Let's Talk About Pontianak (10): Sungai Kapuas


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.



AE' KAPUAS
(air kapuas)
Hei sampan laju (Hei perahu laju)
Sampan laju dari ilir sampai ke ulu (perahu laju dari hilir sampai ke hulu)
Sungai Kapuas
Sunggoh panjang dari dolo' membelah kote (sungguh panjang dari dulu membelah kota)
Hei tak disangke (hei tidak disangka)
Tak disangke dolo' utan menjadi kote (tidak disangka dulu hutan menjadi kota)
Ramai pendudoknye (ramai penduduknya)
Pontianak name kotenye (Pontianak nama kotanya)
Sungai Kapuas punye cerite (sungai kapuas punya cerita)
Bile kite minom ae'nye (bila kita minum airnya)
Biar pon pegi jauh ke mane (biarpun pergi jauh ke mana)
Sunggoh susah na' ngelupakannye (sungguh susah untuk melupakannya)
Hei Kapuas (hei Kapuas)
Hei Kapuas (hei Kapuas)

Pernah mendengar lirik tersebut sebelumnya? Itu adalah lagu daerah yang ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Di mana Sungai Kapuas membentang dengan luas dan panjangnya. Siapa sih yang tidak tahu dengan Sungai Kapuas? Sungai terpanjang di Indonesia. Jadi Sungai Kapuas ini ada legendanya tersendiri. Hanya sekadar cerita atau pepatah gitu sih. Tapi itu sebenarnya berlakunya dulu. Waktu Sungai Kapuas masih jernih-jernihnya. Kalau sekarang siapa yang akan meminum air Sungai Kapuas yang buteknya tak ketulungan. Bahkan mengandung zat berbahaya.

Dulu ada anggapan dari masyarakat bahwa siapa pun yang datang ke Pontianak dan meminum air Sungai Kapuas pasti tak akan bisa melupakannya. Pontianak akan selalu dikenang dan ada keinginan untuk kembali lagi. Saya sendiri sih memang sudah nyaman di Pontianak. Bagi saya Pontianak adalah rumah saya. Meskipun saya lahir dan besar jauh di kampung halaman.


Sungai Kapuas yang dulu mungkin memang airnya sebegitu jernihnya sampai-sampai tercipta lagu seperti yang liriknya tertulis di atas. Sekarang warnanya kuning, kadang oranye, dan entah warna apalagi yang muncul di Sungai Kapuas. Tak ada lagi orang yang menggunakannya untuk minum atau memasak. Paling orang-orang yang tinggal di sekitar Sungai Kapuas menggunakan airnya untuk mandi dan mencuci. Tapi dapat dipastikan itu bukanlah sesuatu yang sehat untuk dijalankan. Belum lagi beragam sampah yang hilir mudik lewat di Sungai Kapuas. Padahal transportasi air masih sangat dibutuhkan.

Kapal pengangkut barang, pengangkut penumpang, kapal pengakut minyak, kapal penyebarangan, dan sampan-sampan nelayan sangat bergantung pada Sungai Kapuas ini. Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu saat sebuah kapal pengangkut semen karam dan menumpahkan semen yang dia bawa ke Sungai Kapuas. Semen yang awalnya berupa butiran kecil karena kena air akhirnya mengeras. Membentuk batuan semen yang keras dan berat.

Akibat yang paling buruk yang dirasakan semua orang adalah kapal pengangkut minyak kesulitan mengantar minyak hingga dermaga. Kapal tidak bisa masuk. Rasanya waktu itu hari demi hari berjalan sangat lambat. Antrian panjang di SPBU sudah dimulai sejak subuh. Banyak pengecer yang mengambil kesempatan dengan menimbun minyak. Berbagai cara dilakukan agar mereka mendapatkan BBM. Harga eceran di kios tidak tanggung-tanggung waktu itu. Sempat mencapai Rp30.000/liter. Saat BBM kritis harga eceran di kios yang normal kisarannya Rp8.000-10.000. Padahal mereka membeli dengan harga Rp4.500/liter. Tapi karena butuh mau tidak mau ya dibeli.

Supaya pasokan minyak tetap bisa masuk cara yang dilakukan benar-benar mempertaruhkan nyawa. Bagaimana tidak. Pemindahan minyak dilakukan di tengah Sungai Kapuas, di tempat kapal bisa masuk paling dekat dari dermaga. Itu pun masih jauh sebenarnya. Minyak yang seharusnya langsung disedot dari kapal dan diisikan ke mobil tangki harus melewati penyedotan lain di tengah air. Barulah minyak yang ditempatkan di wadah pengangkut pindah ke mobil tangki. Jadi dua kali kerja untuk mengeluarkan minyak dan mengangkutnya ke SPBU.

Setidaknya cara tersebut bisa mencukupi kebutuhan minyak warga meskipun antrian sedemikian panjangnya. Untungnya tidak perlu berbulan-bulan untuk mengosongkan jalur masuk di Sungai Kapuas yang menuju ke dermaga. Seingat saya dua minggu, kapal pengangkut semen yang tenggelam tersebut berhasil dipindahkan. Entah bagaimana caranya saya hanya bisa bernapas lega saat BBM tidak sulit untuk didapatkan seperti kemarin lagi.

Baru satu kapal pengangkut yang karam. Warga sudah panik. Tak terbayangkan jika ada penghalang lain yang lebih besar di Sungai Kapuas. Meskipun sekarang airnya sudah tak memungkin untuk diminum lagi. Tapi fungsinya sebagai jalur transportasi air masih memegang peranan utama.

Hei... Kapuas...
Hei... Kapuas...

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes