kering dan cencaloknya hangus. Memang harus basah seperti itu. Jika suka bisa kasih potongan cabai rawit dan perasan jeruk sambal.


Biasanya dihari kecil kenduri pernikahan di kampung saya cencalok selalu disediakan untuk tamu yang mengantar ayam dan beras untuk keluarga yang sedang merayakan pernikahan anaknya. Besoknya baru makan besar, disebutnya hari besar, dan pengantin akan bersanding. Lauknya juga berbeda dengan hari kecil yang lauknya memang disediakan seadanya. Di kampung saya sendiri masih ada yang namanya 'pakatan'. Dihari pakatan itu warga akan turun tangan membantu keluarga pengantin untuk menyiapkan makanan dan 'tarup' di pernikahan yang akan diadakan. Jadi istilahnya gotong-royong gitu.




Tarup sendiri adalah bangunan sementara yang memanjang dan dibuat untuk pengantin yang bersanding dan tamu-tamu yang hadir untuk makan di hari besar. Termasuk akan ada acara dzikiran dan berdoa bersama. Lalu akan dimulai acara makan besaprah. Ada baiknya saya menjelaskan semuanya lebih detail di tulisan selanjutnya ya?

Related Posts

Let's Talk About Pontianak (6): Cencalok
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).